Berita, Internasional

Eks Menlu AS: Kebijakan Trump Serang Iran Itu Bunuh Diri Superpower, Nasib Presiden Di Ujung Tanduk?

Repelita.net

27 April 2026 21:18 WIB • 1,071 view

Eks Menlu AS: Kebijakan Trump Serang Iran Itu Bunuh Diri Superpower, Nasib Presiden Di Ujung Tanduk?
Foto: Istimewa

Repelita Washington - Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Wendy Sherman secara blak-blakan menyebut kebijakan pemerintahan Donald Trump yang memilih jalur militer melawan Iran sebagai sebuah tindakan bunuh diri kekuatan besar yang justru merugikan posisi global Amerika Serikat .

Dalam wawancara di program ABC This Week pada Sabtu (25/4/2026), Sherman mengkritik habis kebijakan yang dinilainya memperburuk situasi geopolitik dengan menguntungkan rival utama seperti Rusia dan China, sekaligus memperkuat posisi internal Iran .

ADVERTISEMENT

“Kita melihat kebuntuan antara Amerika dan Iran, ada perang ekonomi dan kebuntuan militer. Yang dibutuhkan sekarang adalah diplomasi yang benar-benar keras,” tegas Sherman di sela-sela konferensi pers .

Ia juga menegaskan bahwa penyelesaian konflik tidak bisa dicapai secara instan dan proses negosiasi dengan Iran memerlukan waktu panjang serta keterlibatan tim ahli yang kuat dan berpengalaman .

Sherman menilai kebijakan perang pilihan yang diambil Washington ini telah menempatkan sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk dan Eropa dalam posisi yang sangat sulit .

“Kita menciptakan situasi yang benar-benar bunuh diri superpower,” katanya mengkritisi langkah Trump yang dinilai gegabah .

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Richard Haass yang menyebut konflik ini sebagai perang pilihan yang keliru dan membandingkannya langsung dengan kegagalan strategis Amerika di Vietnam .

“Secara militer kita menang dalam hitungan sempit, tapi secara strategis kita kalah. Ini mengulang kesalahan yang sama seperti di Vietnam,” ujar Haass .

Lebih lanjut Sherman menyoroti meningkatnya pengaruh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) dalam politik domestik Iran sebagai dampak tak terduga dari kebijakan perang ini .

Ia menilai kelompok garis keras Iran kini semakin dominan dalam menentukan arah kebijakan negara tersebut, sesuatu yang seharusnya bisa dicegah melalui diplomasi .

Menurut Sherman, satu-satunya jalan keluar dari kebuntuan saat ini adalah melalui diplomasi yang sungguh-sungguh termasuk kemungkinan pelonggaran blokade dan langkah-langkah deeskalasi sebagai awal menuju kesepakatan bersama .

Sementara itu, posisi Donald Trump sendiri semakin terlihat di ujung tanduk karena upayanya untuk membujuk Iran kembali ke meja perundingan terus mengalami kegagalan .

Trump sebelumnya telah mengumumkan gencatan senjata secara sepihak tanpa batas waktu, namun pihak Teheran justru menegaskan bahwa mereka tidak pernah meminta gencatan senjata sama sekali .

Iran bahkan menilai pernyataan gencatan senjata sepihak tersebut adalah bukti nyata bahwa Amerika Serikat telah kalah di medan perang .

Mantan Menteri Luar Negeri AS John Kerry sebelumnya juga memperingatkan bahwa penanganan perang oleh Trump dapat memicu konsekuensi ekonomi global yang lebih parah dari apa pun yang pernah kita hadapi .

Kerry menyebut gencatan senjata yang rapuh saat ini sebagai “loosey-goosey” atau sangat lemah, terutama karena Selat Hormuz kini berada di bawah kendali Iran .

“Ancaman terhadap ekonomi global dari langkah-langkah selanjutnya yang memperpanjang perang ini sungguh mengerikan untuk dipikirkan,” ujar Kerry .

Kerry juga menegaskan bahwa Iran tidak pernah menjadi ancaman langsung sebelum perang pecah, sebagian berkat kesepakatan nuklir 2015 yang justru ditinggalkan Trump pada tahun 2017 .

“Tidak, tidak ada ancaman langsung. Ancaman langsung akan terjadi dalam satu atau dua hari, tiga hari, seminggu, mungkin sebulan. Tapi Iran tidak memiliki kapasitas untuk membuat senjata nuklir pada titik waktu ini,” tegas Kerry .

Kerry juga mengungkapkan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah lama mendorong agar AS menyerang Iran, sesuatu yang sebelumnya ditolak oleh Presiden Barack Obama dan Joe Biden .

“Dalam kasus ini, Anda memiliki perang yang pada dasarnya memenuhi impian lama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk melakukan sebanyak mungkin kerusakan pada Iran,” kata Kerry .

Ketika pasukan terjebak dalam kebuntuan di medan perang dan Trump menghadapi tekanan domestik yang semakin berat, posisi presiden AS yang dikenal dengan sesumbar “kita pegang semua kartu” ini benar-benar berada di ujung tanduk.

Dengan harga bensin yang melonjak, pemilihan paruh waktu yang semakin dekat, dan kritik dari mantan pejabat tinggi negaranya sendiri, nasib Trump di tengah perang pilihan ini kian tidak menentu .

Kerry memperingatkan adanya kesenjangan strategis dalam kepemimpinan dan diplomasi AS, serta mempertanyakan kemampuan Washington untuk mengelola negosiasi di tengah persepsi global yang melemahkan upaya perdamaian .(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung