Berita, Nasional

[VIRAL] Angka Kemiskinan Indonesia 64,2 Persen Versi World Bank, Kok BPS Cuma 8,07 Persen?

Repelita.net

01 September 2026 18:21 WIB • 515 view

[VIRAL] Angka Kemiskinan Indonesia 64,2 Persen Versi World Bank, Kok BPS Cuma 8,07 Persen?
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Perbedaan signifikan antara data rasio kemiskinan berskala internasional dan instansi statistik nasional mendadak memicu polemik hangat di kalangan masyarakat dunia maya.

Diskusi perbandingan metode penghitungan kesejahteraan tersebut berawal dari unggahan akun @LambeSahamjja pada tanggal 1 september 2026 yang menyoroti angka kemiskinan domestik.

ADVERTISEMENT

"Tingkat Kemiskinan Negara Negara Berkembang Versi World Bank: - Indonesia 64,2% - Afrika Selatan 60,0% - Filipina 56,5% - Iran 36,2% - Mexico 21,1% - Brazil 20,4% - Vietnam 17,9% - Argentina 14,5% - Thailand 10,1% - Malaysia 1%"

Publikasi data global yang menempatkan tanah air pada posisi teratas tersebut langsung memancing beragam reaksi terkejut serta perdebatan di kolom balasan.

Tanggapan bernada analisis kritis terhadap dampak psikologis penyebaran data makroekonomi tersebut diutarakan secara langsung oleh akun @Kairos_Hunter.

"suka banget ngasih data seuprt untuk ngomporin orang indo,ini untuk yg malas cari datanya"

Pernyataan pendek bernada keterkejutan atas tingginya angka persentase kemiskinan domestik disampaikan oleh akun @Ariz6789.

"Separah itu?"

Komentar satir bernada ironi mengenai kondisi strata sosial ekonomi masyarakat tanah air dituliskan secara jenaka oleh akun @Bigbens1717.

"Maaf rakyat indonesia 99% desil 10 hiksss"

Ungkapan parodi bernada sinis yang menyoroti ketimpangan distribusi kekayaan di masa depan diungkapkan secara ekspresif oleh akun @FreakyBatman_.

"𝒮𝓊𝒶𝓉𝓊 𝓈𝒶𝒶𝓉 𝒹𝒾 𝓀𝑒𝓂𝓊𝒹𝒾𝒶𝓃 𝒽𝒶𝓇𝒾...... 𝒦𝑒𝓀𝒶𝓎𝒶𝒶𝓃 𝓎𝒶𝓃𝑔 𝒽𝒶𝓃𝓎𝒶 𝒹𝒾 𝓂𝒾𝓁𝒾𝓀𝒾 𝓈𝑒𝑔𝑒𝓁𝒾𝓃𝓉𝒾𝓇 𝑜𝓇𝒶𝓃𝑔 𝓅𝑒𝓇𝓁𝒶𝒽𝒶𝓃-𝓁𝒶𝒽𝒶𝓃 𝒶𝓀𝒶𝓃 𝓉𝓊𝓇𝓊𝓃 𝓀𝑒𝒷𝒶𝓌𝒶𝒽. 𝒩𝒹𝒶𝓈𝓂𝓊........"

Menanggapi kehebohan tersebut, lembaga keuangan dunia dalam laporan Macro Poverty Outlook April 2026 memproyeksikan sekitar 64,2 persen penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan negara berpendapatan menengah atas pada tahun 2026.

Meskipun demikian, angka tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa sebagian besar rakyat hidup dalam kemiskinan ekstrem menurut ukuran resmi pemerintah domestik.

Standar internasional ini memakai garis batas senilai US$8,30 per orang setiap harinya berdasarkan paritas daya beli tahun 2021 untuk kelompok negara berpendapatan menengah ke atas.

Sebaliknya, badan pusat statistik nasional menetapkan standar penghitungan kemiskinan berdasarkan ukuran kebutuhan dasar hidup masyarakat lokal di dalam negeri.

Berdasarkan data statistik resmi tersebut, tingkat kemiskinan nasional pada Maret 2026 tercatat sebesar 8,07 persen atau setara dengan 22,93 juta penduduk.

Angka 8,07 persen tersebut menunjukkan adanya penurunan dari posisi sebelumnya yang sempat berada di level 8,25 persen pada bulan september 2025 lalu.

Perbedaan kedua data tersebut membuktikan bahwa persentase yang dirilis lembaga global dan nasional tidak saling membantah karena lahir dari metode serta tujuan pengukuran berbeda.

Lembaga keuangan internasional itu sendiri selalu menegaskan bahwa standar ukuran nasional tetap menjadi rujukan paling relevan untuk perumusan kebijakan domestik.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung