Repelita Jakarta - Unggahan bernada kritik mengenai pajak, kekuasaan, dan kondisi demokrasi menjadi sorotan di media sosial pada Rabu, 30 September 2026.
Pesan tersebut disampaikan akun Threads @awak_apais sekitar 24 menit sebelum naskah ini disusun melalui unggahan berjudul “HIDUP DI NEGERI PAJAK”.
ADVERTISEMENT
Dalam unggahannya, akun tersebut menggambarkan adanya anggapan bahwa batas antara pajak dan pungutan semakin sulit dibedakan dalam kehidupan masyarakat.
“Hampir tak bisa bedakan antara Pajak dan Palak Alam Demokrasi terasa di Alam Feodal Bernafas di Negeri Republik udaranya seperti Negeri Kerajaan Pajak, Palak dan Upeti setipis kulit ari”
Unggahan itu kemudian menyinggung situasi ketika kepentingan ekonomi disebut bersinggungan dengan kekuasaan.
“Mengais Keuntungan ditengah Kekuasaan Disisi lain… Ada yang Mengais Rejeki ditumpukan Sampah”
Pesan tersebut juga menggambarkan dugaan adanya tuntutan bagian ketika keuntungan diperoleh, sementara kondisi berbeda disebut terjadi ketika keuntungan tidak didapatkan.
“Ketika Rejeki Didapat, Kekuasaan Ingin Jatahnya Dengan Cepat Ketika Rejeki Tak Didapat, Mereka Tutup Mata dan Telinga Dengan Rapat”
Pada bagian akhir, unggahan itu menggunakan ungkapan bernada keras sebagai bentuk pertanyaan sekaligus kritik terhadap situasi yang sedang digambarkan.
“Apa ini yang namanya B*NGS*T”
Unggahan tersebut tidak mencantumkan penjelasan mengenai peristiwa atau pihak tertentu yang menjadi sasaran langsung kritik, sehingga isi pesannya lebih berupa pandangan dan ekspresi terhadap persoalan pajak, kekuasaan, serta kehidupan demokrasi.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
View on Threads