Berita, Nasional

Survei Prabowo Anjlok, Ryaas Rasyid: Tak Perlu Tunggu 5 Tahun, Pemerintahan Sudah Gagal

Repelita.net

16 September 2026 20:59 WIB • 117 view

Survei Prabowo Anjlok, Ryaas Rasyid: Tak Perlu Tunggu 5 Tahun, Pemerintahan Sudah Gagal
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Tingkat kepuasan publik terhadap kepemimpinan nasional di bawah Prabowo-Gibran dilaporkan menyentuh angka 37 persen berdasarkan hasil riset terbaru yang dirilis oleh Tempo Data Science pada kurun waktu 31 Juli hingga 11 Agustus 2026.

Lembaga survei tersebut juga membeberkan adanya tren persepsi negatif dari masyarakat luas terhadap stabilitas perekonomian negara yang dinilai sedang berada dalam fase kemerosotan yang cukup mengkhawatirkan.

ADVERTISEMENT

Menanggapi merosotnya tingkat kepercayaan masyarakat tersebut, Pakar Politik dan Ilmu Pemerintahan, Prof. Ryaas Rasyid, melontarkan analisis tajam serta pandangan kritisnya mengenai arah masa depan kabinet saat ini.

Ryaas berpendapat bahwa arah perkembangan suatu kepemimpinan politik tidak harus menunggu hingga waktu lima tahun penuh untuk bisa diprediksi muaranya secara akurat dan objektif.

Ia mengemukakan bahwa berbagai indikator awal yang tampak sejak hari-hari pertama memimpin sudah cukup bagi seorang pengamat berpengalaman guna mengambil kesimpulan fundamental.

Kalau begini terus iya (Pemerintahan Prabowo akan gagal). Banyak faktor sebenarnya, dan itu publik sudah tahu, ujar Ryaas Rasyid dalam pernyataan kritisnya pada Rabu, 16 September 2026.

Sebagai ilustrasi agar lebih mudah dipahami, ia lantas membandingkan dinamika politik tersebut dengan cara pandang seorang pengamat olahraga mengamati jalannya laga pertandingan lapangan hijau.

Sama dengan kalau ahli sepak bola melihat pertandingan sepak bola itu tidak perlu menunggu sampai babak kedua selesai baru dia tahu siapa menang, terang Ryaas Rasyid memperjelas analoginya.

Menurut pengamatannya, tanda-tanda kemenangan maupun kekalahan sebuah tim biasanya sudah mulai terlihat dengan jelas sejak menit-menit awal pertandingan dimulai oleh para pemain di lapangan.

Itu 10 menit, 20 menit pertama, ahli sepak bola sudah tahu siapa yang bakal kalah atau siapa yang bakal menang, imbuh Ryaas Rasyid menjelaskan alur pemikirannya kepada publik.

Pendekatan analogi serupa kemudian ia terapkan secara langsung dalam menilai kinerja serta masa depan pengelolaan negara yang sedang dijalankan oleh pemerintahan saat ini.

Nah saya juga begitu. Jadi saya tidak perlu menunggu 5 tahun. Sekarang pun sudah bisa saya simpulkan, kalau ini pola yang sama bergerak terus sampai 5 tahun, itu sudah pasti gagal, tegas Ryaas Rasyid.

Bagi tokoh senior tersebut, persoalan mendasar yang patut disoroti bukan lagi sekadar potensi hambatan di masa mendatang, melainkan kegagalan yang sudah nyata terjadi di depan mata.

Sekarangnya sudah gagal, tandas Ryaas Rasyid dengan nada bicara yang menyiratkan kekecewaan mendalam terhadap kondisi tata kelola pemerintahan yang tengah berjalan.

Meskipun demikian, ia menilai masih terdapat celah bagi pihak istana untuk melakukan perbaikan menyeluruh, kendati tahapan koreksi tersebut diakuinya bukanlah perkara mudah dilakukan.

Jadi kalau tidak dikoreksi, akan gagal terus sampai di ujung. Makanya harus dikoreksi dan dikoreksi ini tidak gampang, ujar Ryaas Rasyid menerangkan solusi perbaikannya.

Ia lantas menguraikan berbagai hambatan psikologis maupun struktural yang membuat proses evaluasi internal menjadi jauh lebih berat dan penuh dengan resistensi birokratis.

Karena pihak yang bersangkutan itu termasuk sulit untuk menerima kritik. Apalagi koreksi. Nah ini yang bikin masalah, ungkap Ryaas Rasyid menyoroti watak kepemimpinan eksekutif.

Di samping itu, ia juga mengingatkan bahwa upaya pemulihan kondisi bangsa tidak boleh semata-mata menggantungkan harapan pada masukan dari pihak luar atau kalangan pengamat independen.

Sehingga saya cepat saja menyimpulkan. Dan tidak mungkin lagi ditolong. Dia harus menolong dirinya sendiri, beber Ryaas Rasyid menegaskan sikap pesimisnya terhadap pihak luar.

Tidak hanya berhenti pada aspek politik, Ryaas turut melayangkan kritik keras terhadap kinerja para menteri serta pembantu presiden yang dinilainya minim pencapaian nyata.

Sekarang ini pemerintahan kita cuma ada presiden, timnya tidak kelihatan, tidak bekerja, tidak nampak prestasi yang bisa diukur, cetus Ryaas Rasyid menyoroti kinerja kabinet.

Sektor perekonomian nasional dan pasar tenaga kerja pun tidak luput dari daftar kritikan pedasnya akibat buruknya indikator fundamental makro ekonomi saat ini.

Ekonomi parah, tenaga lapangan kerja bahaya, dollar sampai sekarang sejak turun tidak pernah kembali, tutur Ryaas Rasyid menguraikan problem ekonomi yang melanda rakyat.

Ia turut merinci berbagai persoalan turunan mulai dari lesunya angka ekspor hingga membludaknya jumlah pengangkatan tenaga terdidik yang gagal terserap oleh dunia kerja.

Kinerja ekspor kita tidak sesuai dengan harapan pengangguran luar biasa impor terbaru kan ada 1 juta sarjana yang menganggur, tambah Ryaas Rasyid memaparkan data pengangguran.

Kondisi pelik tersebut dinilainya semakin diperparah dengan munculnya berbagai pernyataan kontroversial dari lingkaran kekuasaan yang mencerminkan kepanikan mental pejabat negara.

Ini kan luar biasa, lalu isu-isu yang negatif yang muncul mengenai anjuran supaya orang-orang Indonesia yang tidak puas silahkan pergi saja. Ini semua bentuk-bentuk dari kepanikan dan ketidakmampuan untuk mengelola negara secara baik, ulas Ryaas Rasyid.

Oleh sebab itu, ia kembali menegaskan keyakinannya bahwa inisiatif perubahan mutlak harus muncul dari kesadaran mandiri di dalam tubuh istana tanpa menunggu desakan luar.

Jadi sampai saya menyimpulkan bahwa tidak mungkin lagi diperbaiki. Dia harus memperbaiki dirinya sendiri, tegas Ryaas Rasyid dalam pandangan analitisnya.

Siapa pun yang berusaha untuk memperbaiki dengan memberi saran, memberi nasihat, masukan, itu tidak akan berhasil, imbuh Ryaas Rasyid mempertegas analisis politiknya.

Sikap resistensi yang tinggi di dalam pemerintahan dinilainya berakar dari rasa percaya diri berlebihan yang menutup rapat ruang dialog bagi berbagai elemen masyarakat.

Ada resistensi yang kuat pemerintahnya terlalu percaya diri atau mungkin pribadi presiden terlalu percaya diri sehingga sulit untuk masuk, jelas Ryaas Rasyid menganalisis mentalitas penguasa.

Meski demikian, ia meyakini bahwa keresahan atas arah kebijakan negara ini tidak hanya dirasakan oleh dirinya seorang, melainkan juga oleh banyak orang di sekitar istana.

Karena tidak mungkin hanya saya yang berpikir seperti ini, mesti banyak orang sekitarnya yang berpikir jernih. Saya sangat yakin, ucap Ryaas Rasyid menutup penjelasannya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung