Repelita [Jakarta] - Amerika Serikat dan Iran dikabarkan telah mencapai kata sepakat untuk mengakhiri ketegangan panjang melalui sebuah perjanjian damai.
Dokumen kerja sama kedua negara tersebut telah rampung dan dijadwalkan untuk ditandatangani secara resmi di Jenewa, Swiss, pada 19 Juni 2026.
ADVERTISEMENT
Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa langkah strategis ini merupakan permulaan krusial bagi terciptanya perdamaian jangka panjang di kawasan tersebut.
Poin utama dalam draf kesepakatan itu mencakup komitmen Washington untuk mencairkan aset milik Iran yang selama ini berada dalam status dibekukan.
Pemerintah AS juga berencana untuk melakukan pelonggaran terhadap berbagai sanksi ekonomi yang sebelumnya diterapkan untuk menekan Teheran.
Sebagai timbal balik, otoritas Iran memberikan jaminan untuk membuka kembali akses Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal internasional.
Selat tersebut memiliki peranan vital sebagai salah satu koridor utama dalam perdagangan minyak dunia yang selama ini sempat terkendala.
Kesepakatan ini juga secara eksplisit mengatur tentang penghentian total segala bentuk blokade yang diberlakukan terhadap Iran.
Namun, pembahasan mengenai program pengembangan nuklir Teheran akan dipisahkan dan bakal dibicarakan dalam putaran negosiasi berikutnya.
Sementara itu, pihak Israel menunjukkan reaksi negatif dan kekhawatiran mendalam terhadap isi draf perjanjian tersebut.
Para petinggi Israel memandang bahwa kesepakatan ini memberikan keuntungan lebih besar bagi Iran dan berpotensi memperkuat stabilitas ekonomi negara itu.
Pemerintah Israel juga menyoroti absennya pembahasan detail mengenai ancaman rudal balistik serta hubungan Teheran dengan Hizbullah.
Akibatnya, Israel merasa kepentingan keamanan nasional mereka belum terakomodasi dalam perjanjian yang diprakarsai oleh Amerika Serikat tersebut.
Meski mendapat penolakan dari sekutunya, pihak Washington dan Teheran tetap bersikeras melanjutkan upaya diplomasi ini demi stabilitas Timur Tengah.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok