Repelita [Jakarta] - Wartawan senior, Edy Mulyadi, menyoroti penangkapan mantan Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, yang dinilai menyisakan celah kritis bagi kelangsungan program Makan Bergizi Gratis.
Ia memberikan apresiasi atas langkah sigap Presiden Prabowo Subianto yang segera mencopot Dadan sebelum status hukum resminya diumumkan.
ADVERTISEMENT
"Prabowo tidak ragu memotong tangan kotor di lingkaran dalamnya demi menjaga marwah program utama rezim," ujar Edy dalam tulisannya, Kamis (4/6/2026).
Meskipun demikian, ia menekankan bahwa tantangan transisi kepemimpinan di Badan Gizi Nasional pasca-Dadan jauh lebih kompleks daripada sekadar pemberantasan korupsi di tingkat pusat.
Edy mengingatkan bahwa program ini merupakan proyek logistik raksasa yang melibatkan rantai pasokan sensitif, mulai dari pasokan pangan harian hingga distribusi ke sekolah-sekolah terpencil.
"Ketika nakhoda pusat dicopot karena skandal korupsi, efek kejutnya langsung terasa ke bawah," tuturnya menggambarkan kondisi birokrasi daerah yang berpotensi menjadi stagnan.
Menurutnya, penangkapan ini berisiko menelan korban jutaan anak sekolah yang menjadi penerima manfaat jika ritme distribusi pangan terganggu akibat ketidakpastian di tingkat birokrasi.
Ia berharap Nanik S. Deyang, yang baru ditunjuk, mampu melakukan uji ketahanan sistem distribusi dan memotong ketergantungan pada makelar proyek.
"Tugas utama kita ke depan adalah mengawal agar transisi birokrasi ini tidak mengorbankan hak anak-anak bangsa," tegas Edy.
Di akhir pandangannya, ia mendesak Presiden untuk melakukan langkah radikal dengan membersihkan kabinet dari para penumpang gelap dan pemburu rente politik.
"Bagaimana mungkin korupsi massif pada program strategis bisa lolos jika aparatnya responsif? Tanpa sapu yang bersih, mustahil Presiden bisa membersihkan lantai Istana dan daerah dari kotoran korupsi," tutupnya (*).
Editor: 91224 R-ID Elok