Berita, Timur Tengah

Trump Olok-olok Iran Bangkrut, Fakta Sebaliknya AS Justru Rugi Rp33 Triliun di Hari Pertama Perang

Repelita.net

23 April 2026 19:47 WIB • 1,068 view

Trump Olok-olok Iran Bangkrut, Fakta Sebaliknya AS Justru Rugi Rp33 Triliun di Hari Pertama Perang
Foto: Istimewa

Repelita Washington DC - Presiden Amerika Serikat Donald Trump melancarkan serangkaian unggahan pedas di platform Truth Social yang ditujukan kepada Iran dan para kritikus perangnya.

Dalam unggahan terbarunya, Trump dengan nada mengejek menyatakan bahwa Iran sedang mengalami kehancuran finansial yang luar biasa akibat konflik berkepanjangan.

ADVERTISEMENT

"Mereka ingin Selat Hormuz segera dibuka," kata Trump merujuk pada keinginan Iran untuk mengakhiri blokade yang melumpuhkan ekonominya.

Tak hanya itu, Trump juga mengolok-olok dengan menuding Iran kekurangan uang dan merugi hingga 500 juta dolar AS per hari akibat blokade laut.

"Militer dan Kepolisian Iran mengeluh bahwa mereka tidak dibayar. SOS!!!" tambah Trump dalam unggahannya yang bernada sarkastik.

Namun fakta lain justru mengungkap bahwa Amerika Serikat sendiri mengalami kerugian material yang cukup besar akibat perang ini.

Data yang berhasil dihimpun menyebutkan bahwa AS kehilangan aset militer signifikan senilai lebih dari US$2 miliar atau sekitar Rp33 triliun hanya dalam empat hari pertama konflik dengan Iran pada awal 2026.

Nilai kerugian tersebut mencakup kerusakan sistem radar strategis senilai $1,1 miliar yang berada di Qatar dan hilangnya jet tempur F-15 yang sangat canggih.

Iran dilaporkan melancarkan serangan balasan yang berhasil merusak sistem pertahanan vital AS termasuk radar AN/FPS-132 di Qatar dan komponen radar THAAD di Uni Emirat Arab.

Setidaknya 37 pesawat, baik yang berawak maupun nirawak, dilaporkan hancur atau rusak berat dalam 39 hari pertama konflik termasuk jet tempur F-15E dan F-35 siluman.

Biaya perang diperkirakan telah menembus angka miliaran dolar AS per hari dengan total potensi kerugian yang terus membengkak tergantung durasi konflik.

Angka kerugian ini kian membengkak setelah Iran berhasil menargetkan berbagai pangkalan militer AS di Timur Tengah termasuk Kamp Arifjan di Kuwait, Al-Udeid di Qatar, dan pelabuhan Jebel Ali di UEA.

Belum lagi kebijakan blokade Selat Hormuz oleh Iran yang memaksa Amerika Serikat menaikkan nilai bahan bakar minyak berkali-kali lipat dari harga normal.

Di tengah situasi ini, Republik Islam Iran mengklaim memiliki 'kartu baru' di medan perang untuk menghadapi Amerika Serikat dan Israel jika konflik berlanjut.

Memasuki hari ke-53, konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.

Teheran bahkan secara terbuka menolak untuk bernegosiasi dalam kondisi yang mereka sebut sebagai bayang-bayang ancaman dari AS dan sekutunya.

Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan bahwa Iran siap menunjukkan kartu baru di medan perang jika konflik terus berlanjut tanpa solusi damai.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa blokade terhadap pelabuhan Iran akan tetap berjalan hingga tercapai kesepakatan yang menguntungkan AS.

Perbedaan posisi yang sangat tajam ini membuat proses perundingan tahap dua yang rencananya berlangsung di Islamabad, Pakistan terhenti total.

Dari dalam negeri Iran, aktivitas sipil mulai dipulihkan secara bertahap dengan bandara utama seperti Imam Khomeini dan Mehrabad kembali dibuka.

Namun tuntutan utama Amerika Serikat yakni penghentian program nuklir dan penyerahan uranium yang telah diperkaya dengan tegas ditolak oleh Teheran.

Iran menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan semata-mata untuk kepentingan damai dan bukan untuk mengembangkan senjata pemusnah massal.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut langkah blokade di Selat Hormuz sebagai kesalahan besar yang dilakukan oleh kedua belah pihak yang bertikai.

Rusia menyerukan perpanjangan gencatan senjata sementara China menyampaikan keprihatinan mendalam atas meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Meski demikian, belum ada kepastian mengenai partisipasi Teheran dalam putaran negosiasi berikutnya yang direncanakan di kawasan Asia Selatan.

Presiden Trump mengumumkan bahwa gencatan senjata dengan Republik Islam diperpanjang tanpa batas waktu beberapa jam sebelum kesepakatan dua pekan itu berakhir pada Selasa (21/4/2026).

Trump menilai langkah ini diambil sebagai upaya memberi ruang bagi kedua negara untuk melanjutkan perundingan damai guna mengakhiri perang yang pecah sejak 28 Februari 2026.

Ia juga mengklaim bahwa kebuntuan dalam proses dialog merupakan dampak dari gejolak internal di pemerintahan Iran yang sedang tidak stabil.

Melansir CNN, Trump dalam pernyataannya menyebut bahwa keputusan gencatan senjata itu diambil setelah adanya permintaan resmi dari Pakistan sebagai mediator.

Pakistan, kata Trump, meminta agar serangan terhadap Teheran ditunda sampai para pihak bisa menyusun proposal yang lebih terpadu dan saling menguntungkan.

Namun langkah Trump itu dinilai bersifat sepihak dan belum ada kepastian apakah Iran maupun sekutu AS yaitu Israel akan menyetujui perpanjangan tersebut.

Kantor berita Tasnim News yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyebut bahwa Teheran tidak pernah meminta perpanjangan gencatan senjata dengan AS.

Iran bahkan kembali mengancam akan merespons setiap pelanggaran blokade Amerika Serikat dengan kekuatan penuh yang mereka miliki.

Penasihat Ketua Parlemen Iran dan penasihat strategis Mehdi Mohammadi menilai pengumuman Trump tidak berbobot dan menyebutnya sebagai upaya mengulur waktu.

Melalui media sosial X, Mehdi mengatakan bahwa perpanjangan gencatan senjata oleh Trump merupakan taktik licik untuk mempersiapkan serangan kejutan di kemudian hari.

Pernyataan Trump soal perpanjangan gencatan senjata ini bertolak belakang dengan ucapannya beberapa jam sebelumnya yang menyatakan kurang berminat untuk memperpanjang.

Saat itu Trump mengatakan tidak ingin melakukan langkah perpanjangan karena Washington tidak punya banyak waktu untuk berunding dengan Teheran.

Menurut Trump, saat kedua pihak sampai di lokasi perundingan, mereka baru mendapat persetujuan untuk melanjutkan dan Teheran tidak memiliki pilihan selain bernegosiasi.

Trump mengatakan Teheran memiliki insentif yang baik untuk membuat kesepakatan dengan Amerika Serikat serta menyebut rakyat Iran luar biasa namun kepemimpinannya keras kepala.

Merespon hal itu, Teheran melalui kantor berita Tasnim menyebut pemerintah AS dan media-media di dalamnya tampak dikelilingi oleh ilusi dan kebohongan besar.

Menurut Tasnim, apa yang dikatakan Trump dalam beberapa hari terakhir mengungkapkan gelombang kebohongan yang sepenuhnya dapat diverifikasi oleh publik.

Misalnya tiga hari yang lalu Trump mengatakan bahwa Steve Witkoff dan Jared Kushner sedang dalam perjalanan ke Islamabad, Pakistan untuk mempersiapkan perundingan.

Kemudian beberapa saat berikutnya ia mengatakan bahwa Wakil Presiden AS JD Vance tidak akan hadir di Islamabad karena masalah keamanan yang tidak jelas penyebabnya.

"Jika pernyataan Trump diterima begitu saja, maka beberapa pertemuan putaran kedua pembicaraan Iran-AS seharusnya sudah diadakan. Witkoff dan Kushner seharusnya juga sudah kembali ke Amerika Serikat! Jelas bahwa berita ini palsu, dan kepalsuannya menjadi jelas dalam beberapa jam," tulis Tasnim dengan tegas.

Analisa dari berbagai sumber menunjukkan bahwa Teheran tidak pernah meminta perpanjangan gencatan senjata dan pengumuman Trump dapat dimaknai sebagai kekalahan perang.

Makna pertama adalah bahwa Trump telah kalah dalam perang karena ia telah menguji dan menerapkan semua skenario yang mungkin namun tidak mencapai apa pun.

Kedua, meskipun perang tidak menghasilkan apa pun bagi AS, Trump dapat melakukan segala cara termasuk penipuan dengan mengklaim perpanjangan gencatan senjata.

Ketiga, kemungkinan lain adalah AS akan menarik diri dari perang dan Israel akan tetap berada dalam perang ini dengan dalih pelanggaran gencatan senjata di Lebanon.

Keempat, blokade laut yang berkelanjutan berarti kelanjutan permusuhan dan Iran tidak akan membuka Selat Hormuz setidaknya selama blokade masih berlaku.

Kelima, Amerika Serikat berupaya menjaga bayang-bayang perang di atas Iran agar ekonomi dan politik Teheran tetap dalam keadaan terhenti total.

Amerika Serikat percaya bahwa situasi di Teheran sama dengan situasi setelah Perang 12 Hari namun saat ini berbeda karena kendali Iran atas Selat Hormuz.

"Jika Amerika ingin mempertahankan bayang-bayang perang, mereka harus tahu bahwa Selat Hormuz akan tetap tertutup sepenuhnya," demikian peringatan Iran.

Iran menegaskan tidak akan membuka Selat Hormuz setidaknya selama blokade laut masih berlangsung dan akan menerobos blokade dengan kekerasan jika diperlukan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung