Repelita [Jakarta] - Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan klaim bahwa kekuatan militer Iran kini telah lumpuh total setelah serangkaian serangan udara gabungan bersama Israel.
Dalam bincang-bincang bersama Fox News pada Senin (13/7/2026), Trump menyebut bahwa Teheran telah kehilangan jajaran komandan militer tertingginya.
ADVERTISEMENT
“Mereka tak memiliki angkatan laut, mereka tak memiliki angkatan udara, semuanya hilang. Sistem pertahanan udara mereka hilang, para pemimpin mereka semua telah terbunuh, para pemimpin terbaik mereka telah terbunuh,” ujar Trump.
Trump sempat terekam salah menyebut nama Ayatollah Ali Khamenei sebagai Khomeini sebelum akhirnya beralih membahas Mojtaba Khamenei sebagai suksesor kepemimpinan Iran.
Hingga saat ini, sosok Mojtaba Khamenei belum menampakkan diri di hadapan publik sejak mengalami cedera dalam serangan udara besar pada 28 Februari 2026.
Peristiwa serangan tersebut sebelumnya juga dikabarkan menelan korban jiwa, termasuk sang ayah, Ayatollah Ali Khamenei.
Absennya Mojtaba dalam upacara pemakaman kenegaraan memicu spekulasi luas mengenai kondisi kesehatannya serta keberadaannya saat ini.
Pihak otoritas Iran menyatakan bahwa ketidakhadiran Mojtaba didasarkan pada alasan keamanan yang mendesak bagi kelangsungan pemerintahan.
Melalui saluran Telegram resminya, Mojtaba sempat mengeluarkan pernyataan tertulis yang menegaskan kewajiban untuk melakukan pembalasan atas tewasnya sang ayah dan para martir lainnya.
Sementara itu, konflik antara Washington dan Teheran kembali memanas setelah berakhirnya periode gencatan senjata sementara.
Trump secara resmi telah menginformasikan kepada Kongres AS terkait dimulainya kembali operasi militer melalui beberapa gelombang serangan udara ke wilayah Iran.
Sebagai bentuk respons, pihak Iran melakukan serangan balasan yang menyasar Bahrain serta dua kapal tanker milik Uni Emirat Arab.
Insiden tersebut dilaporkan menewaskan seorang pelaut berkebangsaan India dan melukai delapan orang lainnya, sementara UEA menyatakan kesiapan untuk menindaklanjuti dengan aksi balasan.
Fokus konfrontasi kini tertuju pada Selat Hormuz yang merupakan jalur vital bagi pasokan minyak mentah dunia.
Aktivitas pelayaran komersial di kawasan strategis tersebut terganggu setelah Iran menyerang sebuah kapal kontainer di dekat wilayah perairan Oman.
Aksi saling serang ini secara resmi mengakhiri harapan atas kesepakatan interim selama enam puluh hari yang sempat direncanakan sebelumnya. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok