Berita, Nasional

Sebut Reformasi 1998 Mati dalam Tiga Bulan, Zaenal Arifin Mochtar Soroti Dominasi Elite Orde Baru

Repelita.net

25 August 2026 15:42 WIB • 437 view

Sebut Reformasi 1998 Mati dalam Tiga Bulan, Zaenal Arifin Mochtar Soroti Dominasi Elite Orde Baru
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Sorotan kritis terhadap perjalanan politik nasional kembali mengemuka menyusul pandangan tajam akademisi mengenai kemunduran agenda reformasi di Indonesia.

Pakar hukum tata negara Zaenal Arifin Mochtar atau yang akrab disapa Prof Uceng menilai cita-cita reformasi 1998 sejatinya telah gugur dalam waktu yang sangat singkat.

ADVERTISEMENT

Kritik mendalam tersebut disampaikan melalui potongan pemaparannya yang diunggah kembali oleh akun Threads @latonanoo pada 25 Agustus 2026.

"Reformasi 98 itu umurnya cuma 3 bulan. Kita jatuhkan Soeharto. Kita punya enam agenda reformasi, bodohnya kita adalah siapa yang mengerjakan itu adalah orang-orang lama lagi. Ada satu nama yang kalau saya sebutkan Anda akan tahu dia dari zaman Soeharto sampai sekarang namanya ada terus di pemerintahan ." tulis akun @latonanoo.

Dominasi para elite politik dari era Orde Baru dalam pucuk pemerintahan dinilai sebagai penyebab utama kegagalan penataan ulang sistem penegakan hukum dan demokrasi.

"Wiranto itu gak pernah hilang. Nyaris gak pernah hilang. Luhud nyaris gak pernah hilang. Dia ada dan hidup di semua zaman. Itu yang saya bilang tadi bahwa kebodohan kita adalah kita jatuhkan Soeharto tapi kemudian yang yang melaksanakan program itu adalah orang lama, kita menjatuhkan Soeharto Mei 98, Agustus 98 sebenarnya reformasi Indonesia sudah mati. Kenapa? Karena kelompok lama berhasil melakukan konsolidasi. Mereka terconsolidated. Mereka terkonsolidasi" tulis akun @latonanoo.

Ketimpangan penerapan agenda reformasi turut diuraikan mulai dari persoalan sentralisasi kekuasaan hingga kembalinya peran lembaga keamanan di ruang sipil.

"apa agenda reformasi 98 yang didengungkan oleh aktivis-aktivis itu yang masih berjalan ? sampai sekarang coba sebutkan otonomi daerah enggak berjalan sekarang sentralistik Dwi fungsi ABRI dihapus ? enggak kan wong tentara sama polisi masuk di mana-mana Agenda pemberantasan korupsi kolusi, nepotisme tidak berjalan ? Mengadili Soeharto dan kroni-kroninya, Soeharto malah jadi pahlawan" tulis akun @latonanoo.

Kegagalan proses konsolidasi demokrasi tersebut digambarkan bagai sebuah putaran balik yang menyeret Indonesia kembali ke pola otoritarianisme masa lalu.

"Apa apa yang berhasil dari agenda 98 ? yang dibawa oleh siapapun tuh yang ngomong aktivis 98 ? Budiman Sujatmiko, Fahri Hamzah, Apa yang berhasil dari 98? Enggak ada Indonesia mengalami kayak putaran U, ternyata kita kan tidak pernah mencapai konsolidasi demokrasi. Kita baru jalan 3 bulan, ternyata kita sudah balik ke kondisi semula" tulis akun @latonanoo.

Gagasan mengenai perlunya konsolidasi gerakan baru serta penolakan tegas terhadap figur politik lama maupun sosok muda berkarakter lama turut disuarakan.

"saya nulis di Kompas beberapa bulan lalu. Saya mengatakan bahwa saatnya saatnya kita mendengungkan kembali reformasi jilid 2. Kita buat agendanya dan kita tentukan aktornya Jangan lagi orang lama. Jangan itu lagi itu lagi Dua aktor yang harus kita tolak masuk 1. Orang tua, orang-orang lama yang menyaru seakan-akan menjadi orang baru 2. anak muda tapi perilaku lama. Gibran menurut saya masuk di golongan yang kedua, orang muda tapi perilakunya lama" tulis akun @latonanoo.

Kutipan seluruh pandangan tersebut bersumber dari paparan akademis dalam acara kuliah umum bertajuk Kronik Otoritarianisme Indonesia yang disiarkan di platform digital.

"ini sumber utamanya, utas diatas adalah potongan dari ucapan prof uceng di youtube.com/watch…" tulis akun @latonanoo.

Hingga kini pernyataan mengenai evaluasi total atas perjalanan perjalanan demokrasi serta seruan reformasi jilid dua tersebut terus menjadi bahan perdebatan hangat publik. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

View on Threads

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung