Arab Saudi, Berita

UEA Resmi Keluar dari OPEC, Analis Sebut Awal Keruntuhan Organisasi

Repelita.net

01 May 2026 18:39 WIB • 1,064 view

UEA Resmi Keluar dari OPEC, Analis Sebut Awal Keruntuhan Organisasi
Foto: Istimewa

Repelita Abu Dhabi - Rencana Uni Emirat Arab untuk memisahkan diri dari kelompok produsen minyak raksasa OPEC dan melangkah secara mandiri pada 1 Mei 2026 dipandang sebagai pukulan telak yang dapat menandai awal dari keruntuhan organisasi tersebut.

Seorang analis bahkan mendeskripsikan momen bersejarah ini sebagai "the beginning of the end of Opec" di tengah lanskap geopolitik global yang kian tidak menentu pascakonflik Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

ADVERTISEMENT

Langkah monumental UEA ini diambil pada saat pasar minyak sedang mengalami volatilitas ekstrem akibat perang yang memicu hilangnya pasokan minyak terbesar dalam sejarah pencatatan dunia sebagaimana dikonfirmasi oleh Bank Dunia.

OPEC atau Organization of the Petroleum Exporting Countries didirikan pada tahun 1960 oleh lima negara yaitu Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, dan Venezuela dengan tujuan utama mengendalikan pasokan demi memastikan stabilitas pendapatan negara-negara produsen.

Sejarah mencatat bahwa taring organisasi ini sangat tajam terutama pada krisis minyak 1973 ketika embargo Arab memicu lonjakan harga hingga 300 persen dan menyeret ekonomi Barat ke jurang resesi yang dalam.

Namun pengaruh OPEC terus memudar seiring waktu karena pangsa pasar mereka terhadap produksi minyak mentah global menyusut drastis menjadi 36,7 persen pada tahun 2025, turun jauh dari puncaknya yang mencapai lebih dari 52 persen pada tahun 1973.

Penurunan ini diperburuk oleh kebangkitan negara-negara non-OPEC seperti Amerika Serikat yang kini mendominasi sebagai produsen utama dunia dengan kapasitas 13,6 juta barel per hari.

Charles-Henry Monchau, Chief Investment Officer di Syz Group, secara gamblang menyebut kepergian UEA ini sebagai "akhir dari OPEC seperti yang kita kenal selama ini".

Sebagai produsen minyak mentah terbesar ketiga di OPEC setelah Arab Saudi dan Irak, UEA merasa ruang geraknya sangat dibatasi oleh kuota yang diberikan.

Kuota OPEC terbaru memaksa UEA menahan produksi di angka 3,2 juta barel per hari, padahal mereka telah berinvestasi besar-besaran dan memiliki kapasitas riil hingga hampir 4,8 juta barel per hari.

Kepala ekonom Capital Economics, David Oxley, menyebut UEA sejatinya sudah merasa gatal ingin memompa lebih banyak minyak untuk memaksimalkan pembangunan ekonomi di dalam negeri mereka.

Frustrasi atas negosiasi kuota yang birokratis dan lamban ini akhirnya memuncak menjadi keputusan resmi untuk keluar dari keanggotaan OPEC.

Dilansir dari Reuters, Menteri Energi UEA Suhail Mohamed al-Mazrouei menegaskan bahwa keluarnya negaranya merupakan taktik berdaulat murni bukan keputusan yang terburu-buru.

"Dunia membutuhkan lebih banyak energi. Dunia membutuhkan lebih banyak sumber daya, dan UEA ingin tidak dibatasi oleh kelompok mana pun," tegas al-Mazrouei dalam pernyataan resminya.

Jorge Leon, analis geopolitik di Rystad Energy, menyoroti bahwa kepergian UEA melucuti senjata penting dari tangan kartel minyak dunia tersebut.

"Kehilangan anggota dengan kapasitas produksi 4,8 juta barel per hari dan ambisi untuk memproduksi lebih banyak menghilangkan alat yang sangat berharga dari tangan kelompok OPEC," jelas Leon dalam kajiannya melalui DW.

"Dengan permintaan yang mendekati puncaknya, perhitungan bagi produsen dengan harga minyak rendah berubah dengan cepat, dan menunggu giliran dalam sistem kuota mulai terlihat seperti kehilangan peluang keuntungan," tambahnya.

Bagi masyarakat umum yang mengharapkan harga BBM segera turun akibat peningkatan pasokan dari UEA, kenyataan di lapangan berkata lain karena harga minyak mentah global masih meroket.

Harga minyak mentah acuan Brent saat ini berada di kisaran 117 dolar AS per barel, sementara patokan AS West Texas Intermediate berada di angka 105 dolar AS per barel.

Sebagai perbandingan, sebelum perang pecah pada akhir Februari lalu, harga kedua acuan tersebut bertengger di kisaran 73 dolar AS dan 67 dolar AS per barel.

Para analis sepakat bahwa dampak jangka pendek dari hengkangnya UEA bersifat nol atau tidak signifikan karena lumpuhnya Selat Hormuz.

Selat Hormuz yang menjadi jalur nadi bagi 10 hingga 12 juta barel minyak mentah harian telah ditutup efektif selama delapan pekan akibat ancaman militer Iran.

Meskipun demikian, dalam jangka panjang, pasokan ekstra dari UEA diproyeksikan mampu mendinginkan pasar minyak global yang sedang tertekan.

Ekonom dari Capital Economics memprediksi bahwa OPEC yang lebih terpecah belah dan lebih lemah dapat membatasi pengaruh kelompok tersebut terhadap harga minyak dunia.

"Hal itu bisa menggeser keseimbangan risiko ke arah harga minyak yang lebih rendah dari waktu ke waktu," tulis mereka dalam catatan analisisnya.

Monica Malik, kepala ekonom di ADCB, melihat manuver UEA ini sebagai strategi yang diperhitungkan dengan matang untuk jangka panjang.

"Ini membuka pintu bagi UEA untuk mendapatkan pangsa pasar global yang lebih besar ketika situasi geopolitik di Timur Tengah kembali normal nanti," ujar Malik.

Hengkangnya UEA bukan sekadar urusan barel minyak dan kuota produksi, melainkan manifestasi dari retaknya hubungan antara Abu Dhabi dan Riyadh.

Kedua kekuatan Teluk ini kini terjebak dalam persaingan sengit mulai dari kebijakan minyak hingga perebutan modal asing dan talenta global terbaik.

UEA kian asertif dengan kebijakan luar negerinya terutama setelah menandatangani Abraham Accords tahun 2020 dengan Israel.

Perjanjian tersebut memberi mereka akses langsung ke koridor kekuasaan di Washington dan meningkatkan posisi tawar di kancah internasional.

Keluarnya UEA dari OPEC ini juga menandai kemenangan politik tersendiri bagi mantan Presiden AS Donald Trump yang dulu kerap mengkritik organisasi tersebut.

Bertahun-tahun lalu, Trump secara agresif menuduh OPEC menipu seluruh dunia dan memanfaatkan situasi dengan memberlakukan harga minyak yang terlalu tinggi.

Dengan UEA yang kini bebas dari belenggu aturan organisasi, lanskap tatanan energi Timur Tengah dipaksa untuk mengatur ulang keseimbangan kekuatannya.

"Di luar kelompok tersebut, UEA akan memiliki insentif dan kemampuan untuk meningkatkan produksi, sehingga menimbulkan pertanyaan lebih luas tentang keberlanjutan peran Arab Saudi sebagai penstabil utama pasar minyak dunia," pungkas analis Jorge Leon secara kritis.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung