Repelita Jakarta - Sindiran terbuka yang dilontarkan oleh Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono mengenai karakteristik seorang negarawan sejati memicu reaksi kritis dari jajaran politisi muda.
ADVERTISEMENT
Pernyataan tokoh sentral Partai Demokrat tersebut dinilai oleh sebagian kalangan sebagai bentuk kritik tersirat yang dialamatkan khusus kepada Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
Sorotan publik tertuju pada intensitas pergerakan politik luar ruang yang bersangkutan di berbagai wilayah pasca-jabatan, yang ditengarai memiliki korelasi dengan upaya mendongkrak eksistensi PSI.
Menyikapi berkembangnya polemik tersebut, politisi Partai Solidaritas Indonesia, Dedy Nur Palakka, menilai figur SBY sejatinya masih belum sepenuhnya steril dari pusaran aktivitas politik praktis.
Melalui argumen kritisnya, ia berpendapat bahwa aktivitas saling lempar kritik di ruang publik mengindikasikan adanya motif politik tersembunyi yang dijalankan secara tidak langsung.
"Saling sindir itu artinya SBY juga masih berpolitik, cuman agak malu-malu saja. Orang politik kalau masih senang intip dapur tokoh lain artinya dia juga belum selesai dalam politik," tulisnya di akun X pribadinya, dikutip Kamis (15/10).
Dedy menambahkan bahwa preferensi politik yang diperlihatkan oleh Jokowi saat ini justru jauh lebih transparan lantaran berani menunjukkan dukungan secara benderang kepada partainya.
"Jokowi jelas terbuka bersama PSI dan itu sangat baik, ngapain main belakang layar lagi. Dunia sudah ngga sama lagi," tegasnya.
Sebelumnya, saat menghadiri agenda seremonial Dies Natalis ke-68 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran pada Rabu (14/10/2026), SBY menguraikan dikotomi orientasi kerja antara politisi dan negarawan.
Ia menjelaskan bahwa seorang politisi pada umumnya akan selalu dihadapkan pada target-target pragmatis jangka pendek, seperti memenangkan kontestasi pemilu serta mengamankan struktur kekuasaan.
"Kalau presiden, gubernur, wali kota, bupati, berpikir semoga terpilih kembali. Anggota DPR, DPRD, DPD pasti berpikir terpilih kembali. Itu tidak salah. itulah politisi," kata SBY.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa upaya mempertahankan basis dukungan konstituen demi kepentingan elektoral merupakan hal yang jamak bagi setiap pejabat publik yang lahir dari rahim politik.
Kendati demikian, SBY memberikan garis tegas bahwa orientasi berpikir tersebut memiliki perbedaan mendasar dengan mentalitas seorang negarawan yang dituntut fokus pada kepentingan strategis masa depan negara.
"Negarawan harus memikirkan hal-hal jauh di masa depan. Stateman itu tak harus mantan presiden. Bukan semua bisa jadi negrawan. Country over party. Country first. Jangan pula dibalik, jangan partai politik diutamakan sementara negara belakangan, wrong," tegasnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok