Berita, Nasional

Fathul Wahid Sindir Reformasi Lewat Puisi “Republik Rem Blong”: Sopir Berganti, Oligarki Tetap Berkuasa, Rakyat Terus Menumpang di Bus Demokrasi yang Kehilangan Arah

Repelita.net

22 May 2026 13:55 WIB • 899 view

Fathul Wahid Sindir Reformasi Lewat Puisi “Republik Rem Blong”: Sopir Berganti, Oligarki Tetap Berkuasa, Rakyat Terus Menumpang di Bus Demokrasi yang Kehilangan Arah
Foto: Istimewa

Repelita [Yogyakarta] - Rektor Universitas Islam Indonesia Fathul Wahid menyampaikan kritik tajam terhadap kondisi arah reformasi bangsa melalui sebuah karya sastra yang sarat akan pesan mendalam.

Karya puisi tersebut dibacakan secara langsung sebagai refleksi atas situasi sosiopolitik tanah air yang dinilai kian menjauh dari cita-cita luhur perjuangan perubahan demokrasi.

ADVERTISEMENT

Melalui bait-bait kalimat yang disusunnya, ia mengibaratkan jalannya roda pemerintahan republik ini layaknya sebuah kendaraan umum yang kehilangan fungsi kendali teknisnya.

Karya sastra tersebut disampaikan sebagai pembuka forum dialog kebangsaan yang berlangsung di lingkungan kampus terlama tanah air tersebut pada tanggal 19 Mei 2026.

"Katanya negeri ini sudah reformasi, ibarat sebuah bus, nama trayek diperbaharui, nomor bus dicat ulang, slogan ditempel besar-besar di badan kendaraan," ucap Fathul Wahid mengawali pembacaan puisinya.

Ia menggambarkan bahwa meski fasilitas fisik tampak mengalami pembaruan dan modernisasi, namun esensi kendali utama dari sistem kenegaraan justru mengalami kerusakan parah.

Masyarakat selaku penumpang terus dihadapkan pada pergantian pengemudi setiap lima tahun sekali, tanpa pernah mendapatkan kepastian arah tujuan perjalanan yang jelas dan aman.

Para elite politik dinilai hanya saling bertukar posisi kepemimpinan dan mempertahankan status quo, sementara hak asasi rakyat kecil kerap diabaikan di pinggiran jalan.

"Tetapi bus itu tetap berjalan tertatih, catnya memang baru, kursinya lebih empuk, ada pendingin udara, ada koneksi internet, tetapi remnya tetap blong dan setirnya selalu diperebutkan," tuturnya.

Ia juga menyentil perilaku para oligarki yang berada di kursi belakang, yang selalu menikmati keuntungan finansial tanpa peduli terhadap penderitaan para penumpang kelas bawah.

Sistem hukum di dalam kendaraan tersebut turut dikritik karena bersikap diskriminatif, di mana pintu keadilan terbuka otomatis bagi penguasa namun macet bagi masyarakat biasa.

Di akhir baitnya, ia mengingatkan bahaya keretakan sosial yang kian mendekat, di saat tanda-tanda kerusakan sistem kenegaraan sudah mulai dirasakan langsung oleh seluruh warga.

Republik Rem Blong

Oleh: Fathul Wahid

Katanya negeri ini sudah reformasi

Ibarat sebuah bus nama trayek diperbaharui

Nomor bus dicat ulang slogan ditempel besar-besar di badan kendaraan

Tetapi bus itu tetap berjalan tertatih

Catnya memang baru kursinya lebih empuk

Ada pendingin udara

Ada koneksi internet

Ada aplikasi pengaduan bahkan

Tetapi remnya tetap blong dan setirnya selalu diperebutkan

Setiap 5 tahun kita diminta memilih sopir baru

Sopir lama turun sambil melambaikan tangan

Lalu pindah kursi menjadi komisaris perusahaan transportasi

Sopir baru yang kadang kroni sopir lama naik membawa slogan perubahan

Pidatonya penuh kata-kata segar

Transformasi, hilirisasi, akselerasi, gentengisasi, keadilan sosial

Dan sesekali berteriak demi rakyat kecil

Rakyat kecil pun terharu meski tetap kecil

Bus melaju lagi lubang jalannya masih sama macetnya masih sama

Premannya kadang orang yang sama hanya warna jaketnya berbeda

Penumpang kaya duduk nyaman dekat AC selonjoran sambil minum kopi

Penumpang biasa berdiri sambil berpegangan tiang

Kadang berpegangan keyakinan kadang pada cicilan

Yang miskin diminta sabar karena katanya bus sedang menuju kemajuan

Yang kritis diminta sopan karena sopir mudah tersinggung

Yang protes terlalu keras disuruh turun di terminal berikutnya

Dan kalau tidak suka pindah saja ke bus lain

Sementara itu para oligark duduk di kursi paling belakang bermain kartu sambil tertawa terbahak-bahak

Mereka tidak selalu peduli siapa sopirnya karena merekalah pemilik bus sebenarnya

Kadang mereka bertengkar di televisi

Saling sindir, saling lapor, saling membuka dosa masa lalu

Tetapi setelah kamera mati mereka makan malam bersama

Dan tertawa lepas seperti reuni para bestie

Hukum di bus ini juga unik seperti pintu putar hotel mewah

Terbuka otomatis untuk yang punya kuasa tetapi macet untuk rakyat biasa

Copet recehan diproses cepat

Maling ban serep bus diproses hati-hati

Katanya demi asas praduga tak bersalah

Sambil lirik kiri kanan menghitung kemungkinan kolaborasi

Kadang penumpang ingin turun

Tetapi ongkos hidup terlalu mahal dan halte alternatif belum tentu ada

Maka sebagian memilih tidur

Sebagian pura-pura menikmati perjalanan

Sebagian lagi menjadi tukang sorak agar bisa duduk dekat colokan listrik sumber kehidupan

Bus tua itu terus mengangkut pidato, baliho, hasil survei, dan janji yang didaur ulang setiap musim pemilu

Sialnya para penumpang selalu tertipu

Tujuan bus tidak pernah benar-benar jelas

Namun kernet selalu berteriak, "Tenang Ibu Bapak, bus ini sedang menuju masa depan!"

Sementara bau kopling terbakar semakin terasa di bawah kursi sopir

Yogyakarta, 19 Mei 2026(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung