Berita, Viral Sosmed

Debat Panas Utang IMF: Eko Widodo Sebut Ekonomi Resilien, Netizen Kritisi Akuntansi Selektif Pemerintah

Repelita.net

10 May 2026 12:59 WIB • 683 view

Debat Panas Utang IMF: Eko Widodo Sebut Ekonomi Resilien, Netizen Kritisi Akuntansi Selektif Pemerintah
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Gelombang diskusi hangat mengenai kondisi finansial negara tengah membanjiri lini masa media sosial setelah munculnya pandangan kontras terkait tawaran pinjaman dari Dana Moneter Internasional atau IMF.

Melalui unggahan di akun x.com pada 10 Mei 2026, Eko Widodo memberikan pembelaan keras terhadap fundamental ekonomi nasional dengan menyatakan, "Celios nyoros banget, IMF justru menawarkan utang karena tau ekonomi Indonesia sedang baik mana ada bank menawarkan utang ke kreditur yang mau bangkrut!!"

ADVERTISEMENT

Pernyataan tersebut merespons kekhawatiran dari lembaga Celios yang memprediksi adanya potensi krisis hebat, kondisi kas yang mencekik, hingga spekulasi kembalinya kontrol ketat IMF seperti peristiwa kelam pada tahun 1998 silam.

Namun, Eko merujuk pada data Article IV Consultation IMF periode 2025-2026 yang justru menunjukkan risiko utang negara masih dalam kategori rendah dengan rasio utang publik di kisaran 40 persen dari Produk Domestik Bruto.

Dalam cuitannya tersebut, ia menegaskan bahwa indikator ekonomi seperti defisit fiskal dan transaksi berjalan masih sangat terkendali, sehingga ia menambahkan, "Mana ada "bank" (IMF) nawarin duit gede-gedean ke negara yang "mau bangkrut"? Justru sebaliknya IMF nawarin karena liat Indonesia resilient, buffer kuat & gak perlu bailout"

Tudingan adanya agenda tertentu di balik isu krisis ini juga dilemparkan oleh Eko yang menganggap pemerintah saat ini memiliki posisi tawar yang cukup tinggi untuk menolak pinjaman global yang dianggap tidak perlu.

Klaim tersebut kemudian mendapatkan berbagai reaksi dari pengguna internet lainnya, termasuk akun x.com yang pada 10 Mei 2026 memberikan perbandingan menggelitik mengenai kondisi utang di negara tetangga dengan menuliskan, "Hahahaha Singapura berhutang 120% dari gdp rakyat nya gak ada yg sewot 🤣🤣"

Kritik pedas juga datang dari akun x.com pada tanggal yang sama, di mana ia menyindir kurangnya pemahaman pihak tertentu dalam melihat strategi manajemen jasa publik dengan berkomentar, "Berarti kau ini gak paham marketing jasa publik, tapi banyak omon-omon."

Kendati demikian, narasi mengenai keamanan utang di angka 40 persen GDP tersebut tidak diterima begitu saja oleh semua pihak karena dianggap belum mencakup gambaran utang secara menyeluruh.

Melalui akun x.com pada 10 Mei 2026, Dimas memberikan edukasi pembanding mengenai risiko kewajiban kontinjensi pemerintah yang seringkali luput dari pengawasan publik di luar angka utang pusat.

Ia memberikan argumen teknis yang cukup tajam dengan menyatakan, "Sovereign debt 40% GDP kedengeran aman , tapi itu cuma utang pusat. Masukin utang PLN, Pertamina, BUMN lain + contingent liability pemerintah , totalnya bisa mentok 50-60% GDP. Lo jualan angka 40% ke publik tanpa konteks itu namanya akuntansi selektif, bukan analisis."

Di tengah perdebatan data makro tersebut, muncul pula ajakan dari masyarakat akar rumput yang menekankan pentingnya kontribusi nyata melalui sektor riil untuk menjaga kedaulatan ekonomi nasional.

Melalui unggahan pada 10 Mei 2026, akun x.com_ menyampaikan aspirasinya agar semua pihak lebih fokus pada kerja produktif di sektor industri dengan menyatakan, "Kenap ya, mereka ga coba kerja di pabrik aja gitu, gpp capek sedikit juga ya gpp .. namnya juga org kerja. Yg penting bisa ikut bantu² negara, agar negara kita ini terjerumus ke dalam utang."(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung