Repelita Jakarta - Rentetan kerusuhan massal penonton kompetisi siaran kulit bundar tanah air yang meletus di bumi cenderawasih serta bumi borneo timur seketika memicu alarm kewaspadaan tinggi dari kalangan parlemen senayan.
Kondisi keamanan stadion yang terus bergejolak membuat jajaran legislatif mendesak otoritas kementerian olahraga untuk segera mengambil tindakan evaluasi radikal terhadap fungsionaris federasi tertinggi bentukan menteri bumn.
ADVERTISEMENT
Melalui saluran akun resmi instagram.com milik sebuah kantor berita nasional yang dipublikasikan pada tanggal sebelas Mei dua ribu dua puluh enam, desakan tegas disuarakan oleh pimpinan Komisi Sepuluh.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani melayangkan nota protes keras atas stagnasi sistem pengamanan arena olahraga dengan menyatakan “Kemenpora harus mengevaluasi pengurus PSSI, kalau ternyata kepengurusan hari ini dianggap tidak mampu menuntaskan persoalan sepak bola Indonesia,”.
Unggahan digital tersebut seketika diserbu oleh ribuan komentar tajam dari masyarakat siber yang merasa gerah atas kegagalan sistematis tata kelola iklim olahraga nasional.
Seorang pengguna media sosial dengan alamat identitas digital @anrptra menumpahkan sindiran getirnya melalui sebuah kalimat pendek berbunyi “Tolong Pak Erik, hukum Pak Tohir,”.
Kritik sosiologis mengenai kualitas pemikiran para pelaku anarkisme di lapangan juga turut diutarakan oleh akun @ganezgraff yang menuliskan tanggapan sinis berbunyi “Yg di Evaluasi Suporternya masih SDM minimum,”.
Sentimen ketidakpercayaan terhadap netralitas kepemimpinan puncak organisasi sepak bola kian dipertegas oleh tudingan dari akun @dudung_gentong yang mengetik kalimat “Katanya ketua pssi masa follow akun cuma persib dan persis solo wkwkwkwkkwkwkw. Papih papih,”.
Kekecewaan netizen mengenai adanya benturan peran ganda birokrat yang dianggap mencederai nilai sportivitas juga disuarakan secara gamblang oleh akun @tjdrnsel6no11b lewat pernyataan “Konflik kepentingan gak sehat justru dinormalisasi terus sama pejabat negara,”.
Sebelumnya internal pengurus pusat telah menyatakan kesiapan penuh untuk menjatuhkan sanksi disiplin berat demi menghindari jatuhnya vonis pembekuan dari lembaga sepak bola internasional.
Sekretaris Jenderal PSSI Yunus Nusi menegaskan posisi rawan federasi di mata dunia akibat catatan hitam tragedi kemanusiaan masa lalu melalui penutupan pernyataan resmi berbunyi “Ini tentu menggores perjalanan sepak bola kita, karena kita juga tahu hingga saat ini sepak bola kita masih dimonitor oleh FIFA. PSSI berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi,”.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok