Berita, Timur Tengah

Utusan Rusia Ulyanov: Tekanan dan Ultimatum Amerika Serikat Tak Akan Tundukkan Iran

Repelita.net

27 April 2026 19:03 WIB • 795 view

Utusan Rusia Ulyanov: Tekanan dan Ultimatum Amerika Serikat Tak Akan Tundukkan Iran
Foto: Istimewa

Repelita Moskow - Di tengah kebuntuan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang menuai sorotan dari berbagai pihak, Utusan Rusia Mikhail Ulyanov angkat bicara mengkritik pendekatan Washington yang dinilai terlalu menekan Teheran .

Dalam pernyataannya Ulyanov menyinggung cara Amerika Serikat yang dinilai telah menekan Iran melalui ancaman militer dan sanksi ekonomi yang berkepanjangan .

ADVERTISEMENT

Menurut Ulyanov cara-cara seperti tekanan dan ultimatum tidak akan pernah berhasil memaksa Teheran untuk kembali ke meja perundingan dengan tunduk pada kehendak Washington .

Ulyanov menyebut bahwa Washington selama ini terlalu mengandalkan ultimatum dan tekanan saat bernegosiasi dengan Teheran tanpa pernah mencoba pendekatan diplomatik yang lebih manusiawi .

Ia berpendapat pola seperti itu justru tidak efektif karena Iran telah membuktikan diri sebagai negara yang tidak bisa dipaksa tunduk lewat ancaman atau intimidasi .

"Amerika Serikat seharusnya meninggalkan pendekatan yang menyerupai pemerasan tenggat waktu sepihak dan ancaman penggunaan kekuatan militer," katanya dalam pernyataan yang dikutip pada Senin (27/4/2026) .

Pernyataan keras Ulyanov ini muncul di tengah belum jelasnya akhir dari perang antara Amerika Serikat Israel dan Iran yang telah berlangsung selama berbulan-bulan .

Upaya pembicaraan damai kembali tersendat setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana pengiriman utusannya ke Islamabad Pakistan untuk negosiasi putaran kedua dengan Republik Islam Iran .

Sebelumnya Gedung Putih menyebut bahwa Steve Whitkoff dan Jared Kushner akan berangkat ke Pakistan guna membuka jalur pembicaraan langsung dengan Teheran .

Namun Trump membatalkan agenda tersebut dan menilai tidak ada gunanya melakukan perjalanan panjang hanya untuk membahas sesuatu yang tidak akan menghasilkan keputusan berarti .

Trump sesumbar bahwa Washington memegang kendali penuh dalam konflik ini dan Teheran bisa menghubungi Amerika kapan saja jika memang ingin berbicara .

Di saat yang sama Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi justru meninggalkan Pakistan tanpa membuka negosiasi langsung dengan Amerika Seratus .

Setelah bertemu dengan Panglima Militer Pakistan Asim Munir, Perdana Menteri Shehbaz Sharif, dan Menteri Luar Negeri Ishaq Dar, Araghchi memilih melanjutkan perjalanan ke Moskow Rusia .

Di Rusia ia dijadwalkan untuk membahas gencatan senjata dan perkembangan perang terkini bersama Presiden Vladimir Putin dalam pertemuan tertutup .

Langkah ini memperlihatkan bahwa Iran lebih memilih untuk memperkuat jalur diplomasi dengan Rusia dibandingkan merespons langsung tekanan yang dilancarkan oleh Washington .

Pemerintah Iran juga mengingatkan Amerika Serikat agar tidak mengatur kedaulatan suatu negara termasuk Selat Malaka yang merupakan milik Republik Indonesia .

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat dikhawatirkan meluas hingga ke Selat Malaka yang ditandai dengan upaya AS mencegat kapal tanker minyak Iran di jalur pelayaran penting tersebut .

Iran mengancam akan membalas tindakan ini dengan memicu reaksi berantai yang berpotensi melibatkan stabilitas keamanan di Selat Malaka secara keseluruhan .

Pemimpin Tertinggi Iran Ali Akbar Velayati melalui akun media sosial pribadinya di X menyebut bahwa masa di mana kekuatan luar negeri mendikte keamanan wilayah dari kejauhan telah berakhir saat ini .

"Stabilitas di Selat Hormuz dan Malaka berada di bawah kendali kekuatan regional dan mitra strategisnya. Sementara keamanan di Selat Bab el-Mandeb dikelola oleh pihak Ansar Allah (Houthi Yaman)," tulis Velayati .

Di sisi lain Amerika Serikat melanggar gencatan senjata dengan menembak kapal Iran sehingga Yaman pun geram dan mengancam akan menutup Selat Bab el-Mandeb .

Melalui akun media sosialnya Wakil Menteri Luar Negeri Yaman Hussein al-Ezzi memperingatkan Amerika bahwa militernya akan memblokade Selat Bab el-Mandeb jika Washington terus menghambat proses perdamaian .

Sebelumnya Teheran sempat membuka blokade Selat Hormuz namun kembali mengumumkan penutupan selat tersebut pada Sabtu (18/4) setelah Amerika Serikat ternyata tetap memblokade kawasan Selat Oman .

Penutupan kembali dilakukan setelah terjadi insiden penembakan terhadap kapal milik Republik Islam yang memperburuk ketegangan antara kedua negara .

Amerika Serikat bahkan merilis video detik-detik saat pasukannya mengambil alih kapal kargo milik Iran menggunakan helikopter yang berasal dari kapal induk USS Tripoli .

Pasukan militer AS mengambil alih kapal kargo Tosca yang sebelumnya sempat ditembak oleh kapal penghancur USS Spruance (DDG-111) dengan alasan kapal tersebut mencoba menembus blokade di Selat Hormuz .

Merespons hal itu Teheran kembali membatasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz di mana militer setempat mengumumkan telah menghentikan dua kapal tanker minyak berbendara Angola dan Botswana .

Sejauh ini 14 kapal telah mematuhi tindakan penegakan hukum selama 72 jam terakhir sejak dimulainya operasi penutupan selat yang dilakukan oleh Iran .

Namun angka-angka tersebut belum dapat dikonfirmasi secara independen oleh media internasional karena akses ke kawasan yang sangat terbatas .

Jubir Markas Besar Pusat Khatam Al-Anbiya Letnan Kolonel Ibrahim Zulfagari menyebut bahwa Selat Hormuz telah kembali ke keadaan semula sebelum dibuka sementara .

Ia memastikan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup selama Amerika Serikat masih memblokade kapal-kapal yang berlayar di selat tersebut .

Komando Pusat Amerika Serikat merilis rekaman video pemblokadean dengan menargetkan kapal-kapal yang masuk atau keluar dari pelabuhan Iran untuk diminta belok ke Teluk Oman .

Presiden Amerika Serikat bahkan menantang Teheran yang dinilai ingin melakukan pemerasan dengan kembali menutup Selat Hormuz .

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran paling vital di dunia yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia setiap harinya .

Ketegangan di perairan paling strategis ini dapat memicu krisis energi global dan kenaikan harga minyak yang signifikan .

Teheran menolak negosiasi perdamaian tahap kedua karena menilai tuntutan Amerika Serikat berlebihan dan blokade laut yang dilakukan melanggar kesepakatan gencatan senjata .

Sementara Amerika Serikat mengancam akan melanjutkan perang serta menyerang infrastruktur energi Iran jika Teheran tetap menolak kesepakatan damai sebelum masa gencatan senjata berakhir .

Presiden Iran Masud Pezeskian menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak berhak merampas hak nuklir Republik Islam karena apa yang dilakukan Teheran saat ini hanya membela diri .

"Kami tidak berusaha memperluas perang. Kami bukanlah inisiator perang. Kami tidak menyerang siapa pun dan kami tidak berniat menyerang siapa pun sekarang. Kami hanya menginginkan hak-hak kami," katanya dalam pidato nasional .

"Mereka ingin menolak hak-hak suatu bangsa suatu masyarakat melalui intimidasi. Mereka berkata kami telah memutuskan Anda tidak boleh menggunakan hak ini. Jika seseorang tidak membela diri mereka akan mati. Jika seseorang dipukul dan tidak bereaksi itu berarti mereka akan mati," sambung Pezeskian .(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung