Berita, Nasional

Susno Duadji Desak Pemerintah Klarifikasi Kritikan Tajam Media Internasional Terhadap Presiden Prabowo

Repelita.net

18 May 2026 22:05 WIB • 963 view

Susno Duadji Desak Pemerintah Klarifikasi Kritikan Tajam Media Internasional Terhadap Presiden Prabowo
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Mantan petinggi Korps Bhayangkara Susno Duadji turut memberikan atensi mendalam terhadap ulasan tajam yang dipublikasikan oleh kantor berita asing asal Britania Raya mengenai proyeksi pemerintahan baru.

Figur purnawirawan jenderal bintang tiga tersebut menilai bahwa editorial media barat itu terlampau lugas dan bernyali besar dalam membedah jalannya roda kekuasaan di bawah kendali istana sekarang.

ADVERTISEMENT

Oleh karena itu, dirinya mendorong agar jajaran kabinet segera merilis pernyataan resmi guna membendung persepsi publik yang kian liar dan simpang siur di tengah masyarakat.

Langkah ini dirasa mendesak lantaran dirinya secara aktif mengamati pergerakan opini publik yang dipicu oleh artikel kontroversial dari agensi pers internasional tersebut belakangan ini.

Ia menggarisbawahi bahwa sudut pandang kritis yang dibangun oleh media luar tersebut memiliki daya pengaruh yang masif dalam menggeser cara pandang khalayak terhadap stabilitas nasional.

“Terlalu berani media internasional menulis tentang Presiden Prabowo sedemikian rupa,” ujar Susno dikutip fajar.co.id, Senin (18/5/2026).

Kendati melayangkan catatan serius, mantan penyidik utama kepolisian ini mengingatkan semua pihak agar tidak langsung menelan mentah-mentah seluruh argumentasi asing tersebut karena akurasinya belum teruji nyata.

“Bahwa fakta mungkin tidaklah demikian,” tukasnya menyeimbangkan gelombang polemik di tengah masyarakat.

Tokoh kelahiran Sumatra Selatan tersebut berharap pihak istana mengambil sikap proaktif dengan tidak membiarkan bola panas isu finansial ini menggelinding tanpa adanya konfirmasi yang jelas.

Apalagi mengingat daya jangkau sebaran informasi dari kanal berita dunia itu sudah teramat luas dan telanjur memicu atensi dari berbagai kalangan pengamat domestik.

“Kita sangat menunggu penjelasan resmi pemerintah karena berita ini sudah beredar luas,” tegasnya menyuarakan kegelisahan publik.

Sebagaimana diketahui, agensi pers kenamaan Inggris tersebut mempublikasikan naskah analitis yang menyoroti peta jalan kebijakan moneter serta iklim politik di tanah air pada era kepemimpinan baru.

Mereka memproyeksikan bahwa sejumlah langkah strategis yang diambil kabinet saat ini berpotensi mendatangkan guncangan hebat pada ketahanan kas negara serta kualitas iklim kebebasan bernegara.

Dalam laporan berkala terbarunya, dipaparkan pula bahwa beberapa program kerja utama pemerintah justru menuntut pasokan dana yang sangat besar di kala kondisi makroekonomi global sedang tidak menentu.

Indonesia dinilai sedang bertaruh dengan risiko tinggi akibat perpaduan antara pembengkakan belanja negara, menyusutnya ruang anggaran belanja, serta adanya indikasi penguatan kontrol kekuasaan terpusat.

Fluktuasi tata kelola tersebut ditengarai memicu lahirnya sentimen negatif dari para pemilik modal internasional yang mulai meragukan prospek stabilitas ekonomi domestik dalam jangka panjang.

“Prabowo Subianto sedang mengikis keuangan negaranya dan juga demokrasinya,” tulis The Economist dalam artikelnya.

Analisis dari jurnalis barat itu bahkan mengaitkan kerentanan manajemen fiskal saat ini dengan memori kelam krisis moneter Asia pertengahan tahun sembilan puluh delapan yang sempat meruntuhkan orde baru.

Berdasarkan lembar ulasan tersebut, lembaran sejarah kelam itu semestinya diposisikan sebagai cermin berharga bagi para menteri keuangan agar lebih mawas diri dalam merumuskan skema utang serta belanja.

Namun, sejumlah terobosan yang diinisiasi oleh rezim saat ini justru dipandang condong memperberat beban finansial yang harus ditanggung oleh kas negara.

Fokus keberatan dari ulasan internasional tersebut membidik langsung pada realisasi pemenuhan asupan nutrisi gratis bagi anak-anak sekolah yang menjadi jualan utama pada masa kampanye lalu.

Ditambah lagi dengan rencana ambisius pengaktifan puluhan ribu lembaga kemitraan ekonomi di tingkat desa yang dinilai memerlukan guyuran modal awal yang sangat masif dari pemerintah pusat.

Konseptualisasi kedua program megah itu disinyalir bakal melahap hingga sepersepuluh dari total pagu anggaran tahunan negara dan berpotensi memicu defisit yang kian melebar di tengah ketidakpastian pasar global.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung