Berita, Nasional

TERTAMPAR? Benarkah Kata Prabowo Orang Desa Tak Pakai Dolar Padahal Tahu Tempe Masih Tergantung AS?

Repelita.net

17 May 2026 21:03 WIB • 1,092 view

TERTAMPAR? Benarkah Kata Prabowo Orang Desa Tak Pakai Dolar Padahal Tahu Tempe Masih Tergantung AS?
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Publik seolah tersentak oleh hantaman realitas ekonomi yang kontradiktif menyusul pernyataan pimpinan tertinggi negara mengenai kekebalan finansial masyarakat pedesaan terhadap guncangan mata uang global.

Saat meresmikan sebuah situs bersejarah di wilayah Jawa Timur, sang presiden mengimbau khalayak luas agar tidak bersikap panik berlebihan dalam merespons keterpurukan nilai tukar domestik saat ini.

ADVERTISEMENT

"Rupiah begini, rupiah begini, apa? Dolar begini, dolar begini. Orang, rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan?" kata Prabowo.

"Pangan aman, energi aman, ya banyak negara panik. Indonesia masih oke," imbuhnya.

Akan tetapi, klaim optimis tersebut seketika runtuh oleh fakta riil di lapangan di mana rantai konsumsi pangan harian warga di pelosok daerah justru masih sangat bergantung pada pasokan luar negeri.

Makanan merakyat yang menjadi primadona meja makan di pedesaan seperti tahu dan tempe nyatanya diproduksi menggunakan bahan baku impor yang transaksinya sangat terikat oleh pergerakan mata uang asing.

Laporan proyeksi ketahanan pangan nasional secara gamblang memaparkan realitas pahit bahwa sembilan puluh persen dari total kebutuhan kacang kedelai domestik belum mampu dipenuhi secara mandiri.

Jurang pemisah yang lebar antara minimnya kapasitas panen petani lokal dengan tingginya tingkat kebutuhan masyarakat memaksa negara untuk terus mendatangkan pasokan dari pasar internasional tiap tahunnya.

Otoritas pencatat data statistik juga mengonfirmasi konsistensi angka importasi komoditas agrikultur tersebut yang selalu berada pada level jutaan ton demi menyokong kebutuhan konsumsi harian masyarakat bawah.

Tingginya ketergantungan ini kian dipertegas oleh langkah taktis dari perhimpunan pelaku usaha komoditas terkait yang memilih memperkuat jalinan kemitraan dagang jangka panjang dengan negara produsen utama di kawasan barat.

Melalui komitmen perdagangan timbal balik yang disepakati, negara adidaya tersebut dipastikan menjadi pemasok utama jutaan ton kedelai per tahun guna mengamankan ketersediaan stok pangan nasional.

"Komitmen pembelian kedelai merupakan bagian dari upaya untuk menjamin kepastian pasokan kedelai nasional dan menjaga kelancaran distribusinya," ujar Ketua Akindo, Hidayatullah Suralaga.

Kondisi inilah yang memicu kritik tajam dari pengamat kebijakan ekonomi yang menilai pandangan meremehkan dampak kurs asing tersebut dapat membutakan masyarakat dari ancaman inflasi yang nyata.

Para analis memperingatkan bahwa lonjakan harga valuta asing yang telah menembus level psikologis baru dipastikan bakal menimbulkan efek domino yang langsung menekan daya beli warga di pedalaman.

"Jangan dikira pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang sudah Rp17.600, tidak akan menjalar ke biaya hidup yang naik, sampai ke level desa," ujar Bhima, Minggu (17/5/2026).

Rambatan beban ekonomi ini dipastikan terjadi mengingat mayoritas barang pendukung aktivitas harian warga lokal seperti alat komunikasi, kendaraan, hingga mesin elektronik rumah tangga menggunakan komponen luar negeri.

Kondisi tersebut kian diperparah oleh ketergantungan sektor energi domestik pada pasokan bahan bakar serta gas bersubsidi impor yang harganya otomatis akan ikut melambung seiring terdepresiasinya mata uang garuda.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung