Repelita [Jakarta] - Direktur Rumah Politik Indonesia, Fernando Emas, melontarkan peringatan keras terkait risiko eskalasi gelombang unjuk rasa mahasiswa jika pemerintah terus abai terhadap tuntutan publik.
Ia secara khusus menyoroti wacana kemunculan gerakan Reformasi Jilid II yang kini mulai banyak diperbincangkan masyarakat luas di tengah ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah saat ini.
ADVERTISEMENT
Dalam keterangannya pada Jumat (12/6/2026), Fernando mendesak Presiden Prabowo Subianto agar lebih terbuka dalam mempertimbangkan setiap masukan konstruktif yang disampaikan oleh elemen mahasiswa.
“Seperti yang disuarakan Reformasi Jilid II itu sangat mungkin terjadi, apalagi kalau sampai Prabowo tidak melakukan evaluasi terhadap tim ekonominya,” ucap Fernando.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul aksi demonstrasi Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia yang membawa daftar tuntutan mendesak bagi kesejahteraan nasional.
Agenda utama mahasiswa dalam gerakan tersebut mencakup desakan penghentian program Makan Bergizi Gratis serta tuntutan nyata terkait penyesuaian harga bahan bakar minyak agar lebih terjangkau.
Langkah evaluasi terhadap jajaran kabinet ekonomi dinilai menjadi kunci utama bagi pemerintah untuk meredam tensi gerakan sosial yang berpotensi meluas di masa mendatang. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok