Repelita Teheran - Republik Islam Iran telah melancarkan gelombang serangan secara masif ke wilayah Israel dan sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di kawasan Timur Tengah, dengan intensitas serangan yang terus meningkat sejak konflik meletus.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, sebanyak 13 pangkalan milik Amerika Serikat di kawasan Teluk dilaporkan sudah tidak lagi beroperasi karena mengalami kerusakan yang signifikan akibat serangan rudal dan drone Iran.
ADVERTISEMENT
Kondisi ini memaksa pasukan Amerika untuk mengosongkan sejumlah basis utama mereka di wilayah tersebut, sehingga kini aset-aset militer Amerika itu terlihat seperti pangkalan hantu yang tidak lagi memiliki aktivitas operasional.
Sejak akhir Februari 2026, serangkaian rudal dan drone Iran telah menghantam infrastruktur penting di pangkalan-pangkalan tersebut, termasuk laporan mengenai kerusakan parah yang terjadi di pangkalan udara Al Udeid yang berlokasi di Qatar.
Meskipun demikian, pemerintah Amerika Serikat hingga saat ini belum merilis secara detail jumlah korban jiwa maupun rincian kerusakan yang diderita akibat serangan rudal balistik yang dilancarkan oleh Republik Islam Iran.
Pada Kamis, 26 Maret 2026, Republik Islam Iran kembali meluncurkan rudal-rudalnya yang mengarah ke pangkalan militer Zionis Israel dan Amerika Serikat dalam gelombang serangan terbaru yang menargetkan industri terkait infrastruktur nuklir Israel.
Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC menyatakan bahwa kelanjutan dari gelombang ke-82 Operasi True Promise 4 yang dimulai sejak Kamis subuh masih terus berlanjut dengan intensitas tinggi.
Operasi yang memiliki sandi Ali bin Musa Al Reza ini berhasil menghantam pusat kendali militer Zionis dan industri yang berkaitan dengan infrastruktur nuklir Israel di wilayah selatan Laut Mati.
IRGC menyebutkan bahwa gelombang balasan ini dipersembahkan bagi para syuhada, termasuk Presiden Ebrahim Raisi dan Menteri Luar Negeri Hossein Amir-Abdollahian serta para sahabat lainnya yang gugur sebelumnya.
Lebih lanjut, IRGC mengungkapkan telah melaksanakan 230 operasi dalam 24 jam terakhir, sementara perlawanan dari Libanon tercatat melakukan 87 operasi dan perlawanan Irak melakukan 23 operasi.
IRGC juga mengklaim bahwa dengan 110 serangan rudal dan drone, mereka telah mencetak rekor abadi dalam menghancurkan target-target Zionis Israel yang arogan di kawasan Asia Barat.
Teheran juga telah meluncurkan drone tempur pada gelombang balasan ke-82 dengan sandi Ali Akbar Imam Husein, yang dipersembahkan bagi rakyat terhormat dan heroik di wilayah utara Iran.
Republik Islam Iran juga berhasil menargetkan militer Amerika Serikat di Al-Kharj, Arab Saudi, yang berpusat di Prince Sultan Air Base (PSAB) serta situs logistik pertahanan Amerika Serikat sebagai balasan atas serangan ke Kota Khorramshahr.
IRGC menghancurkan radar Patriot dan hanggar pesawat mata-mata P8 yang berada di Pangkalan Udara Sheikh Isa, Bahrain, serta menghancurkan tangki bahan bakar pendukung Amerika Serikat, hanggar MQ9, dan antena komunikasi satelit drone Amerika di Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait.
Sebelumnya pada gelombang balasan ke-81, rudal-rudal presisi Khorramshahr-4 hingga Qader diluncurkan dengan sandi Ya Baqir Al-Ulum sebagai persembahan bagi para tentara syuhada termasuk komandan senior Pasukan Quds IRGC, Sayyid Izadi.
Operasi tersebut berhasil menghantam lebih dari 70 titik di wilayah pendudukan Zionis secara intens mulai dari Haifa, Dimona, Hadera atau Alkadriah, hingga Tel Aviv, dengan kerugian yang selama ini disensor ketat oleh Israel.
Selain melancarkan serangan secara masif, Iran juga melontarkan kritik pedas terhadap klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai adanya negosiasi perdamaian yang disebut-sebut sedang berlangsung.
Juru Bicara Markas Pusat Khatam Al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menyebut pernyataan Trump tentang kesepakatan 15 poin hanyalah upaya Amerika Serikat untuk membungkus kekalahan mereka menjadi sebuah perjanjian yang terkesan diplomatis.
Zolfaghari bahkan menyindir bahwa konflik yang dihadapi Amerika Serikat saat ini telah membuat Trump seolah sedang bernegosiasi dengan dirinya sendiri tanpa lawan bicara yang jelas.
Ia juga menyebut bahwa kekuatan strategis yang selama ini dibanggakan Amerika Serikat kini telah berubah menjadi kegagalan total di kawasan Timur Tengah.
Menurut Zolfaghari, jika Amerika Serikat mampu membebaskan diri dari kesulitan ini, pasti mereka sudah melakukannya sekarang, dan ia mengingatkan agar kekalahan tidak disebut sebagai kesepakatan.
Ia menegaskan bahwa era janji-janji Amerika Serikat telah berakhir, dan saat ini hanya ada dua front di dunia yaitu front kebenaran dan front kebatilan.
Zolfaghari menyatakan bahwa setiap pencari kebebasan tidak dapat tertipu oleh gelombang media yang dibangun Amerika Serikat, karena tingkat konflik telah mencapai tahap negosiasi dengan diri sendiri.
Lebih lanjut, Zolfaghari menegaskan bahwa Amerika Serikat dan sekutunya tidak akan melihat harga energi dan minyak seperti sebelumnya sampai mereka memahami bahwa stabilitas di kawasan ini dijamin oleh kekuatan angkatan bersenjata Iran.
Kami secara tegas mengumumkan bahwa situasi tidak akan kembali normal sampai itu adalah kehendak kami, demikian pernyataan Zolfaghari yang menekankan bahwa hal ini akan terjadi ketika niat untuk bertindak melawan bangsa Iran benar-benar dihapus dari pikiran musuh.
Kata pertama dan terakhir kami sejak awal adalah dan akan tetap demikian, tidak seorang pun seperti kami akan berdiri di samping orang seperti Anda, baik sekarang maupun di waktu lain, demikian pernyataan tegas yang mengakhiri kritik pedas dari juru bicara militer Iran tersebut.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok