Repelita [Jakarta] - Wacana mengenai peluang Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk menduduki kursi kepresidenan sebelum berakhirnya periode kepemimpinan 2029 kembali menjadi sorotan publik.
Spekulasi ini mencuat usai praktisi intelijen Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra memaparkan analisisnya terkait potensi Presiden Prabowo Subianto menanggalkan jabatannya.
ADVERTISEMENT
Dalam sebuah pembahasan di kanal YouTube 2045 TV, Radjasa menyebutkan adanya skenario yang memungkinkan Gibran secara otomatis naik posisi apabila Presiden memutuskan untuk mengundurkan diri.
Ia berpandangan bahwa gelombang desakan masyarakat serta dinamika politik nasional dapat menjadi faktor pendorong timbulnya keputusan tersebut.
"Yang kita khawatirkan nanti ketika terjadi gonjang-ganjing mulai Agustus dan seterusnya, bisa saja Presiden mengundurkan diri karena desakan publik. Kalau itu terjadi, yang jadi Presiden ya Wakil Presiden," ujar Radjasa.
Di samping tekanan publik, faktor kondisi fisik dan kebugaran Prabowo juga dinilainya patut mendapatkan perhatian serius dalam mengamati konstelasi politik ke depan.
"Sesungguhnya kondisi kesehatan Prabowo juga enggak baik-baik saja. Itu juga menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan," katanya.
Kendati demikian, ia memberikan catatan bahwa tindakan pengunduran diri sukarela memiliki perbedaan mendasar dengan prosedur pemakzulan formal.
"Kalau Presiden mengundurkan diri itu beda dengan dimakzulkan. Itu dua hal yang berbeda," ucapnya.
Sesuai norma hukum yang termaktub dalam Pasal 8 ayat (1) UUD 1945, Wakil Presiden secara otomatis mengambil alih kepemimpinan nasional hingga akhir masa jabatan jika Presiden mangkat, berhenti, mengundurkan diri, atau berhalangan tetap.
Sebelum munculnya analisis tersebut, isu mengenai pembagian masa jabatan kepresidenan juga sempat dilontarkan oleh pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie pada awal 2024.
Connie mengaku pernah memperoleh informasi dari Ketua Tim Kampanye Nasional Prabowo-Gibran, Rosan Roeslani, mengenai skenario kepemimpinan Prabowo yang diklaim hanya berjalan dua tahun sebelum diteruskan oleh Gibran.
"Saya tanya, Pak Prabowo nanti jadi presiden berapa lama? Saya mendapat cerita rencananya dua tahun, lalu tiga tahun berikutnya diikuti Gibran," kata Connie.
Pernyataan tersebut langsung mendapat bantahan keras dari Rosan Roeslani yang menegaskan bahwa dirinya tidak pernah membeberkan skenario sebagaimana diperbincangkan.
Rosan justru mengklarifikasi bahwa narasi mengenai batasan waktu dua tahun tersebut pertama kali diutarakan oleh pihak Connie sendiri dalam diskusi mereka.
"Pernyataan yang dua tahun itu bukan datang dari saya. Justru Bu Connie yang mengatakan, bagaimana kalau setelah dua tahun atau misalnya Pak Prabowo diracun. Saya langsung bilang, jangan bicara seperti itu, itu tidak pantas," kata Rosan.
Hingga kini tidak ada keterangan resmi dari pihak Istana maupun Presiden Prabowo Subianto yang mengonfirmasi adanya skenario pengunduran diri atau peralihan kekuasaan sebelum periode 2029 usai.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok