Repelita [Jakarta] - Agenda safari politik mantan Presiden Joko Widodo yang berencana mendatangi berbagai wilayah di penjuru tanah air disinyalir memiliki kalkulasi politis yang sangat kompleks dan tidak tunggal.
Menurut pandangan dari analis politik senior Citra Institute, Efriza, keputusan mantan orang nomor satu di Indonesia tersebut untuk kembali turun ke tengah-tengah masyarakat harus dibaca secara sosiologis melalui perspektif yang multidimensional.
ADVERTISEMENT
Beliau mengamati bahwa manuver ini tidak lepas dari situasi penurunan kepercayaan publik yang cukup tajam terhadap figur tersebut belakangan ini, sehingga safari domestik menjadi instrumen taktis untuk melakukan konsolidasi emosional.
"Jokowi mendesain keliling Indonesia untuk memulihkan kembali nama dan citra dirinya, sekaligus reminding publik akan jasa dan legacy-nya," ujar Efriza kepada wartawan, Senin 25 Mei 2026.
Langkah pemulihan nama baik ini dinilai sangat mendesak bagi sang mantan kepala negara karena reputasinya di ruang publik telah mengalami degradasi menyusul mencuatnya polemik hukum seputar keabsahan dokumen akademis miliknya.
"Juga terbongkar di sidang-sidang soal kiprah Jokowi maupun ide Jokowi yang menyebabkan beberapa menterinya terjerat kasus korupsi," sambungnya menguraikan rentetan fakta persidangan yang berimplikasi negatif pada persepsi masyarakat.
Di sisi yang berbeda, pengamat dari Universitas Nasional tersebut menduga adanya motif tersembunyi berupa upaya penjajakan kekuatan politik untuk mengukur sejauh mana pengaruh figurnya masih memiliki daya pikat dalam mengarahkan opini massa.
"Sekaligus Jokowi juga sedang mencoba untuk melemahkan popularitas Prabowo Subianto di mata publik," kata Efriza menutup analisis strategisnya mengenai peta persaingan pengaruh di panggung politik nasional pasca-transisi kepemimpinan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok