Berita, Viral Sosmed

Dokter Tifa: Termul Cuma TOA, Hidup Jalan di Tempat

Repelita.net

09 May 2026 15:18 WIB • 686 view

Dokter Tifa: Termul Cuma TOA, Hidup Jalan di Tempat
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Dokter Tifa kembali melontarkan kritik pedas melalui akun media sosialnya pada 8 Mei 2026, kali ini menyasar para pembela setia ijazah Presiden Jokowi yang ia sebut sebagai "Termul".

Dalam unggahan panjangnya, ia mengaku telah mengamati selama setahun penuh perilaku kelompok yang merasa paling depan membela sang presiden seolah hidup mati mereka bergantung pada pembelaan tersebut.

ADVERTISEMENT

Mereka pikir: loyalitas = imbalan. teriakan = kenaikan kelas. kedekatan = perubahan nasib. Tapi realitasnya?

Tidak ada yang berubah. Ekonomi tetap. Status sosial tetap. Hidup? jalan di tempat.

Dokter Tifa bahkan menyebutkan sebuah pengalaman pribadi saat bertemu dengan salah seorang pembela yang paling vokal dan kerap tampil di berbagai kesempatan layaknya ahli segala bidang.

Bahkan satu yang paling vokal, paling sering tampil, paling “die hard” yang kalau bicara sudah seperti Ahli segala bidang, satu ketika saya temui, mobilnya mobil tua. Bertahun-tahun jadi termul, tak ada yang berubah.

Maaf ya termul. Mobil untuk kalian seharusnya bukan sekadar kendaraan. Itu simbol. Simbol bahwa yang kalian kejar, harta, jabatan, tidak pernah benar-benar kalian bisa dapatkan.

Ia kemudian menyoroti kesalahan fundamental kelompok tersebut dalam memahami mekanisme kekuasaan yang sesungguhnya.

INI MASALAHNYA: KALIAN SALAH MEMAHAMI KEKUASAAN! Kalian kira kekuasaan itu seperti air hujan, turun ke semua yang berdiri di bawahnya. Padahal tidak.

Kekuasaan itu seperti cahaya senter: hanya menyinari segelintir titik. Sisanya? Gelap. Yang naik itu: elite. inner circle. pemilik modal. pengendali sistem.

Dokter Tifa menegaskan bahwa tampil di media atau bolak-balik ke Solo tidak serta merta membuat seseorang memiliki akses dan kuasa yang sesungguhnya.

Bukan kalian yang hanya berteriak di luar pagar. Muncul di media bukan berarti punya kuasa. Dekat dengan Jokowi, bolak-balik ke Solo bukan berarti dekat secara realitas.

Ia memaparkan bahwa kelompok tersebut hanya memiliki suara, namun tanpa akses, aset, dan pengaruh nyata sehingga posisi mereka hanya sebatas pengeras suara belaka.

Kalian punya satu hal: suara. Tapi tidak punya: akses. aset. pengaruh nyata. Dan tanpa itu, kalian bukan pemain. Kalian hanya TOA alias pengeras suara.

Dokter Tifa juga mengungkapkan ironi bahwa mereka yang paling loyal justru kerap menjadi pihak yang paling mudah dilupakan dan tidak pernah mendapatkan tempat.

INI YANG PALING MENYAKITKAN. Yang paling loyal, seringkali yang paling tidak diangkat. Yang paling keras membela, justru yang paling mudah dilupakan.

Kalian habiskan waktu, energi, bahkan HARGA DIRI untuk sesuatu yang tidak pernah dirancang untuk mengangkat kalian, tulisnya dengan nada keras.

Ia pun menyerukan agar kelompok tersebut "bangun" dan mengubah strategi hidup dari sekadar menjadi pembela, buzzer, atau penjilat kekuasaan.

BANGUN! Kalau kalian ingin hidup berubah, jalannya bukan: menjadi pembela. bukan menjadi buzzer. bukan menjadi penjilat kekuasaan. bukan menghinakan diri menjadi Termul.

Tapi menjadi: pemilik nilai. pemilik skill. pemilik aset. pemilik posisi tawar. Tanpa itu, sekeras apapun kalian berteriak, hidup kalian tetap sunyi.

Menurutnya, persoalan ini bukan tentang siapa penguasa atau tentang Joko Widodo, melainkan tentang kebodohan kolektif dalam memahami relasi dengan kekuasaan.

KESIMPULAN PALING TELAK. Ini bukan soal siapa penguasa. Bukan soal Joko Widodo atau siapa pun. Ini soal satu KEBODOHAN KOLEKTIF: berharap hidup berubah hanya karena berdiri dekat dengan kekuasaan. Padahal kenyataannya: kalian tidak pernah benar-benar dekat.

Ia menutup cuitannya dengan sebuah prediksi bahwa sejarah kelak akan mencatat siapa yang benar-benar membangun kekuatan, bukan sekadar yang paling keras berteriak.

DAN PADA AKHIRNYA… Sejarah akan mencatat: bukan siapa yang paling keras berteriak, tapi siapa yang benar-benar membangun kekuatan.

Dan saat itu tiba, banyak dari kalian akan sadar kalian hanya jadi Uang recehan dalam kaleng yang kalau jatuh bunyinya KROMPYAANG. Yang naik pesawat jet pribadi Tetap Kaesang.

Pernyataan kontroversial tersebut segera memicu gelombang reaksi dari berbagai warganet yang setuju maupun menentang keras argumen Dokter Tifa.

Akun @ningtias_r92071 mengungkapkan kekecewaannya yang lama terpendam dengan menulis, “Mereka cuma para penjilat jokowi. Sy jg dl pendukung jokowi, karena ada harapan membangun NKRI, tp sy sadar dr awal lihat Ijazah yg di tampilkan Dian sandi itu bukan foto jokowi, ,285 juta penduduk Indonesia 🇮🇩 di bohongi, di bodohi,,para penjilat jokowi yg hilang logika.”

Sementara itu, akun @morzaken menuliskan cuitan bernada ancaman hukum pada 8 Mei 2026, “Mereka belom dibayar karena pekerjaannya yg soal ijazah belom selesai, sementara lu DUIT DARI BOHIR BELOM CARI DAN BENTAR LAGI MASUK PENJARA 🤣🤣🤣.”

Sebaliknya, akun @jovankafelroza justru memperingatkan Dokter Tifa dengan nada emosional, “Gak sabar liat ente disidang,, org kaya km layak dipenjara,parah banget cuitan anda dari dulu selalu menghina jokowi,sadar diri kau.”

Akun @Anggian90875945 juga ikut menyindir dengan pernyataan, “Ada yg komen bayarannya sesudah kasus selesai.. Kapan selesainya wong ijazah nya aja gak ada koplak termul.”

Doa dukungan justru datang dari akun @AjaySaelan yang menulis, “Semoga lancar ya Bu sidangnya nanti. Semoga terbongkar semua kepalsuan.”

Akun @DaddyS69572 memberikan komentar bernada sindiran halus sekaligus kritik, “Gila bener ..nasehat kehidupan dari ibu dokter ini.., tapi sebaiknya kediri sendiri dulu ya bukan ke org lain,, Maaf bu.., ada sisa nasi diujung bibir..🤭.”

Sementara itu, akun @ndaru_light dengan sarkastis menulis, “Setelah pak @jokowi lihat x ini, pasti langsung kasih mobil baru buat para pejuangnya… Terimakasih Bu dr sdh mengingatkan beliau. 👍.”

Akun @edisutoto38 mencoba menganalisis dampak psikologis dari perilaku termul dengan pernyataan, “Bener juga ya dok… Mereka sama saja menghancurkan dia dan keluarga nya sendiri dong ya.. Serem ya.. ibarat kata orang Doeloe duit setan di makan JIN kali ya..🤔🫣.”

Sebaliknya, akun @sinau1945 meragukan durasi pengamatan yang diklaim Dokter Tifa dengan menulis, “ahh..masak baru 1 tahun ? sepertinya kampanye menyebut orang lain 'Ternak (hewan)' itu sudah lamaaa.. disemburkan kuat,berulang,terduplikasi,teramplifikasi bertahun2 sdh.gada perubahan,tobat/malu ke anak2 menghewan-kan orang jadi nafasnya #LihatEndingnya.”

Akun @wank37 memberikan komentar meremehkan dengan pernyataan, “Kan bagi kelompok termul yg penting tiap hari masih bisa makan nasi bungkus gratis itu sudah lebih cukup bagi mereka 🤭.”

Pernyataan bernada kebingungan dilontarkan akun @zindanzen, “lho.. saya Kira uda pada punya Mobil ESEMKA semia para termul.”

Akun @DitriRizki_D3 melontarkan spekulasi bahwa kondisi kere yang tampak hanyalah strategi belaka, “Musti cek norek mereka…atau cek kondisi keluarga mereka, rumah mrk…. Mungkin mrk “terlihat kere” sbg Tameng saja…”

Akun @ajegilelu1 mencoba meramalkan konsekuensi hukum jika kasus ini berlanjut ke persidangan, “Kalau laporan Jokowi di Polda Metro Jaya lanjut ke persidangan namun dia kopig tidak menunjukkan ijazahnya, maka berlakulah pasal menyembunyikan barang bukti. Dan, dayang²nya itu tentu saja dijerat dengan pasal penyertaan.”

Akun @ErickFrontier1 mengeluarkan pernyataan keras, “Sebenarnya Mereka org2 yg paling hina, dibalik kebanggaan Mereka merasa deket dgn mantan Penguasa.”

Terakhir, akun @dogelongelon memberikan bantahan terhadap asumsi Dokter Tifa tentang aset para termul, “asetnya mereka banyak bu dokter..sengaja pake mobil butut biar ga rame dan mencolok..masak gitu aja ga paham bu dokter Tifa.”(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung