Berita, Timur Tengah

Trump Ancam Bawa Iran ke Zaman Batu, Jenderal IRGC Balas: Delusi Hollywood, Bandingkan Sejarah 250 Tahun vs 6.000 Tahun

Repelita.net

02 April 2026 23:39 WIB • 1,239 view

Trump Ancam Bawa Iran ke Zaman Batu, Jenderal IRGC Balas: Delusi Hollywood, Bandingkan Sejarah 250 Tahun vs 6.000 Tahun
Foto: Istimewa

Repelita Washington - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memantik kontroversi setelah melontarkan ancaman akan "membawa Iran kembali ke Zaman Batu" dalam pidato kenegaraannya di Gedung Putih pada Rabu, 1 April 2026 malam waktu setempat .

Pernyataan itu hadir di tengah konflik yang masih menyala, ketika jalur energi global terganggu dan harga minyak dunia melonjak akibat blokade Selat Hormuz oleh Iran .

ADVERTISEMENT

Dalam unggahan di Truth Social, Trump menegaskan bahwa tekanan terhadap Iran akan terus berlanjut hingga terpenuhinya kepentingan Amerika, termasuk soal pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut .

"Kami akan menyerang mereka dengan sangat keras selama dua hingga tiga minggu ke depan. Kami akan membawa mereka kembali ke Zaman Batu, tempat mereka seharusnya berada," ujar Trump dalam pidatonya yang berlangsung selama 19 menit .

Balasan dari pihak Iran datang tidak kalah keras, langsung disampaikan oleh Komandan Angkatan Luar Angkasa Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Brigadir Jenderal Majid Moosavi .

Moosavi menyebut ancaman Trump sebagai "delusi Hollywood" yang menggambarkan cara pandang Amerika yang dianggap terlalu terpengaruh oleh narasi film dan superioritas semu .

"Dengan sejarah yang baru berusia sekitar 250 tahun, bagaimana Anda bisa mengancam peradaban yang telah berdiri lebih dari 6.000 tahun?" ujar Moosavi dalam unggahan di akun X miliknya .

Pernyataan itu juga diarahkan kepada Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, yang sebelumnya ikut menggaungkan narasi serupa melalui unggahan bernada keras di media sosial .

"Kalianlah yang mengubur prajurit kalian di bawah batu nisan, bukan Iran, sehingga kalian ingin mengembalikannya ke Zaman Batu," sindir Moosavi membalas pernyataan Hegseth .

Bagi Iran, ancaman tersebut tidak hanya dinilai agresif tetapi juga menunjukkan kegagalan Amerika dalam memahami kompleksitas sejarah dan geopolitik kawasan Timur Tengah .

Di balik saling serang pernyataan ini, tersimpan pertarungan narasi yang lebih dalam antara kekuatan militer modern dan identitas peradaban tua yang telah berusia ribuan tahun .

Iran mencoba menempatkan dirinya bukan sekadar sebagai negara, namun sebagai warisan sejarah panjang yang tak mudah digoyahkan oleh ancaman dari bangsa yang usianya masih sangat muda .

Kedutaan Besar Iran di India dalam pernyataan resmi di X menegaskan bahwa Iran tidak akan "diusir kembali ke Zaman Batu" oleh pemboman AS dan Israel .

"Kami adalah bangsa dengan peradaban 7.000 tahun. Sejarah mengenal kami dengan baik. Yang jelas adalah: KAMUlaha yang membawa pembunuhan anak-anak dan kejahatan terhadap kemanusiaan dari Zaman Batu ke dunia modern," demikian bunyi pernyataan tersebut .

Bagi Amerika Serikat sendiri, retorika keras kerap menjadi alat tekanan politik baik ke dalam negeri maupun kepada sekutu internasional di tengah konflik .

Namun, dalam situasi yang sudah rapuh, kata-kata semacam ini justru berpotensi memperlebar jurang konflik dan memperburuk ketegangan yang sudah ada .

Publik global kini menyaksikan bagaimana perang tidak hanya berlangsung di medan tempur, tetapi juga di ruang komunikasi publik .

Setiap pernyataan menjadi peluru, setiap respons menjadi tameng dalam perang narasi yang tidak kalah sengitnya dari pertempuran fisik .

Dan ketika ancaman "Zaman Batu" dihadapkan dengan klaim "peradaban 6.000 tahun", dunia diingatkan bahwa konflik ini bukan sekadar soal siapa yang lebih kuat secara militer .

Pertarungan ini juga menyangkut siapa yang mampu mengendalikan cerita yang dipercaya oleh banyak orang di seluruh dunia .(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung