Berita, Timur Tengah

Trump Ngamuk Iran Tolak Negosiasi, IRGC Siaga Satu di Tengah Ancaman Hancurkan Infrastruktur

Repelita.net

20 April 2026 13:23 WIB • 1,081 view

Trump Ngamuk Iran Tolak Negosiasi, IRGC Siaga Satu di Tengah Ancaman Hancurkan Infrastruktur
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Babak baru konflik antara Amerika Serikat dan Iran memasuki fase paling panas setelah Teheran secara resmi menolak untuk melanjutkan negosiasi putaran kedua dengan pemerintahan Donald Trump.

Keputusan tegas Iran ini muncul sebagai respons atas kebijakan blokade laut yang diberlakukan Washington serta serangkaian insiden militer di perairan Selat Hormuz dan Laut Oman.

ADVERTISEMENT

Di tengah kebuntuan diplomasi tersebut, Presiden AS Donald Trump merespons dengan amarah yang meledak-ledak melalui platform Truth Social pada Minggu (19/4).

Trump mengancam akan menghancurkan seluruh pembangkit listrik dan jembatan di Iran jika Teheran terus menolak kesepakatan yang ditawarkan oleh Amerika Serikat.

“Kami menawarkan kesepakatan yang sangat adil dan masuk akal dan saya berharap mereka menerimanya dengan baik, jika tidak, maka AS akan menghancurkan setiap pembangkit listrik dan setiap jembatan di Iran, Tidak ada Tuan Baik Hati Lagi,” tegas Trump dalam unggahannya.

Sikap agresif presiden AS tersebut langsung memicu reaksi berantai di tubuh angkatan bersenjata Iran, khususnya Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Menurut laporan yang beredar, IRGC disebut telah menaikkan status kesiagaan mereka ke level tertinggi atau siaga satu menyusul ancaman langsung dari Washington.

Ketua parlemen Iran sekaligus kepala negosiator, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa kesiapan militer tetap menjadi prioritas utama meskipun jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup.

“Bukan berarti kami berpikir hanya karena kami sedang bernegosiasi, angkatan bersenjata tidak siap,” katanya dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah.

“Sebaliknya, seperti halnya rakyat berada di jalanan, angkatan bersenjata kami juga siap.”

Ghalibaf juga memperingatkan bahwa Iran dapat kembali membatasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz jika Amerika Serikat tidak menghentikan kebijakan blokade lautnya yang merugikan.

“Mustahil pihak lain bisa melewati Selat Hormuz sementara kami tidak. Jika Amerika Serikat tidak menghentikan blokade, lalu lintas di Selat Hormuz pasti akan dibatasi,” ujarnya dengan tegas.

Para pengamat geopolitik menilai bahwa ancaman Trump justru memperkuat sikap resistensi Teheran yang sudah sejak awal menolak berunding di bawah tekanan.

Iran berpendapat bahwa negosiasi tidak akan pernah berjalan seimbang jika tekanan militer dan ekonomi masih terus dilakukan oleh pihak lawan.

Dengan naiknya status siaga IRGC, kekhawatiran akan ledakan konflik besar di kawasan Teluk semakin mendekati kenyataan.

Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, kini berada di ambang ketidakstabilan paling serius dalam dekade terakhir.

Tanpa adanya perubahan sikap dari kedua belah pihak, babak baru konflik ini berpotensi menarik kekuatan global lainnya ke dalam pusaran perang yang lebih luas.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung