Repelita Jakarta - Aktivis pemerhati media sosial Muhammad Arief Budiman melontarkan kritikan tajam menanggapi dinamika informasi terkait pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis.
Pengamat kebijakan publik tersebut secara khusus menyentil Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono agar tidak berlindung di balik isu serangan akun palsu.
ADVERTISEMENT
Pemerintah diingatkan agar tidak serta-merta mengabaikan berbagai aspirasi serta kritik murni masyarakat dengan menudingnya sebagai rekayasa digital semata.
Sorotan kritis tersebut disampaikan oleh aktivis media sosial itu melalui unggahan pada akun pribadi platform Facebook pada hari Rabu, 23 September 2026.
Menurut penjelasannya di dunia maya, proses pendeteksian keberadaan akun otomatis atau bot sebenarnya merupakan hal yang sangat mudah dilakukan instansi pemerintah.
Ia bahkan membeberkan bahwa akun-akun niridentitas tersebut tidak hanya menghiasi laman pejabat, tetapi juga ditemukan pada kanal resmi Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia.
"Ngecek BOT itu mudah Pak SUDARYONO. Sebagian besar BOT, akun bodong, buzzer saya temukan juga di akun Badan Komunikasi Pemerintah RI—saya belum cek akun-akun pemerintah lainnya," ujar Muhammad Arief Budiman dalam unggahan akun Facebook pribadinya pada Rabu, 23 September 2026.
Negara dinilai memiliki instrumen serta sumber daya yang lebih dari memadai untuk menelusuri jaringan akun siluman apabila terdapat kemauan politik yang kuat.
Kendati demikian, fenomena akun otomatis tersebut diminta agar tidak dijadikan alasan oleh para pengambil kebijakan untuk menutup mata dari realitas di lapangan.
Berbagai gelombang protes serta kekhawatiran yang disuarakan publik terkait pelaksanaan program gizi dipastikan murni berasal dari pengalaman langsung warga.
"Suara jernih kritikan itu NYATA. Anak-anak keracunan MBG itu NYATA. Korupsi di BGN itu NYATA. Itu semua NYATA, bukan BOT. Dengarkan kritikan rakyat dengan logika, akal sehat, hati nurani," tegas Muhammad Arief Budiman melalui akun Facebook pribadinya, Rabu, 23 September 2026.
Perbincangan hangat di ranah publik tersebut bermula dari pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono yang menyoroti maraknya gelombang hujatan terhadap pimpinan tertinggi negara.
Dalam rekaman video yang beredar luas di tengah masyarakat, Sudaryono mengeklaim bahwa sebagian besar sentimen negatif di media sosial dikendalikan oleh jaringan bot.
Petinggi lembaga tersebut menyebutkan bahwa lebih dari enam puluh persen akun yang melontarkan kritik pedas bukan merupakan pengguna manusia asli.
Serangan digital tersebut dituding sengaja diorkestrasi oleh kelompok kepentingan tertentu yang mencakup unsur oligarki serta para pelaku korupsi.
Kendati demikian, para pengamat mendesak agar pemerintah lebih memprioritaskan perbaikan tata kelola serta jaminan keamanan pangan bagi anak-anak sekolah.
Evaluasi ketat terhadap standar higienitas satuan pelayanan gizi dan transparansi anggaran dinilai jauh lebih mendesak ketimbang memperdebatkan polemik akun otomatis. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok