Repelita Jakarta - Rekam jejak pengusaha sound horeg Stiyo Budi Muarso kembali menjadi perhatian setelah sebuah unggahan di media sosial menyoroti keterkaitannya dengan relawan politik.
Dalam informasi yang beredar, Stiyo Budi Muarso disebut merupakan relawan Relawan Gibran Penerus Jokowi (GPJ), kelompok yang dikaitkan dengan dukungan politik menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029.
ADVERTISEMENT
GPJ disebut terbentuk melalui inisiatif gabungan sejumlah aliansi sound horeg yang berasal dari Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Kelompok relawan tersebut dipimpin oleh Joko Ireng sebagai Ketua Umum dan disebut memiliki basis relawan yang cukup banyak dari wilayah Jawa Timur.
Dalam narasi yang beredar, GPJ disiapkan untuk menghadapi kontestasi Pilpres 2029 serta disebut siap memberikan dukungan kepada Gibran apabila kembali maju dalam pesta demokrasi lima tahunan tersebut.
Sebelumnya, GPJ juga disebut telah menemui Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) di Solo, Jawa Tengah, pada Selasa, 11 Agustus 2026.
Pertemuan itu disebut dihadiri sejumlah pengusaha sound horeg, termasuk Brewok Audio, dengan tujuan meminta arahan dari Jokowi mengenai langkah politik menghadapi Pilpres 2029.
Dalam pertemuan tersebut, pihak GPJ disebut masih menunggu arahan Jokowi terkait arah dukungan politik untuk Pilpres 2029 mendatang.
Informasi mengenai sosok pengusaha sound horeg tersebut kemudian kembali ramai setelah akun X @Piyusaja2 mengunggah sebuah pernyataan pada 9 September 2026 pukul 15.32 WIB.
Dalam unggahannya, akun tersebut menulis, "Pengusaha Sound Horeg Sebut MUI Goblok, gara-gara FATWA HARAM".
Unggahan itu kemudian memunculkan beragam tanggapan dari pengguna media sosial yang menyoroti keberadaan sound horeg, pernyataan terhadap Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta persoalan dampak penggunaan suara dengan volume tinggi.
Akun @hen_suhendar memberikan komentar, "Pagar makan tanaman, warga masyarakat, pengusaha , penggemar sound horeg itu hasil didikan para ustadz yg ada di MUI itu atau lembaga keagamaan yg ada di jatim, ya tinggal nikmati saja hasilnya."
Sementara itu, akun @AlAlghazza menuliskan kritik keras terhadap aktivitas sound horeg dengan komentar, "Sampah2 kek gini maunya cepetan pada hangus,cari cuan tapi menggangu orang lain,merusak fasum dan properti orang lain,dan GA PERNAH MAU BERTANGGUNGJAWAB.!!! Lu kira semua orang bisa,suka dan mau dengerin suara soundmu njing.!!!"
Akun @rakinoH juga menanggapi persoalan tersebut dengan menulis, "Halal klo ditempat yg kedap suara. Biarin hipertensi, stress, anxiety, budeg, bolot, jantungan, smpe mampus jg ga msalah. [🤗🤗]"
Komentar lain disampaikan akun @donxwitter yang menulis, "[#HoregHaram] Udah ganggu, kampungan, manfaatnya ga sebanding dengan kerugian yg diterima masyarakat."
Akun @LocknLoll turut memberikan tanggapan dengan kalimat, "Sampah kampungan. Gk tau etika bermasyarakat. Otak tolol."
Selain itu, akun @from_life5 menuliskan komentar singkat, "Terdeteksi tem*l kah?"
Akun @Batukapur99 memberikan respons yang bernada keras dengan menulis, "Anak Krakatoa, tolong dulu sini. Kasi pyroclast ke rumah dia ni. Mana tau boleh insaf."
Sementara akun @GoemVi50188 menanggapi polemik tersebut melalui pernyataan, "Urusan perut membuat mulut tak terkontrol..."
Akun @PakuBoemi kemudian mengaitkan pembahasan tersebut dengan isu lain melalui komentar, "Hallo MUI, bagaimana pula dg KORUPSI DANA HAJI yg justru lebih HOREG dari pada SOUND HOREG. [🤪][🤭]"
Akun @EkosMarcos69239 memberikan tanggapan dengan menyoroti dampak suara berintensitas tinggi, "Ya gmn ga dilarang,lha wong klo volume mentok,kaca ther ther kdg pecah,jantung ikutan ngab ngab geter Yang muda2 yg jantungnya masih kuat si okelah,lha klo orang2 tua yang jantungan apa ga bahaya Coba dibatasi dg aturan,boleh dg batasan berapa desible,cm di alun2"
Komentar berikutnya datang dari akun @Ambonhelmi8899 yang menulis, "Ketika orang2 beler, orang2 tolol dan orang2 cinta maksiat dikasi panggung."
Akun @cobainbaek turut merespons dengan kalimat, "Jadi maklum setelah tau terindikasi termul"
Sementara itu, akun @AsadulMunaja memberikan dukungan terhadap pernyataan yang menjadi sorotan tersebut dengan menulis, "Lanjutkan pak, kalau mereka gak ada respon dari pernyataan bapak berarti yang Anda katakan itu benar"
Rangkaian komentar tersebut menunjukkan beragam reaksi pengguna media sosial terhadap polemik sound horeg, mulai dari persoalan gangguan lingkungan hingga perdebatan mengenai fatwa dan pernyataan terhadap MUI.
Di sisi lain, informasi mengenai keterkaitan Stiyo Budi Muarso dengan GPJ dalam narasi yang beredar menjadi perhatian tersendiri karena kelompok tersebut disebut telah mempersiapkan dukungan politik menuju Pilpres 2029.
GPJ juga disebut telah bertemu Jokowi pada 11 Agustus 2026 dan menyampaikan bahwa mereka masih menunggu arahan terkait Pilpres 2029, termasuk kemungkinan dukungan kepada Gibran apabila maju dalam kontestasi tersebut.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
Pengusaha Sound Horeg Sebut MUI Goblok, gara-gara FATWA HARAM pic.twitter.com/F618Iugsh7
— Mas P1yu🍉🇮🇩 (@Piyusaja2) September 9, 2026