Berita, Viral Sosmed

[VIRAL] Kritik Tajam Netizen Soal Gaya Komunikasi Pejabat Publik Sebut Akal Sehat Dan Penalaran Perlu Dikedepankan

Repelita.net

15 October 2026 22:44 WIB • 71 view

[VIRAL] Kritik Tajam Netizen Soal Gaya Komunikasi Pejabat Publik Sebut Akal Sehat Dan Penalaran Perlu Dikedepankan
Foto: Istimewa


Repelita Jakarta - Gelombang polemik digital kembali mencuat di ruang publik terkait perbandingan nilai antara kelestarian ekosistem alam dan komoditas perkebunan komersial.

ADVERTISEMENT

Informasi tersebut sebelumnya diunggah oleh akun @waansyahda pada tanggal 15 Oktober 2026.

Melalui unggahan itu, disampaikan kritik tajam mengenai pola komunikasi serta kebijakan yang dinilai kurang mengedepankan logika kelestarian lingkungan.

"Ini adalah Peryataan, dan arahan langsung dari beliau," tulis akun tersebut mengawali informasi dalam unggahannya.

Ia menilai bahwa pembelaan dari simpatisan birokrasi pemerintahan seharusnya tidak mengabaikan akal sehat dalam melihat dampak kerusakan ekologis di lapangan.

"Dan jika para buzzer masih berdalih bahwa tidak etis hanya menyalahkan beliau, maka yang harus diperbaiki tidak hanya pada komunikasi beliau ini, Tetapi akal sehat, dan penalarannya perlu dikedepankan," lanjutnya.

Lebih jauh, ia memaparkan perbedaan mendasar mengenai fungsi vital wilayah hijau lindung dibandingkan dengan komoditas penopang nilai ekonomi semata.

"Hutan adalah aset yang menopang kehidupan, sedangkan kelapa sawit adalah aset komoditas yang menghasilkan nilai ekonomi," sebut akun tersebut dalam narasinya.

Menurutnya, penyetaraan kedua hal tersebut merupakan kekeliruan berpikir yang tidak dapat dibenarkan dari sudut pandang keberlanjutan hidup manusia.

"Keduanya memiliki manfaat, tetapi tidak bisa dianggap setara hanya karena sama-sama memiliki nilai ekonomi," demikian bunyi penutup narasi tertulis dalam unggahan itu.

Pernyataan kritis ini pun seketika mengundang berbagai macam respons bernada kecaman serta doa dari para pengguna media sosial.

Seorang warganet memanjatkan doa agar warga terdampak bencana segera mendapatkan bantuan dan pihak penyebab kerusakan mendapatkan balasan setimpal.

"Laa ilaaha illaa anta, subhaanaka innii kuntu minazh-zhaalimiin. Ya Jabbar. ..Ya Jabbar. ..Ya jabbar. segerakan Lah pertolongan-Mu untuk saudara² kami yang tertimpa musibah. untuk orang² yang telah menyebabkan musibah ini berikanlah balasan atas setiap penderitaan dan kerusakan yang mereka sebabkan Ya Allah," tulis akun @rvldqbl dalam kolom komentar.

Doa bernada permohonan tersebut segera diaminkan oleh pengguna jejaring sosial lainnya di dalam kolom interaksi digital.

"Aamiin yaa rabbal alamiin...," ungkap akun @indahpro89 secara singkat.

Netizen lainnya melayangkan sentilan agar ekspansi lahan perkebunan komersial tidak terus-menerus mengorbankan wilayah suaka alam di pulau Kalimantan.

"Tanam aja dirumah bapak bukan Kalimantan, Kalimantan dh penuh sawit pak ae 🫩," tutur akun @mahmudahshalihah mengekspresikan kekesalannya.

Kritik singkat mengenai latar belakang pimpinan administrasi negara yang dinilai memengaruhi arah kebijakan agraria turut disematkan oleh seorang pengguna.

"Ketika pengusaha sawit jadi presiden," tulis akun @m3v14 menyampaikan opininya.

Kekecewaan mendalam terhadap keserakahan oknum pengambil kebijakan yang dinilai abai terhadap kelestarian alam juga dilontarkan oleh warganet lain.

"Ki aki serakah, tidak pernah merasa puas, hanya ajal yg bisa menyadarkannya," sebut akun @roesmayanie memberikan komentar ketus.

Sebagai penutup rangkaian respons, seorang netizen membandingkan doktrin kelestarian lingkungan sejak masa sekolah dahulu dengan kondisi pengawasan rezim saat ini.

"Zaman dulu saya sekolah mulai dari SD tahun 80 an,meskipun saya tinggal di kota, sudah diajari,ditanamkan sejak dini supaya menjaga hutan,melestarikan hutan dan menjaga lingkungan kita termasuk melestarikan flora dan faunanya...kok bisa2nya rezim ini tidak ada perhatiannya sama sekali terhadap lingkungan," ungkap akun @nyayuasyh16 mengakhiri perbincangan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok









View on Threads

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung