Repelita Jakarta - Badan Gizi Nasional (BGN) meluncurkan komik untuk sosialisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ceritanya soal anak ngantuk di kelas karena tak sempat sarapan, lalu setelah makan MBG tiba-tiba jadi juara dan dapat nilai sempurna .
Publik pun bertanya-tanya, ini sosialisasi atau promosi yang terlalu dibuat-buat? Apalagi di tengah maraknya kasus keracunan yang bikin siswa malah menderita .
ADVERTISEMENT
Di komik itu, ada murid SD berangkat sekolah tanpa sarapan, lemas dan mengantuk saat pelajaran . Lalu petugas MBG datang membagi makanan, anak itu makan, langsung semangat, fokus belajar, dan akhirnya meraih nilai ujian sempurna .
Sederet pertanyaan muncul, apakah cukup makan satu porsi MBG langsung mengubah anak jadi juara kelas? Lalu apa koneksinya dengan kasus keracunan yang masih terus terjadi di berbagai daerah .
Di Jeneponto misalnya, 23 siswa dan guru keracunan ikan diduga busuk dari menu MBG . Di tempat lain, puluhan siswa juga harus dilarikan ke puskesmas usai menyantap makanan program ini .
Pakar hukum pidana UIN Alauddin Makassar, Rahman Syamsuddin, menilai kasus keracunan bukan sekadar musibah . Ia menyebut ada indikasi kelalaian fatal dalam rantai penyediaan makanan yang bisa berujung pidana .
Ia mengingatkan, Undang-Undang Pangan mewajibkan penyelenggara jasa boga memastikan keamanan pangan . Pelanggaran standar keamanan yang membahayakan kesehatan dapat dikenai sanksi penjara .
Publik kini menilai komik MBG ini seperti upaya pencitraan di tengah darurat keracunan yang meresahkan .
“Bikin komik soal anak jadi juara karena MBG, tapi realitanya anak-anak malah masuk puskesmas karena keracunan. Duit lagi untuk sosialisasi?” begitu kira-kira nada sindiran yang ramai di media sosial . (*)
Editor: 91224 R-ID Elok