Berita, Viral Sosmed

[VIRAL] Kritik Dosen Soal Naskah Doa Kemerdekaan Berisi Statistik Panas Disemprot Warganet Sebagai Bentuk Politisasi

Repelita.net

18 August 2026 20:39 WIB • 455 view

[VIRAL] Kritik Dosen Soal Naskah Doa Kemerdekaan Berisi Statistik Panas Disemprot Warganet Sebagai Bentuk Politisasi
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Pembacaan doa pada perayaan peringatan kemerdekaan kembali memicu kritik tajam dari kalangan akademisi dan masyarakat di jejaring sosial. Penyisipan angka serta indikator capaian lembaga dalam naskah doa kenegaraan dinilai tidak lazim dan mengikis kesucian makna permohonan spiritual.

Kritik tajam tersebut mencuat setelah seorang pengajar perguruan tinggi membongkar ketidaklayakan muatan doa resmi yang dipadukan dengan paparan data statistik. Langkah tersebut dipandang publik sebagai bentuk pemanfaatan momentum keagamaan demi kepentingan pencitraan jajaran penguasa.

ADVERTISEMENT

Sejumlah warganet meluapkan kekecewaan serta kecaman mereka secara terbuka di media sosial terkait polemik naskah doa tersebut.

Pada tanggal unggahan 18 Agustus 2026, akun luthfihasanalbolqiaah menyampaikan sindiran kerasnya mengenai muatan naskah tersebut, "Bahkan doa sekarang udah ada statistik survei. Apa gak malu saya jadi dosen kalau begini ceritanya. Jadi saya lengkapin data dari website kemenag."

Kritik atas dugaan politisasi ajang keagamaan juga dilontarkan oleh pengguna jejaring sosial lainnya secara lugas.

Melalui tanggapannya, akun jhonsitumorang90 menyuarakan keheranannya dengan menulis, "Anjai deh..penguasa sekarang parah banget..masa iya doa aja di politisasi"

Sementara itu, akun hendarto.donny menyayangkan sikap pejabat yang menyisipkan puji-pujian dalam ibadah doa, "Lagi doa aja sempet2 nya njilat pak...astaghfirulloh. Doa itu, khusus minta ke Allah bukan ngomongin yg lain...koplak lah à"

Kekecewaan senada diutarakan oleh warganet lain yang mempertanyakan esensi serta ketulusan permohonan di hadapan publik.

Melalui unggahannya, akun sbubudu mengingatkan esensi spiritual dengan menyampaikan, "Pak menteri lupa, doa yg paling diijabah itu doa orang yg paling menderita dan tersakiti. Kok pak menteri berharapnya doa pemimpin negeri ini yg dikabulkan? Apakah mereka hidup dalam penderitaan?"

Gelombang protes masyarakat di ruang digital ini mencerminkan desakan agar ritual keagamaan kenegaraan dikembalikan pada khittahnya. Publik meminta pejabat publik tidak menggunakan naskah doa sebagai sarana sanjungan politik demi menjaga kesucian nilai-nilai spiritual kebangsaan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

View on Threads

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung