Berita, Internasional

AS dan Iran Adu Syarat di Tengah Perang, Proposal 15 Poin Trump Ditolak Keras Teheran

Repelita.net

27 March 2026 02:34 WIB • 988 view

AS dan Iran Adu Syarat di Tengah Perang, Proposal 15 Poin Trump Ditolak Keras Teheran
Foto: Istimewa

Repelita Washington - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih terus berlangsung tanpa tanda-tanda mereda, dan di tengah berbagai upaya diplomasi yang digencarkan, Iran serta Amerika Serikat justru terlibat dalam saling adu syarat yang memperlihatkan betapa lebarnya jurang pemisah di antara kedua negara.

Pemerintahan Presiden Donald Trump dilaporkan telah mengirimkan sebuah proposal perdamaian yang terdiri dari 15 poin kepada Teheran melalui jalur diplomatik tidak langsung, termasuk melalui perantaraan Pakistan, sebagai upaya serius untuk mengakhiri konflik yang telah mengguncang stabilitas kawasan.

ADVERTISEMENT

Adapun isi utama proposal 15 poin yang diajukan Amerika Serikat kepada Iran adalah sebagai berikut:

  1. Membongkar seluruh stok uranium yang telah diperkaya.
  2. Menghentikan seluruh aktivitas pengayaan nuklir.
  3. Memberlakukan pembatasan ketat terhadap program rudal balistik.
  4. Memindahkan uranium yang telah diperkaya keluar dari wilayah Iran.
  5. Menghentikan dukungan terhadap kelompok Hizbullah.
  6. Menghentikan dukungan terhadap kelompok Houthi.
  7. Menghentikan dukungan terhadap kelompok Hamas.
  8. Menghentikan dukungan terhadap seluruh jaringan proksi regional.
  9. Memberikan akses penuh bagi inspektur internasional ke fasilitas nuklir.
  10. Menutup fasilitas pengayaan nuklir bawah tanah.
  11. Mengakhiri pengembangan rudal yang mampu membawa hulu ledak nuklir.
  12. Menjamin tidak adanya transfer teknologi rudal ke kelompok proksi.
  13. Menghentikan semua aktivitas yang mengganggu navigasi di Selat Hormuz.
  14. Menjadi bagian dari perjanjian regional untuk stabilitas Teluk.
  15. Menerima gencatan senjata sementara selama 30 hari sebagai ruang negosiasi.

Sebagai imbalan atas pemenuhan tuntutan tersebut, Amerika Serikat menawarkan sejumlah insentif berupa pelonggaran sanksi ekonomi hingga kemungkinan kerja sama di bidang nuklir sipil.

Presiden Donald Trump sendiri mengklaim bahwa kedua belah pihak telah mencapai kemajuan besar dalam pembicaraan yang berlangsung, meskipun pernyataan tersebut langsung dibantah oleh Iran yang secara terbuka menegaskan tidak adanya negosiasi langsung dengan Washington.

Alih-alih menyambut baik tawaran dari Amerika Serikat, Iran justru menilai proposal 15 poin tersebut sebagai tuntutan yang terlalu berat dan bersifat maksimalis, sehingga tidak masuk akal untuk dapat diterima oleh Teheran.

Seorang sumber diplomatik yang dikutip oleh media internasional menyebut bahwa dokumen yang diajukan oleh pemerintahan Trump dinilai tidak realistis, sementara juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaqari, secara terbuka mengejek Amerika Serikat dengan pernyataan bahwa Washington seolah sedang bernegosiasi dengan dirinya sendiri.

Sindiran tajam dari kalangan militer Iran ini menggambarkan betapa rendahnya tingkat kepercayaan Teheran terhadap proses diplomasi yang sedang berlangsung, terutama ketika konflik militer di lapangan masih terus berlanjut tanpa kepastian penghentian.

Sebagai respons terhadap proposal Amerika Serikat, Iran mengajukan lima tuntutan utama yang mencerminkan posisi tawar yang jauh berbeda, yaitu:

  1. Penghentian total agresi militer oleh Amerika Serikat dan sekutunya.
  2. Jaminan yang mengikat bahwa perang tidak akan kembali terjadi di masa depan.
  3. Pembayaran ganti rugi penuh atas seluruh kerusakan infrastruktur dan korban jiwa akibat konflik.
  4. Penghentian konflik di seluruh front secara serentak, termasuk yang melibatkan kelompok sekutu Iran di kawasan.
  5. Pengakuan resmi atas kedaulatan penuh Iran terhadap Selat Hormuz dan haknya dalam menjaga keamanan jalur perairan strategis tersebut.

Teheran juga menegaskan dengan lantang bahwa akhir dari perang tidak akan ditentukan oleh Washington, dan Iran hanya akan mengakhiri konflik ketika mereka sendiri yang memutuskan untuk melakukannya, sebagaimana disampaikan melalui media pemerintah.

Meskipun komunikasi melalui mediator terus berlangsung, situasi di lapangan justru menunjukkan eskalasi dengan Amerika Serikat yang dilaporkan masih menyiapkan opsi militer, termasuk pengerahan pasukan tambahan ke kawasan Timur Tengah.

Di sisi lain, Iran tetap melanjutkan operasi militernya sambil menegaskan tidak adanya negosiasi langsung dengan Washington, dan hanya bersedia melakukan pertukaran pesan melalui pihak ketiga tanpa ada kepastian mengenai siapa yang benar-benar mewakili Teheran dalam pembicaraan tersebut.

Upaya diplomasi yang dimediasi oleh negara-negara seperti Pakistan, Turki, dan Mesir memang membuka peluang terjadinya dialog, namun perbedaan mendasar antara proposal 15 poin dari Amerika Serikat dengan lima tuntutan Iran menunjukkan bahwa jalan menuju kesepakatan masih sangat jauh.

Di satu sisi, Washington terus mendorong pembatasan besar-besaran terhadap kekuatan militer dan program nuklir Iran, sementara di sisi lain Teheran menuntut jaminan kedaulatan penuh serta kompensasi atas kerugian yang diderita selama konflik berlangsung.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #BERITA

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung