Berita, Timur Tengah

Trump Dilaporkan Frustrasi Lantaran Operasi Militer Terhadap Iran Menjadi Semakin Rumit

Repelita.net

18 July 2026 00:52 WIB • 855 view

Trump Dilaporkan Frustrasi Lantaran Operasi Militer Terhadap Iran Menjadi Semakin Rumit
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan menyimpan rasa tidak puas terkait progres Operasi Epic Fury terhadap Iran. Washington disebut melewatkan momentum emas untuk meredam konflik berkepanjangan setelah menolak proposal nuklir dari Teheran.

Dinamika internal Gedung Putih pun kian mencuat. Terjadi ketegangan antara Trump dengan Menteri Perang AS Pete Hegseth, di mana Hegseth dinilai terlalu agresif meski sempat diingatkan oleh Jenderal Dan Caine.

ADVERTISEMENT

Trump merasa frustrasi lantaran operasi militer yang berjalan menjadi lebih rumit dan memakan waktu melebihi perkiraan awal. Ia pun dikabarkan kesal saat menerima laporan mengenai keterbatasan operasional dari Hegseth dan Caine.

Kritik tajam juga mengarah kepada Kepala Komando Pusat AS, Laksamana Brad Cooper. Sejumlah pejabat Pentagon menuding Cooper sempat melebih-lebihkan kemampuan militer Amerika dalam memproyeksikan kekuatan ke Iran.

Kendati demikian, Wakil Sekretaris Pers Gedung Putih Anna Kelly menegaskan sikap pemerintah. Ia menyatakan bahwa Trump sangat bangga atas kepemimpinan Hegseth dan Cooper dalam menjalankan misi tersebut.

Pertemuan strategis digelar di Ruang Situasi Gedung Putih pada Selasa kemarin. Trump mengumpulkan para pembantu utamanya termasuk Wakil Presiden J.D. Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, serta Pete Hegseth.

Agenda rapat tersebut difokuskan pada perumusan rencana serangan baru yang lebih luas. Targetnya mencakup sasaran strategis di Iran di luar area yang saat ini menjadi medan tempur di Selat Hormuz.

Trump dalam wawancaranya bersama Fox News menegaskan perang akan terus ditingkatkan jika Teheran menolak negosiasi. Ia menyatakan pasukan AS akan terus menyerang berbagai target sampai ia memberikan instruksi untuk berhenti.

Kami menghantam mereka dengan sangat keras. Kami menghantam setiap sasaran yang mereka miliki di sepanjang pesisir... Serangan akan terus berlanjut sampai saya mengatakan sudah cukup, tegasnya.

Sektor energi Iran sejauh ini belum menjadi target utama, namun tetap masuk dalam daftar incaran. Saya akan menyimpan sasaran energi untuk tahap terakhir, tetapi pada akhirnya kami akan menyerang fasilitas energi, lanjut Trump.

Ancaman semakin nyata bagi Teheran jika mereka tetap keras kepala. Ia berjanji akan menyasar pembangkit listrik dan jembatan mulai pekan depan sebagai langkah eskalasi.

Malam ini kami akan menyerang mereka dengan sangat keras. Besok malam juga demikian. Malam berikutnya juga. Pekan depan keadaan akan menjadi jauh lebih buruk bagi mereka karena kami akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan mereka, kecuali mereka kembali ke meja perundingan, ancamnya.

Ia meyakini Iran akan terdesak dan bersedia menempuh jalur damai. Komunikasi antara pejabat kedua negara bahkan diklaim masih berjalan satu jam sebelum ia memberikan keterangan tersebut.

Mereka ingin membuat kesepakatan... Lebih baik mereka melakukannya. Jika tidak, tidak akan ada yang tersisa, ucap Trump.

Terkait status Selat Hormuz, ia menegaskan pentingnya jalur tersebut tetap terbuka. Saya sempat ingin mengenakan biaya, tetapi mereka lebih memilih membelanjakan lebih banyak uang di Amerika Serikat. Menurut saya itu lebih baik karena saya tidak menyukai gagasan mengenakan biaya. Selat itu harus tetap bebas, paparnya.

Sikap keras kepala ditunjukkan Iran dengan menegaskan Selat Hormuz tetap tertutup bagi pihak yang menolak syarat mereka. Juru Bicara Angkatan Darat Iran Mohammad Akrami-Nia menyatakan otoritas penuh atas selat tersebut harus diakui Teheran.

Ia menuntut Washington mematuhi kerangka perdamaian bulan lalu. Selain itu, AS harus menghentikan tindakan bermusuhan dan menerima regulasi Iran atas perairan tersebut.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memberikan tanggapan melalui media sosial X. Ia merespons ancaman Trump soal biaya pelayaran.

Presiden AS benar sekali. Siapa pun yang menyediakan jalur aman dan terjamin bagi kapal-kapal komersial melalui Selat Hormuz harus diberi kompensasi atas layanan ini, tulis Araghchi lewat akun https://x.com/araghchi.

Iran selalu menjadi PENJAGA Selat dan akan tetap demikian SELAMANYA, tegasnya dalam cuitan tersebut.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung