Berita, Nasional

9 Relawan Indonesia Dibebaskan dari Penjara Israel, Dua Pemuda Sulsel Jadi Sorotan Misi Kemanusiaan Gaza

Repelita.net

21 May 2026 22:55 WIB • 1,516 view

9 Relawan Indonesia Dibebaskan dari Penjara Israel, Dua Pemuda Sulsel Jadi Sorotan Misi Kemanusiaan Gaza
Foto: Istimewa

Repelita Makassar - Sembilan orang aktivis kemanusiaan asal Indonesia termasuk dua pemuda asal Sulawesi Selatan yang sempat mendekam di balik jeruji besi Penjara Ktziot akhirnya resmi dilepaskan oleh otoritas militer Israel pasca-insiden pengadangan kapal misi Global Sumud Flotilla dua titik nol di wilayah perairan Mediterania.

Keputusan pelepasan para relawan pembawa logistik untuk warga Gaza tersebut langsung disambut dengan rasa syukur dan haru oleh pihak keluarga, barisan aktivis hak asasi manusia, serta publik tanah air yang terus memantau dinamika diplomasi penyelamatan ini.

ADVERTISEMENT

Langkah ini diambil setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengeluarkan instruksi resmi untuk mengusir dan memulangkan seluruh anggota delegasi internasional tersebut keluar dari batas yurisdiksi negaranya.

“Itu juga kami dapatkan, ada perintah (untuk yang ditangkap dideportasi), tapi mudah-mudahan ini menjadi kabar gembira untuk kita semua bagi keluarga dan masyarakat di Indonesia untuk segera dibebaskan,” kata Amir kepada wartawan disela aksi solidaritas relawan di Jalan AP Pettarani, Kota Makassar, Kamis 21 Mei 2026.

Pimpinan wilayah lembaga zakat tersebut juga menegaskan kembali bahwa operasional misi pelayaran internasional tersebut murni digerakkan oleh kepedulian sosial tanpa adanya muatan taktis militer atau kepemilikan senjata api sama sekali.

“Karena tidak ada alasan untuk menahan, misi kami hanya ingin membantu saudara kami di Palestina yang di blokade, kami membawa bantuan, tidak ada juga unsur perlawanan lewat senjata,” tegasnya.

Pihak panitia gabungan juga menyampaikan rasa terima kasih atas kerja keras birokrasi pemerintahan Jakarta yang terus menggalang dukungan serta komunikasi intensif dengan sejumlah simpul kekuasaan internasional demi melancarkan proses evakuasi.

“Ya kami Alhamdulillah, kami juga di Rumah Zakat, di Global Peace Conference Indonesia, di perwakilan di pusat, pusat komando, terus berkomunikasi dengan pemerintah dalam ini di Kementerian Luar Negeri, terus mendorong untuk bersuara beberapa pihak juga, termasuk di MUI bersuara ya, Ormas-Ormas besar,” jelas Amir.

Ketiadaan hubungan diplomatik formal antara Jakarta dan Tel Aviv diakui menjadi salah satu dinding penghalang terbesar yang membuat jajaran kementerian terkait harus memutar otak guna mencari jalur negosiasi alternatif.

“Tapi kita pahami juga barangkali pemerintah karena tidak ada hubungan diplomatik langsung di Israel,” ujarnya.

Pemerintah dituntut jeli memanfaatkan kantor kedutaan besar negara-negara sahabat yang memiliki posisi tawar kuat serta akses komunikasi langsung ke lingkaran elit politik Tel Aviv guna menjamin keselamatan para sandera.

“Tentunya harus berpikir secara keras, kira-ignore membangun komunikasi dengan kedubes mana, dengan negara mana yang punya hubungan diplomatik Indonesia dan juga dengan Israel,” imbuhnya.

Diharapkan pula agar saluran pusat informasi kepresidenan bisa lebih proaktif membagikan rincian perkembangan berkala mengenai proses kepulangan fisik para relawan demi menenangkan batin keluarga yang dirundung kecemasan.

“Kami sangat mengapresiasi apa yang dilakukan oleh pemerintah, tetapi kami tetap bermohon, berharap supaya lebih cepat memberikan update juga, karena keluarga pasti khawatir, menunggu kepastian dari anak dan keluarga mereka yang ditahan,” tutupnya.

Dari perkembangan terbaru, perwakilan komunikasi Global Peace Convoy Indonesia memastikan bahwa seluruh delegasi kini telah dipindahkan dari kamp tahanan militer dan sedang berada dalam pengawasan ketat tim hukum internasional.

“Seluruh delegasi Global Sumud Flotilla (GSF) dan Freedom Flotilla Coalition (FFC) yang sebelumnya ditahan di Penjara Ktziot telah dibebaskan dari fasilitas penahanan Israel. Para delegasi saat ini sedang dalam proses deportasi dan pemulangan keluar dari wilayah Israel,” ujar Harfin.

Poros pemulangan sembilan pemuda Indonesia tersebut direncanakan bakal transit melalui bandara udara di Kota Istanbul, Turki, sebelum akhirnya diterbangkan langsung menuju tanah air.

Menteri Luar Negeri RI Sugiono dalam keterangannya menegaskan bahwa perlindungan fisik warga negara menjadi prioritas utama, di mana korps diplomatik telah dikerahkan penuh untuk menekan Israel melalui bantuan sekutu regional.

“Memerintahkan kepada perwakilan-perwakilan kita untuk menyampaikan lewat teman-teman kita, Yordania, lewat Turkiye, yang bisa berkomunikasi langsung dengan Israel untuk memastikan bahwa warga negara kita diperlakukan dengan baik,” ujar Sugiono.

Berdasarkan manifest data resmi, sembilan nama relawan yang berhasil diselamatkan dari Penjara Ktziot tersebut adalah Andi Angga Prasadewa, Bambang Noroyono alias Abeng, Thoudy Badai Rifan Billah, Andre Prasetyo Nugroho, Rahendro Herubowo, Herman Budianto Sudarsono, Ronggo Wirasanu, Asad Aras Muhammad, dan Hendro Prasetyo.

Dua di antaranya dikonfirmasi sebagai pemuda asal zona timur, yakni Andi Angga Prasadewa yang menetap di Kota Makassar serta Asad Aras Muhammad yang berasal dari area Kabupaten Sinjai.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung