Repelita Jakarta - Gelombang gerakan mahasiswa kini memunculkan suatu format baru dalam melakukan pengorganisasian aksi massa di tengah masyarakat luas.
ADVERTISEMENT
Pernyataan kritis tersebut disampaikan secara mendalam oleh Presiden Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya Muhammad Azhar Zidane dalam tayangan siniar terbaru di kanal YouTube forumkeadilanTV pada hari Kamis 22 Oktober 2026.
Langkah ini diambil guna menyikapi perjalanan dua tahun roda pemerintahan rezim kekuasaan yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Pihak mahasiswa menilai kondisi supremasi sipil serta ruang demokrasi di tanah air saat ini sedang mengalami penyempitan yang cukup signifikan.
Menurut pengamatan perwakilan mahasiswa tersebut jalannya kekuasaan saat ini dinilai memiliki kemiripan corak dengan masa lampau negara.
Hal itu didasarkan atas evaluasi lima sektor krusial mencakup tata kelola pemerintahan, hukum HAM, ekonomi, tata pendidikan, serta kelestarian lingkungan hidup.
Secara terbuka dirinya memaparkan penilaian objektif dari kubu mahasiswa dengan berujar "jelas bahwa 2 tahun rezim ini berjalan rezim ini hampir akan-akan mendekati bagaimana Orde Baru itu dijalankan kita cinta Indonesia tapi kita tidak cinta dengan rezimnya kita tidak cinta dengan pemerintahannya".
Adanya jarak sosial serta polarisasi ego sektoral antar-almamater kampus dituding kerap menghambat gerakan melebur bersama publik secara organik.
Kondisi tersebut yang melatarbelakangi lahirnya keputusan ekstrem dari para aktivis untuk menolak penggunaan simbol identitas jas kampus saat turun ke jalan.
Bahkan ia meminta rekan sejawatnya secara simbolis untuk memusnahkan jas kebanggaan kampus apabila atribut tersebut justru menciptakan sekat pemisah dengan warga.
Seruan pembakar semangat perjuangan itu diutarakannya secara gamblang dengan berujar "saya lepas almamater saya dan saya sampaikan buang dan bakar saja almamater ini jika karena almamater ini kalian punya gap dengan masyarakat yang ada buang dan bakar saja almamater ini jika kalian enggak mau turun ke jalan".
Langkah melepaskan identitas kelompok ini dinilai penting untuk menyadarkan serta mencerdaskan elemen masyarakat yang selama ini belum memiliki kepedulian sosial.
Selain itu para mahasiswa dari berbagai lintas daerah juga tengah merampungkan rumusan draf berisi kumpulan tuntutan masyarakat secara nasional.
Rencana demonstrasi besar secara serentak dijadwalkan akan segera digelar bertepatan dengan momentum historis Hari Sumpah Pemuda pada akhir bulan ini.
Sejumlah perwakilan pemuda dari luar Pulau Jawa seperti wilayah Kalimantan dikabarkan turut hadir demi membangun solidaritas perlawanan yang kokoh di daerah.
Ia menegaskan komitmen pergerakan tersebut dengan menyatakan "kita punya rencana untuk melakukan aksi nasional di tanggal 28 teman-teman dari Kalimantan yang merasakan sendiri bagaimana akhirnya kebrengsekan negara dan di momen itu mereka masih bilang bahwa kita masih sanggup untuk mengurus Kalimantan mereka datang ke sini untuk bersolidaritas bersama kita coba nyalakan api-api di daerah masing-masing dengan nanti api-api tersebut kita sangat sepakat bahwa permasalahan kita ini permasalahan nasional".
Simbol tiga jari atau three fingers yang diadopsi dari kultur sinema populer kini digaungkan sebagai identitas perjuangan baru kedaulatan sipil.
Lambang kepalan tersebut membawa tiga pesan moral utama yang dinilai sangat relevan dengan dinamika sosial politik tanah air hari ini.
Tiga prinsip gerakan tersebut mencakup kesetaraan kedudukan bagi seluruh warga negara, solidaritas bersama, serta resistensi terhadap kekuasaan yang korup.
Aktivis ilmu politik ini pun merinci makna filosofis gerakan baru tersebut dengan menegaskan "simbol Trifinger ini ya dari mana idenya simbol tersebut itu menyimbolkan egelite soliderate and resistance serukan Daulat rakyat dan selamatkan Daulat rakyat yang juga resistance berikan perlawanan sekecil-kecilnya perlawanan adalah perlawanan".(*)
Editor: 91224 R-ID Elok