Repelita [Jakarta] - Unggahan menyentuh hati beredar luas di berbagai platform digital dan menyita atensi publik nasional terkait nasib tragis seorang warga.
Penceramah kondang tanah air membagikan potret seorang anak perempuan yang tak kuasa menahan air mata akibat kepergian sang ayah untuk selama-lamanya.
ADVERTISEMENT
Ayah dari bocah malang tersebut meregang nyawa usai dihakimi massa secara brutal karena kedapatan mengambil bahan pangan berupa unggas peliharaan.
Respons luas dari warganet langsung membanjiri ruang siber milik sang pemuka agama dengan melontarkan berbagai kritik tajam terhadap realitas sosial.
Adapun caption dalam postingan UAS tersebut berisi.
Gadis kecil itu anak kita.
Keponakan kita.
Adik kita.
Diri kita.
Mencuri ayam tidak benar.
Tapi ayam dibayar dengan nyawa tidak bisa dibenarkan.
Mengapa saudara kita mencuri.
Di tengah negeri gemah ripah loh jenawi.
Emas, nikel, minyak dan gas melimpah.
Negeri penuh berkah.
Tapi rakyat susah.
Nenek tua mengais beras.
Pak tua mencuri sawit.
Emas batangan dalam simpanan.
Pesan kemanusiaan tersebut turut disuarakan ulang melalui tayangan video pendek yang menyoroti kesenjangan ekonomi di tengah kekayaan bumi pertiwi.
Isu kesejahteraan rakyat ini sebelumnya juga sempat disuarakan oleh utusan khusus kepresidenan tatkala bersilaturahmi langsung dengan sang pendakwah terkemuka.
Lima poin utama kebutuhan mendasar masyarakat disinyalir menjadi kunci utama terciptanya ketenteraman hidup di tengah tatanan sosial bernegara.
Kemanapun dia pergi jalan bagus, Biaya murah sekolah dan gratis, Lapangan pekerjaan murah, Biaya berobat subsidi besar, tempat ibadah sarana dan prasarana baik, kalau itu dipenuhi maka akan adem ayem, ujar UAS.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok