Berita, Viral Sosmed

[VIRAL] Primus Yustisio Desak Gubernur BI Mundur Imbas Rupiah Terpuruk

Repelita.net

18 May 2026 20:45 WIB • 961 view

[VIRAL]  Primus Yustisio Desak Gubernur BI Mundur Imbas Rupiah Terpuruk
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Jalannya rapat kerja yang mempertemukan Komisi XI DPR RI dengan jajaran bank sentral seketika dipenuhi ketegangan tinggi menyusul kritik tajam yang dilayangkan oleh anggota dewan terkait performa nilai tukar rupiah yang kian merosot.

Sorotan publik tertuju pada aksi anggota legislatif dari Fraksi Partai Amanat Nasional, Primus Yustisio, yang secara frontal menyarankan agar pimpinan tertinggi otoritas moneter tersebut mundur dari jabatannya demi etika kepemimpinan.

ADVERTISEMENT

Momen kelantangan mantan figur publik itu terekam jelas dalam cuplikan video yang kemudian viral dan menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial nasional karena dinilai mewakili kegelisahan masyarakat atas kondisi ekonomi.

“Pak Perry yang saya hormati, kadang pak kalau kita mengambil tindakan gentleman, itu bukan penghinaan, Pak. Saya berikan contoh mungkin saatnya sekarang bapak mengundurkan diri. Tidak ada salah. Selanjutnya terserah Bapak, tentu saja. Tapi itu bukan sikap penghinaan,” tegas Primus dalam rapat kerja dengan BI di Kompleks DPR RI, Jakarta, Senin (18/5/2026).

Politisi senior tersebut menyandingkan usulannya dengan kultur pertanggungjawaban moral yang lazim diadopsi oleh para pejabat tinggi di negara-negara maju kawasan Asia Timur ketika menghadapi kebuntuan kebijakan ekonomi.

Dirinya memandang bahwa meletakkan jabatan secara sukarela bukanlah sebuah bentuk kelemahan melainkan sebuah tindakan ksatria yang akan mendapat penghormatan luas dari publik maupun kolega internasional.

“Anda akan lebih dihormati seperti di Korea ataupun di Jepang. Kalau Anda tidak bisa melakukan tugas Anda dengan baik, seperti itu, tidak ada salahnya,” sambung Primus.

Selain itu, pihak parlemen juga mempertanyakan kontradiksi data makro di mana pertumbuhan ekonomi domestik diklaim tetap kokoh berada pada level lima persen namun realitanya daya beli masyarakat terpukul akibat depresiasi nilai tukar.

Hingga saat ini, perdebatan sengit mengenai strategi penyelamatan mata uang garuda tersebut terus bergulir dan memicu tuntutan agar bank sentral segera mengambil langkah darurat yang lebih konkret.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung