Berita, Nasional

[VIRAL] Diremehkan Dedek Prayudi, Arif Wicaksono Beberkan Puluhan Publikasi dan Ribuan Sitasi Prof Sulfikar Amir

Repelita.net

17 October 2026 23:13 WIB • 110 view

[VIRAL] Diremehkan Dedek Prayudi, Arif Wicaksono Beberkan Puluhan Publikasi dan Ribuan Sitasi Prof Sulfikar Amir
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Pernyataan Ketua DPP PSI Dedek Prayudi yang dinilai meremehkan kapasitas akademis Prof Sulfikar Amir memicu reaksi tajam dari pengamat media sosial Arif Wicaksono.

Tanggapan bernada menohok tersebut disampaikan oleh Arif Wicaksono pada Sabtu 17 Oktober 2026 demi membela rekam jejak akademisi ternama Indonesia di Singapura tersebut.

ADVERTISEMENT

Dalam keterangannya, Arif membeberkan deretan prestasi akademis mumpuni yang dikantongi Sulfikar Amir selama mengabdi di Nanyang Technological University Singapura.

“Sulfikar Amir, Assoc Prof NTU Singapura, 45 publikasi, 1.200+ sitasi, PhD STS dari RPI," ujar Arif.

Arif Wicaksono lantas membandingkan capaian tersebut dengan latar belakang Dedek Prayudi yang dinilainya masih berstatus sebagai kandidat doktor.

"(Sementara itu) Dedek Prayudi-Uki, Dr (cand) sampe sekarang masih 'cand'. Caleg Gagal, Ketua DPP PSI, partai gagal DPR," Arif menuturkan.

"Jubir PCO, gaya buzzer yang nyerang Jokowi dan fam digigitnya," tambahnya.

Sebelumnya, Dedek Prayudi melontarkan sindiran terhadap kapasitas Sulfikar Amir usai akademisi tersebut mengkritik syarat pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Dedek menyinggung posisi Sulfikar yang masih menjabat associate professor serta rekam jejaknya sebagai mantan anggota tim sukses Anies Baswedan.

“Sulfikar Amir, dia masih assoc Prof. Dia eks timses Anies," ucap Dedek.

Bahkan Dedek mengklaim karya riset Sulfikar sewaktu bekerja sama dengan Anies tidak memenuhi kualifikasi standar penulisan ilmiah.

"Kalau dia konsultan saya, pembayaran termin terakhir gak saya kasih kecuali rombak total dan saya blacklist. Not qualified," tegasnya.

Polemik ini bermula ketika Prof Sulfikar Amir mengurai analisis mendalam terkait tingkat kesulitan sistem pendidikan di Singapura pasca putusan MK pada 6 Oktober 2026.

Sulfikar membeberkan perbedaan substansial antara skema Advanced Diploma lembaga swasta dengan kualifikasi ujian resmi A-Level yang super ketat.

“Kalau yang ditanya anak-anak Singapura, mereka akan mengamuk. Karena untuk menyelesaikan A-Level itu susah sekali. Di ujungnya, A-Level itu ada ujian. Di mana mereka harus mengambil subjek-subjek yang sangat spesifik,” kata Sulfikar pada Kamis 15 Oktober 2026.

Ia menambahkan bahwa pelajar jalur A-Level harus menempuh ujian berat di bidang sains maupun humaniora sebagai syarat mutlak menembus perguruan tinggi negeri.

“Anak-anak yang ambil A-Level itu harus ujian ini, yang superberat. Dan itulah yang menentukan masa depan mereka, ujian SMA. Jadi, ketika mereka menyelesaikan itu, barulah mereka bisa mendaftar di universitas-universitas di Singapura yang superkompetitif,” ungkapnya.

Persaingan ketat tersebut membuat universitas di Singapura hanya sanggup menampung sekitar 30 persen lulusan terbaik A-Level dan politeknik.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung