Repelita Tel Aviv - Media Israel kini mulai mengakui kondisi negaranya yang sebenarnya setelah sempat ditutup-tutupi dari publik, dengan saluran televisi terkemuka Channel 13 mengungkap bahwa Negeri Zionis tersebut mengalami keruntuhan di berbagai sektor sejak perang melawan Iran dan sekutunya pecah pada 28 Februari 2026.
Laporan yang menghebohkan publik Israel itu menyebut bahwa kondisi negara kini jauh dari kata baik, dengan semua lini dari medan perang hingga dapur ekonomi digambarkan berada dalam tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
ADVERTISEMENT
Channel 13 dengan tegas menyebut bahwa 'Rencana 6 bulan' yang digembar-gemborkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tidak lebih dari sekadar fiksi belaka.
Korban jiwa terus berjatuhan di pihak Israel, dengan data militer yang dirilis pada Senin (6/4) menyebut sebanyak 11 tentara tewas dan 375 lainnya terluka sejak perang dimulai.
Militer Israel menyatakan di situs webnya bahwa 27 dari korban luka berada dalam kondisi serius, sementara 56 lainnya mengalami luka sedang.
Angka ini menunjukkan bahwa intensitas pertempuran di berbagai front melawan Iran, Hizbullah di Lebanon, dan Houthi di Yaman sangatlah tinggi.
Laporan Channel 13 mengindikasikan bahwa militer Israel mulai menguras sumber daya secara ekstrem, dengan persediaan amunisi dan rudal pencegat yang mulai menipis.
"Kami tidak bisa terus seperti ini," ujar seorang sumber militer senior Israel yang enggan disebutkan namanya kepada Channel 13.
Salah satu sektor yang paling parah terdampak adalah penerbangan, di mana Channel 13 melaporkan penurunan hingga 80 persen.
Bandara Internasional Ben Gurion yang biasanya menjadi gerbang utama bagi wisatawan dan pebisnis internasional kini nyaris sepi.
Sebagian besar maskapai asing telah menghentikan sementara penerbangan ke Tel Aviv karena risiko keamanan yang tinggi.
Tak hanya itu, sistem layanan kesehatan Israel yang selama ini diakui sebagai salah satu yang terbaik di dunia kini berada di bawah tekanan luar biasa.
Rumah sakit-rumah sakit di wilayah utara dan pusat kewalahan menangani korban luka dari serangan roket dan rudal.
"Kami beroperasi di ruang bawah tanah dan tempat parkir yang dialihfungsikan menjadi ruang gawat darurat," kata seorang dokter di rumah sakit Rambam, Haifa, dalam wawancara dengan Channel 13.
Sektor energi Israel mulai goyah karena serangan rudal dari Iran dan Hizbullah yang menargetkan sejumlah infrastruktur vital, termasuk kilang minyak dan pembangkit listrik.
Laporan Channel 13 juga menyebut bahwa pemadaman listrik bergilir mulai diberlakukan di beberapa wilayah untuk menghemat energi.
Dampak perang juga telah memicu krisis sosial, dengan Channel 13 melaporkan bahwa para guru di sejumlah kota besar Israel mulai melakukan mogok kerja.
Mereka menuntut jaminan keselamatan bagi siswa dan staf pengajar, serta kompensasi yang layak di tengah kondisi perang, sehingga banyak sekolah terpaksa ditutup.
Layanan kereta ringan di sejumlah kota seperti Yerusalem dan Tel Aviv juga dihentikan operasinya karena kekurangan awak dan infrastruktur rel yang dinilai rawan serangan.
Warga Israel kini mengandalkan kendaraan pribadi dan bus yang jumlahnya terbatas untuk mobilitas sehari-hari.
Kondisi paling mengkhawatirkan datang dari sektor fiskal, di mana Channel 13 menyebut bahwa ekonomi Israel kini menjadi "cangkang kosong" yang mengindikasikan aktivitas ekonomi riil hampir lumpuh total.
"Bantuan keuangan tidak mungkin diberikan," tulis Channel 13 merujuk pada ketidakmampuan pemerintah menyalurkan stimulus di tengah kondisi ini.
Anggaran negara untuk tahun 2026 dikabarkan gagal disahkan oleh Knesset, dengan perselisihan politik antara koalisi Netanyahu dan oposisi mencapai puncaknya.
Tanpa anggaran yang disahkan, berbagai program pemerintah terhenti dan pembayaran gaji pegawai negeri termasuk tentara dan polisi terancam terganggu.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok