Berita, Nasional

Wacana Percepatan Pemilu Diusut Pengamat, Budi Arie dan Jokowi Diduga Sudah Pegang Data Survei Kepuasan Publik

Repelita.net

28 August 2026 21:35 WIB • 478 view

Wacana Percepatan Pemilu Diusut Pengamat, Budi Arie dan Jokowi Diduga Sudah Pegang Data Survei Kepuasan Publik
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Pengamat politik Heru Subagia menilai wacana percepatan pergantian kekuasaan sebelum 2029 yang diutarakan Budi Arie Setiadi bukan sekadar lontaran insting politik belaka.

Heru menduga Ketua Umum Projo beserta Presiden ke-7 RI Joko Widodo telah menerima bocoran data survei terkait anjloknya kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran.

ADVERTISEMENT

Tingkat kepuasan masyarakat yang berada di angka 37 persen berdasarkan temuan Tempo Data Science disinyalir menjadi pemantik utama munculnya wacana tersebut.

"Survei Tempo Data Science, bahwa kepuasan publik terhadap kinerja Prabowo-Gibran sangat rendah sekali, 37 persen," ujar Heru kepada fajar.co.id, Jumat (28/8/2026).

Ia menekankan pentingnya mencermati konteks penyampaian spekulasi tersebut di depan mantan kepala negara dan barisan sukarelawan.

"Ini perlu dicermati ucapan Budi Arie ketika di hadapan Jokowi dan relawan mengatakan bahwa instingnya perebutan kekuasaan dimajukan dan tidak harus menunggu 2029," tukasnya.

Latar belakang informasi mengenai tren persepsi masyarakat diyakini Heru menjadi pegangan utama sebelum narasi tersebut diembuskan ke ruang publik.

"Saya curiga sebenarnya Budi Arie dan termasuk Jokowi sudah mengetahui paparan lembaga survei," ungkapnya.

Heru menyebut data tersebut sangat potensial dijadikan bahan kalkulasi serta penyusunan taktik politik ke depan.

"Dan, bocoran tersebut menjadikan kajian dan renungan dalam kerja-kerja politik keberlanjutan," lanjut Heru.

Penggunaan istilah insting oleh Budi Arie dinilai tidak berdiri sendiri tanpa ditopang oleh basis data empiris.

"Insting Budi Arie ini tidak bisa berdiri sendiri tanpa sebuah akurasi data yang sebelumnya menjadi temuan," tegasnya.

Langkah ini dipandang Heru sebagai respons antisipatif terhadap pergeseran tingkat kepercayaan masyarakat.

"Ini seolah menjadi sebuah cerminan khusus bagi Budi Arie melihat bahwa pergantian kekuasaan bsia dipercepat," imbuhnya.

Pengamat ini meyakini ada parameter terukur yang sudah digenggam sebelum pernyataan spekulatif itu dilempar ke khalayak.

"Budi Arie meyakinkan menurut saya bukan lagi sebuah insting, tapi parameter data yang saya duga sudah ada di tangannya dan Jokowi sendiri," katanya.

Mengenai bungkamnya Jokowi saat acara berlangsung, Heru menilai sikap tersebut tidak serta-merta mengindikasikan persetujuan penuh.

"Tafsiran saya Budi Arie dan Jokowi sudah menerima data," ucap Heru.

Ia menduga Jokowi sedang menimbang situasi dan secara cermat memperhitungkan pergerakan pendukungnya.

"Diamnya Jokowi bukan berarti mengiyakan tapi Jokowi menurut saya mengetahui dan justru mendalami teliti bagaimana langkah politik dan relawannya," tandasnya.

Rangkaian peristiwa ini menurutnya perlu dibaca secara kritis dan tidak dipandang sebagai wacana spontan semata.

"Tidak serta-merta Budi Arie mengandalkan insting, demikian juga Jokowi diam dan sedang tidak mengiyakan," kuncinya. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung