Repelita Washington DC - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengguncang jagat maya dengan unggahan berapi-api di platform Truth Social pada Minggu (5/4/2026) yang bertepatan dengan Hari Paskah.
Dalam ancaman terbarunya, Trump secara eksplisit memerintahkan Iran untuk membuka Selat Hormuz dan menyebut Selasa depan sebagai "Hari Pembangkit Listrik dan Hari Jembatan" bagi Teheran.
ADVERTISEMENT
"Minggu, 8:00 PM Waktu Timur!" tulis Trump memberikan tenggat waktu yang presisi dalam unggahannya tersebut.
Presiden yang kini berusia 79 tahun itu menulis dengan huruf kapital dan nada penuh amarah: "Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semuanya digabung menjadi satu, di Iran."
"Tidak akan ada yang seperti ini!!! Bukalah selat sialan itu, kalian bajingan gila, atau kalian akan hidup di neraka - LIHAT SAJA!" lanjut ancaman Trump dalam unggahannya.
Unggahan tersebut langsung memicu gelombang reaksi, termasuk dari sekutu dekat Trump di masa lalu, mantan anggota Kongres Marjorie Taylor Greene, yang kini menjadi kritikus Trump.
Greene menyebut presiden tersebut "telah menjadi gila" dan menyerukan agar para pembantu di Gedung Putih segera melakukan intervensi atas "kegilaan Trump".
Pertanyaan mengenai kondisi mental Presiden Trump juga kembali mencuat di tengah ancamannya yang dinilai melampaui batas kewajaran oleh banyak pihak.
Jurnalis MS NOW Katy Tur baru-baru ini melakukan deep dive mengenai ketajaman mental Trump dan mengutip jajak pendapat Washington Post/ABC/Ipsos.
Hasil jajak pendapat tersebut menemukan bahwa 56 persen orang Amerika percaya Trump kurang memiliki ketajaman mental untuk menjabat secara efektif.
Para kritikus menunjukkan kebiasaan Trump yang sering melantur ke topik tidak relevan dalam rapat kabinet yang membahas perang.
Salah satu contohnya adalah ketika ia bercerita tentang pulpen Sharpie favoritnya di sela-sela pembahasan konflik Iran.
Dalam wawancara terpisah dengan Axios, Trump mempertegas keseriusannya dengan mengatakan ada kemungkinan bagus untuk mencapai kesepakatan.
"Tetapi jika mereka tidak membuat kesepakatan, saya akan meledakkan semuanya di sana," ancam Trump seraya menambahkan bahwa ia mempertimbangkan untuk meledakkan semuanya dan mengambil alih minyak jika negosiasi gagal.
Alih-alih gentar, para pemimpin di Teheran justru membalas ancaman Trump dengan cibiran dan tantangan keras.
Juru bicara kepresidenan Iran, Seyyed Mehdi Tabatabaei, menyatakan bahwa selat tersebut akan dibuka kembali hanya jika sebagian biaya transit digunakan untuk mengkompensasi semua kerusakan akibat perang.
Pernyataan lebih keras datang dari Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi dari komando militer pusat Iran yang menyebut kata-kata Trump sebagai tindakan tidak berdaya, gugup, tidak seimbang, dan bodoh.
"Makna sederhana dari pesan ini adalah bahwa pintu neraka akan terbuka untuk Anda," balas Jenderal Aliabadi membalikkan ancaman neraka Trump kembali kepada pemimpin AS tersebut.
Lebih dari 100 pakar hukum internasional di AS telah menandatangani surat terbuka yang menyatakan bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil seperti pembangkit listrik dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Kelompok ahli tersebut juga menyoroti tingginya biaya perang serta korban sipil termasuk serangan rudal Tomahawk AS yang menghantam sebuah sekolah dasar di Iran pada hari pertama perang.
Saat artikel ini ditulis, Selat Hormuz masih tertutup dan dunia kini menahan napas menunggu apakah "Hari Pembangkit Listrik" benar-benar akan terjadi.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
#عاجل| ترمب: افتحوا المضيق اللعين أيها المجانين وإلا فستعيشون في الجحيم pic.twitter.com/mLHpCeQHCz
— قناة الجزيرة (@AJArabic) April 5, 2026