Repelita [Yogyakarta] - Rektor Universitas Islam Indonesia Fathul Wahid menyampaikan kritik tajam terhadap kondisi arah reformasi bangsa melalui sebuah karya sastra yang sarat akan pesan mendalam.
Karya puisi tersebut dibacakan secara langsung sebagai refleksi atas situasi sosiopolitik tanah air yang dinilai kian menjauh dari cita-cita luhur perjuangan perubahan demokrasi.
ADVERTISEMENT
Melalui bait-bait kalimat yang disusunnya, ia mengibaratkan jalannya roda pemerintahan republik ini layaknya sebuah kendaraan umum yang kehilangan fungsi kendali teknisnya.
Karya sastra tersebut disampaikan sebagai pembuka forum dialog kebangsaan yang berlangsung di lingkungan kampus terlama tanah air tersebut pada tanggal 19 Mei 2026.
"Katanya negeri ini sudah reformasi, ibarat sebuah bus, nama trayek diperbaharui, nomor bus dicat ulang, slogan ditempel besar-besar di badan kendaraan," ucap Fathul Wahid mengawali pembacaan puisinya.
Ia menggambarkan bahwa meski fasilitas fisik tampak mengalami pembaruan dan modernisasi, namun esensi kendali utama dari sistem kenegaraan justru mengalami kerusakan parah.
Masyarakat selaku penumpang terus dihadapkan pada pergantian pengemudi setiap lima tahun sekali, tanpa pernah mendapatkan kepastian arah tujuan perjalanan yang jelas dan aman.
Para elite politik dinilai hanya saling bertukar posisi kepemimpinan dan mempertahankan status quo, sementara hak asasi rakyat kecil kerap diabaikan di pinggiran jalan.
"Tetapi bus itu tetap berjalan tertatih, catnya memang baru, kursinya lebih empuk, ada pendingin udara, ada koneksi internet, tetapi remnya tetap blong dan setirnya selalu diperebutkan," tuturnya.
Ia juga menyentil perilaku para oligarki yang berada di kursi belakang, yang selalu menikmati keuntungan finansial tanpa peduli terhadap penderitaan para penumpang kelas bawah.
Sistem hukum di dalam kendaraan tersebut turut dikritik karena bersikap diskriminatif, di mana pintu keadilan terbuka otomatis bagi penguasa namun macet bagi masyarakat biasa.
Di akhir baitnya, ia mengingatkan bahaya keretakan sosial yang kian mendekat, di saat tanda-tanda kerusakan sistem kenegaraan sudah mulai dirasakan langsung oleh seluruh warga.
Republik Rem Blong
Oleh: Fathul Wahid
Katanya negeri ini sudah reformasi
Ibarat sebuah bus nama trayek diperbaharui
Nomor bus dicat ulang slogan ditempel besar-besar di badan kendaraan
Tetapi bus itu tetap berjalan tertatih
Catnya memang baru kursinya lebih empuk
Ada pendingin udara
Ada koneksi internet
Ada aplikasi pengaduan bahkan
Tetapi remnya tetap blong dan setirnya selalu diperebutkan
Setiap 5 tahun kita diminta memilih sopir baru
Sopir lama turun sambil melambaikan tangan
Lalu pindah kursi menjadi komisaris perusahaan transportasi
Sopir baru yang kadang kroni sopir lama naik membawa slogan perubahan
Pidatonya penuh kata-kata segar
Transformasi, hilirisasi, akselerasi, gentengisasi, keadilan sosial
Dan sesekali berteriak demi rakyat kecil
Rakyat kecil pun terharu meski tetap kecil
Bus melaju lagi lubang jalannya masih sama macetnya masih sama
Premannya kadang orang yang sama hanya warna jaketnya berbeda
Penumpang kaya duduk nyaman dekat AC selonjoran sambil minum kopi
Penumpang biasa berdiri sambil berpegangan tiang
Kadang berpegangan keyakinan kadang pada cicilan
Yang miskin diminta sabar karena katanya bus sedang menuju kemajuan
Yang kritis diminta sopan karena sopir mudah tersinggung
Yang protes terlalu keras disuruh turun di terminal berikutnya
Dan kalau tidak suka pindah saja ke bus lain
Sementara itu para oligark duduk di kursi paling belakang bermain kartu sambil tertawa terbahak-bahak
Mereka tidak selalu peduli siapa sopirnya karena merekalah pemilik bus sebenarnya
Kadang mereka bertengkar di televisi
Saling sindir, saling lapor, saling membuka dosa masa lalu
Tetapi setelah kamera mati mereka makan malam bersama
Dan tertawa lepas seperti reuni para bestie
Hukum di bus ini juga unik seperti pintu putar hotel mewah
Terbuka otomatis untuk yang punya kuasa tetapi macet untuk rakyat biasa
Copet recehan diproses cepat
Maling ban serep bus diproses hati-hati
Katanya demi asas praduga tak bersalah
Sambil lirik kiri kanan menghitung kemungkinan kolaborasi
Kadang penumpang ingin turun
Tetapi ongkos hidup terlalu mahal dan halte alternatif belum tentu ada
Maka sebagian memilih tidur
Sebagian pura-pura menikmati perjalanan
Sebagian lagi menjadi tukang sorak agar bisa duduk dekat colokan listrik sumber kehidupan
Bus tua itu terus mengangkut pidato, baliho, hasil survei, dan janji yang didaur ulang setiap musim pemilu
Sialnya para penumpang selalu tertipu
Tujuan bus tidak pernah benar-benar jelas
Namun kernet selalu berteriak, "Tenang Ibu Bapak, bus ini sedang menuju masa depan!"
Sementara bau kopling terbakar semakin terasa di bawah kursi sopir
Yogyakarta, 19 Mei 2026(*)
Editor: 91224 R-ID Elok