Repelita Jakarta - Doktor Syahganda Nainggolan, Ketua Dewan Direktur Great Institute, menilai pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa dari posisi Menteri Keuangan oleh Presiden Prabowo Subianto bukan dilandasi ketidaksukaan pribadi.
Pernyataan itu disampaikan Syahganda dalam podcast Madilog yang ditayangkan kanal YouTube Forum Keadilan TV bersama host Darmawan Sepriyossa.
ADVERTISEMENT
Menurut Syahganda, Purbaya telah berhasil menjalankan tugas membongkar pihak-pihak yang serakah serta praktik korupsi di lingkungan terkait.
Setelah target tersebut tercapai, Presiden Prabowo membutuhkan suasana yang lebih tenang dalam pemerintahan.
Oleh sebab itu, Suahasil Nazara dipilih sebagai pengganti Purbaya di Kementerian Keuangan.
Syahganda mengungkapkan bahwa saat masih menjabat, Purbaya sempat berkeinginan mengganti dua direktur jenderal, salah satunya Djaka Budhi Utama.
Ia menceritakan, “Saya menerima kabar bahwa satu hari sebelum keberangkatan Pak Prabowo ke Mumbai, Pak Purbaya datang ke Hambalang dan meminta Pak Prabowo mengusulkan penggantian dua dirjen itu.”
Di sisi lain, menurut informasi yang diterima Syahganda, dua pejabat tersebut, terutama Direktur Jenderal Bea dan Cukai, juga secara tegas meminta Presiden mengganti Purbaya sebelum keberangkatan ke Mumbai.
Syahganda menegaskan bahwa Prabowo tidak memberikan penilaian negatif terhadap Purbaya.
“Pak Prabowo tidak memberikan penilaian negatif kepada Pak Purbaya. Masih mungkin dipanggil kembali,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa posisi yang dirasa cocok bagi Purbaya adalah di Bank Indonesia sebagai gubernur bank sentral.
Syahganda memandang Purbaya sebagai sosok yang bekerja di dalam institusi, bukan tipe politisi yang mengandalkan pencitraan.
Oleh karena itu, apabila Presiden kelak memanggilnya kembali untuk tugas yang sesuai, kemungkinan besar Purbaya akan menerima.
Dalam paparannya, Syahganda juga menguraikan enam spektrum ancaman yang dihadapi Purbaya selama menjabat, mulai dari benturan dengan kekuatan global seperti IMF dan Bank Dunia, oligarki hitam, pemerintah daerah, konflik internal, kelompok neoliberal, hingga persaingan menuju 2029.
Meski demikian, loyalitas Purbaya terhadap Presiden disebut sangat tinggi sehingga setiap arahan langsung dieksekusi tanpa banyak pertimbangan dampak.
Syahganda menekankan bahwa pencopotan itu justru menandai keberhasilan Purbaya dalam menjalankan misi yang diberikan.
Kini, ruang terbuka masih ada bagi Purbaya untuk kembali mengabdi di pos yang tepat sesuai keahliannya di bidang keuangan dan moneter.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok