Berita, Internasional

Selat Hormuz Pasca-Krisis: Dari Jalur Bebas Menjadi Gerbang Tol Geopolitik Iran

Repelita.net

19 April 2026 20:07 WIB • 982 view

Selat Hormuz Pasca-Krisis: Dari Jalur Bebas Menjadi Gerbang Tol Geopolitik Iran
Foto: Istimewa

Repelita Kuala Lumpur - Krisis yang terjadi saat ini di Selat Hormuz tidak bisa lagi dipandang sebagai persoalan teknis jalur pelayaran semata, menurut pandangan Nazri Hamdan, seorang pengamat geopolitik asal Malaysia.

Nazri Hamdan menilai bahwa konflik di kawasan tersebut telah menjelma menjadi ajang perang pengaruh antara Amerika Serikat dan Iran yang saling memperebutkan dominasi di Timur Tengah.

ADVERTISEMENT

Selama Washington masih bersikukuh mempertahankan blokade angkatan lautnya terhadap pelabuhan-pelabuhan milik Republik Islam, maka Teheran dipastikan tidak akan membuka kembali jalur strategis tersebut, kata Nazri Hamdan dalam analisisnya yang dipublikasikan pada Minggu, 19 April 2026.

Ia menjelaskan bahwa satu-satunya kartu tawar yang dimiliki Iran adalah kemampuan mengendalikan titik rawan tersebut, mengingat hampir dua puluh persen pasokan minyak mentah dunia harus melewati selat sempit ini setiap harinya.

Secara realistis, menurut Nazri Hamdan, krisis yang membelit kawasan ini akan sulit sekali menemukan jalan keluar selama Amerika Serikat tidak bersedia menarik seluruh kehadiran militernya sekaligus mencabut sanksi-sanksi ekonomi yang membelenggu Iran.

Konflik yang terjadi bukanlah masalah teknis yang bisa diselesaikan dengan perbaikan prosedur, melainkan murni permainan kekuatan geopolitik antara dua negara adidaya yang saling bersaing, tegas pengamat asal Malaysia tersebut.

Namun demikian, Nazri Hamdan memperingatkan bahwa bahkan dalam skenario terbaik sekalipun di mana Washington memutuskan menarik diri, dunia tidak boleh berharap Selat Hormuz akan kembali normal seperti sebelum konflik meletus.

Sejarah panjang serta situasi terkini di lapangan menunjukkan bahwa Iran akan terus berupaya memperkuat cengkeraman kendalinya atas jalur perairan ini sebagai aset strategis jangka panjang yang tidak akan mereka lepaskan begitu saja.

Dalam perkembangan yang paling mutakhir, Nazri Hamdan mencatat bahwa Iran bahkan telah mulai mengeluarkan peringatan keras bahwa setiap kapal yang berniat melewati selat tersebut wajib mematuhi prosedur kendali yang mereka tetapkan.

Laporan-laporan dari berbagai sumber juga menyebutkan bahwa telah terjadi insiden penembakan terhadap sejumlah kapal serta pembatasan pergerakan armada niaga yang mencoba melintas tanpa izin dari otoritas setempat.

Semua indikasi ini, menurut Nazri Hamdan, mengarah pada satu kesimpulan bahwa pasca konflik, struktur kekuasaan di Selat Hormuz akan berubah secara fundamental dari jalur bebas menjadi jalur terkendali yang berada di bawah pengaruh penuh Iran.

Dunia perlahan harus mulai menghadapi sebuah realitas baru di mana Selat Hormuz tidak lagi berfungsi sebagai perairan internasional yang bebas dilintasi, melainkan beroperasi layaknya sebuah gerbang tol geopolitik yang penuh dengan kepentingan.

Iran berpotensi besar untuk mulai mengenakan biaya-biaya tidak resmi kepada negara-negara pengguna jalur ini, atau bahkan memberikan jalur preferensial kepada sekutu-sekutu tertentu sebagai bentuk kompensasi politik dan ekonomi, ujar Nazri Hamdan.

Skenario seperti ini bukanlah sesuatu yang mustahil terjadi, mengingat dalam krisis-krisis sebelumnya Iran sudah terbukti menggunakan taktik penahanan kapal sebagai alat tekanan yang efektif terhadap kebijakan sanksi ekonomi.

Kesimpulan akhir yang ditarik oleh Nazri Hamdan adalah meskipun perang terbuka suatu saat nanti benar-benar berakhir, struktur risiko serta biaya perdagangan global tidak akan pernah kembali seperti semula karena keseimbangan kekuatan yang mengendalikan selat tersebut telah berubah secara fundamental.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung