Repelita Teheran - Tanda-tanda perundingan putaran kedua antara Iran dan Amerika Serikat bakal gagal semakin nyata setelah Presiden AS Donald Trump menyebut Iran bertindak agak kurang ajar di tengah penutupan kembali Selat Hormuz.
Langkah Iran menutup kembali jalur energi global ini terjadi hanya beberapa hari sebelum batas waktu gencatan senjata dua pekan mencapai titik kritis, memperkuat sinyal bahwa kepercayaan di antara kedua pihak sudah retak total.
ADVERTISEMENT
Trump memang menyebut negosiasi masih berjalan, namun frasa kurang ajar yang dilontarkannya mencerminkan hubungan yang kian menegang bukannya mereda menuju kesepakatan damai.
Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa kedua negara masih jauh dari kesepakatan akhir, seolah menutup rapat harapan bahwa gencatan senjata akan berujung pada perdamaian permanen.
Teheran menuduh Washington melanggar komitmen selama masa jeda konflik, sementara Gedung Putih justru menyiratkan kekecewaan mendalam terhadap perilaku Iran yang dinilai tidak kooperatif.
Selat Hormuz yang merupakan simpul pengalir hampir seperlima pasokan minyak dunia kini berubah menjadi ruang ancaman, dengan kapal perang Iran melepaskan tembakan ke kapal tanker yang mencoba melintas.
Dua kapal berbendera India turut terseret dalam eskalasi ini, memaksa Pemerintah India memanggil duta besar Iran sebagai tanda bahwa konflik mulai menjalar melampaui dua aktor utama.
Para pakar mengingatkan bahwa gangguan distribusi energi bisa berlangsung berbulan-bulan jauh melampaui durasi konflik itu sendiri, dan dunia kini menghitung harga yang harus dibayar jika perundingan gagal.
Yang tampak sekarang bukan lagi sekadar perang terbuka melainkan perang saraf, di mana kapal, pernyataan politik, dan keputusan ekonomi menjadi senjata yang sama tajamnya di tengah gencatan senjata yang rapuh.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok