Repelita Jakarta - Gelombang keprihatinan atas maraknya aksi bungkam dari kalangan pesohor siber di tengah jeritan krisis lingkungan hidup lintas daerah kini resmi mencuat luas ke publik siber.
ADVERTISEMENT
Sebuah tayangan audiovisual yang membedah kepalsuan empati para pemilik akun jajaran atas tersebut disiarkan secara digital oleh kanal YouTube Shorts suararakyat.
"kita hidup di era di mana status centang biru dan jutaan pengikut diagungkan bagi dewa Setiap hari dan masa dan beranda media sosial kita didejali drama perseningkuhan berahan pamer kemewahan yang tidak masuk akal hingga tren joget yang meredah" kata narator pembuka klip kritis tersebut.
Pihak pengamat menyayangkan kelincahan gerak motorik jemari para figur publik yang dinilai hanya responsif tatkala mengemas isu sensasi demi meraup keuntungan finansial sepihak.
"jari-jari mereka begitu cepat mengetik klarifikasi atau memviralkan aib orang demi mendulang cuan dari acans dan endorsement Tapi anehnya teman-teman ketika Ibu Pertiwi sedang menjerit saudara-saudara kita di Sumatera Kalimantan dan berbagai daerah lainnya sedang berjuang bertahan hidup di tengah kepungan asap pekat dan kubaran api" lanjut narator membandingkan situasi lapangan.
Kondisi kepungan kabut asap tebal akibat amukan api musiman dikonfirmasi telah melumat habis area pemukiman warga hingga merampas hak dasar atas udara bersih bagi kesehatan anak-anak.
"Rumah mereka hangus Teman-teman Hutan mereka habis dan udara bersih kini menjadi barang mewah yang mahal bagi anak-anak di sana Ke mana pergi empati para idola-idola ini Mendadak buta Teman-teman Mendadak tuli takut kehilangan privilege jika mereka bersuara" keluh narator menyayangkan absennya kepedulian sosial.
Guna memberikan hantaman kritik yang lebih mendalam, rekaman siber tersebut meneruskan sebuah cuplikan pesan tajam dari tokoh pemuda pergerakan bernama Bung Ficky.
"Para kalian teman-teman artis influencer akun-akun media centang biru dan jutaan pengikut di media sosial Giliran tren joget viral isu selingkuh artis atau pamer gaya hidup mewah jari kalian paling lincah bikin konten Tapi giliran hutan dibakar hidup-hidup sampai langitnya menguning Kenapa bibir kalian mendadak kelu dan akun kalian bisu" tegas Bung Ficky melayangkan sindiran menohok.
Ia meminta para pesohor siber membuka mata lebar-lebar atas penderitaan fisik para bayi serta kaum lansia yang kini harus bertaruh nyawa menghadapi kepulan racun udara akibat ulah jarahan korporasi.
"Buka mata kalian Di sana bayi-bayi dan lansia sedang bertarung nyawa Tenggorokannya terbakar dan paru-parunya diracuni meski bernapas di rumah sendiri Hutan kita hangus di jarah korporasi Satwa mati terpanggang Tidak ada area aman untuk mereka berlari Dan kalian cuma duduk manis nonton dari balik layar smartphone" kecam Bung Ficky geram.
Lebih lanjut, dirinya mengingatkan bahwa dengan besarnya barisan pengikut dan penguasaan algoritma, sebuah unggahan dari mereka sejatinya memiliki kekuatan besar untuk mendesak otoritas kebijakan.
"Kalian itu bukan sekedar penonton biasa Kalian itu rumah algoritma Satu unggahan kalian bisa menggiring opini publik Satu suara kalian bisa menekan pengambil kebijakan Jangan cuma memanfaatkan rakyat buat panen viewers dan endorsement Tapi giliran rakyat kecil sekarat Kekurangan oksigen Kalian pura-pura netral demi menjaga citra Nyali kalian di mana" tantang Bung Ficky kepada para pembuat konten.
Ia pun meminta jajaran figur publik tersebut membuktikan tanggung jawab moral pengaruhnya secara nyata demi kelestarian alam atau menyerah kalah pada pelabelan negatif masyarakat sebagai barisan pencari muka.
"Pakai pengaruh itu untuk bersuara selamatkan hutan atau akui saja kalau jutaan followers kalian cuma dipakai untuk menjilat para penguasa" cetus Bung Ficky menutup pernyataan kerasnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok