Repelita Washington DC - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan telah mengeluarkan perintah rahasia di tengah kebuntuan perundingan damai dengan Iran, sebuah langkah yang dinilai ekstrem dan berbahaya .
Perintah rahasia tersebut adalah penerapan blokade maritim berskala besar terhadap Iran yang dirancang berlangsung terus-menerus untuk mencekik ekonomi negara itu .
ADVERTISEMENT
Langkah ini diambil dengan tujuan memaksa Teheran menyerah total, bukan hanya menghentikan program pengayaan uranium, tetapi membongkar habis seluruh fasilitas nuklirnya .
Kabar mengenai perintah rahasia Trump ini pertama kali diungkap oleh media terkemuka The Wall Street Journal (WSJ) dan langsung memicu reaksi berantai di pasar minyak global .
Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin telah melayangkan peringatan keras kepada Trump tentang adanya "konsekuensi mengerikan" jika perang kembali pecah di tengah masa gencatan senjata yang rapuh saat ini .
Putin menyampaikan peringatan itu melalui sambungan telepon langsung yang berlangsung sekitar 90 menit, di mana ia menegaskan bahwa dimulainya kembali permusuhan akan menjadi langkah sangat berbahaya bagi stabilitas global .
"Putin mengatakan kepada Trump bahwa permusuhan yang diperbaharui akan menjadi berbahaya dan tidak dapat diterima, terutama operasi darat apapun di wilayah Iran," ungkap penasihat kebijakan luar negeri Kremlin Yuri Ushakov kepada kantor berita negara Rusia TASS .
Alih-alih takut atau gentar, Trump justru menolak tawaran bantuan Putin yang menyangkut isu pengayaan uranium Iran .
"Saya katakan kepada Putin, 'Saya jauh lebih suka Anda terlibat dalam mengakhiri perang dengan Ukraina'," ujar Trump kepada wartawan saat ditemui di Oval Office pada Rabu (29/4/2026) .
Menghadapi tekanan dan ancaman tersebut, militer Iran menyatakan tetap berada dalam kondisi siaga tempur penuh meskipun gencatan senjata tengah berlangsung .
Juru bicara angkatan darat Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia, menegaskan bahwa pihaknya tidak menganggap perang benar-benar telah berakhir .
"Kami tidak menganggap perang telah selesai. Sejak hari pertama gencatan senjata, kami terus memperbarui target, menyempurnakan bank sasaran, dan menjaga kesiapan tempur," ujar Akraminia dilansir dari Tasnim News, Rabu (29/4/2026) .
Ia menambahkan bahwa Iran juga telah memproduksi dan memodernisasi peralatan militer terbaru selama masa jeda pertempuran .
Brigadir Jenderal Akraminia menegaskan bahwa kondisi negara saat ini masih diperlakukan layaknya situasi perang, di mana pemantauan, pengawasan, dan penguatan pasukan terus dilakukan tanpa henti .
Lebih mengerikan lagi, ia memperingatkan bahwa jika musuh kembali menyerang, Iran siap merespons dengan metode dan persenjataan baru yang jauh lebih menghancurkan dari sebelumnya .
"Setiap agresi baru akan dibalas dengan respons yang lebih menghancurkan dari sebelumnya," tegasnya .
Peringatan Iran ini bukanlah isapan jempol belaka, mengingat media AS sendiri membocorkan bahwa Trump tengah mengkaji opsi serangan besar-besaran termasuk penguasaan Selat Hormuz hingga operasi pasukan khusus untuk mencuri uranium Iran .
Skenario perang terbuka pun semakin nyata di tengah kebuntuan negosiasi yang tidak kunjung menemukan titik terang .
Dunia kini menahan napas menanti apakah Trump akan mengabaikan peringatan Putin dan ancaman balasan Iran yang siap menghancurkan, atau justru mencari jalan keluar dari eskalasi yang semakin berbahaya ini .(*)
Editor: 91224 R-ID Elok