Repelita Jakarta - Kabar memilukan mengenai nasib masyarakat lanjut usia yang kesulitan mendapatkan jaminan sosial kembali mengemuka di ruang digital pada tanggal 6 Oktober 2026.
Kisah sedih mengenai penolakan administrasi bantuan tersebut disebarluaskan oleh akun @pesona_nusantarakita lewat sebuah unggahan.
ADVERTISEMENT
Dalam kalimat pembukanya, akun tersebut meluapkan keprihatinan dengan menulis "Keterlaluan! Seorang Nenek sebatang Kara di Balikpapan hidup sendiri, Hanya mengandalkan pemberian Tetangga Setelah di cek Tenyata Tidak mendapatkan Bantuan pemerintah uang atau beras & sebagainya".
Ia kemudian menjabarkan kronologi penolakan yang dialami oleh lansia tersebut saat berurusan dengan birokrasi lokal.
Teks kelanjutan narasi dari pemilik akun itu berbunyi "Datang ke kantor pelayanan sosial untuk mencari bantuan beras dari pemerintah. Berujung Di Usir Petugas, Tidak boleh masuk dan hanya menggenggam ktp sang nenek berharap dapat bantuan beras, namun saat petugas mengecek namanya tidak terdaftar sebagai penerima bantuan."
Unggahan cerita yang menyayat hati ini seketika memicu kemarahan publik serta banjir respons di kolom komentar.
Pertanyaan mendasar mengenai akurasi basis data kemiskinan dilemparkan oleh akun @bgd_zuheldi secara lugas.
Warganet tersebut meninggalkan komentar singkat yang menuliskan "Yg melakukan pendataan siapa?".
Kritik tajam terhadap sistem tata kelola pemerintahan juga dilayangkan oleh akun @juneidileis di kolom siber.
Ia menuliskan kecaman publik berupa "Inilah kebodohan yang di pertontonkan oleh pemerintah".
Sementara itu, akun @faizalbunglon menyoroti aspek kemanusiaan yang terabaikan oleh para pemangku kebijakan.
Netizen tersebut menumpahkan rasa empatinya dengan berkomentar "Sebenarnta kalo yg kayak nenektu udah nyata terlihat keadaannya masa iya beras bantuan sebulan sekali gak dikasi??? Tega amat bayangkan kalo itu mak kalian..".
Di sisi lain, akun @magusramadhan mempertanyakan alasan logis di balik kegagalan administrasi penerimaan hak jaminan pangan tersebut.
Cuitan bernada keheranan dari warga internet itu berbunyi "Kenapa gak layak, penyebabnya rupanya".
Sorotan tajam terhadap sikap buruk serta perilaku tanpa simpati dari oknum aparatur sipil disuarakan oleh akun @seeni_imin.
Ia mengecam perilaku oknum pelayanan masyarakat tersebut dengan menulis "Petugasnya NIREMPATI ..ketawa ketiwi lagi....Ya Allah Kasihan si neneknya... @gerindra lihat warga ini.apakah Indonesia sudah merdeka???".
Kekesalan serupa atas buruknya cara berkomunikasi staf pelayanan publik juga diutarakan secara mendalam oleh akun @fredy_sety.
Ia menumpahkan kekesalannya melalui komentar siber bertuliskan "Bisalah ngomong baik2 ke nenek itu, ga perlu diusir disuruh duduk di luar sama dikatain jangan kesini2 lagi. Gemes sekali. Pengen ku ******* aja rasanya ibu2 yg ngomong itu".
Diskusi hangat bernada kekecewaan mendalam atas sistem jaminan sosial itu ditutup oleh opini dari akun @yakamanikudiwinyo.
Netizen tersebut mengakhiri ruang percakapan digital dengan menulis "Bukannya dibantuin buat masuk daftar penerima bantuan, kok malah diusir. Petugas koplak ..."(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
View on Threads