Berita, Nasional

Said Didu Ingatkan Prabowo Belajar dari Kehancuran Negara Lain dalam Menentukan Kebijakan Strategis, Singgung Uni Soviet hingga Yugoslavia

Repelita.net

02 August 2026 22:34 WIB • 5,242 view

Said Didu Ingatkan Prabowo Belajar dari Kehancuran Negara Lain dalam Menentukan Kebijakan Strategis, Singgung Uni Soviet hingga Yugoslavia
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Pengamat kebijakan publik Muhammad Said Didu melayangkan peringatan mendalam kepada Presiden Prabowo Subianto terkait arah penentuan kebijakan strategis negara.

Relevansi sejarah dunia mencatat kehancuran sejumlah bangsa besar dipicu oleh kekeliruan keputusan para pemimpinnya.

ADVERTISEMENT

Pengalaman pahit negara-negara tersebut dinilai harus menjadi ikhtibar berharga bagi perjalanan bangsa Indonesia ke depan.

Melalui unggahan pada akun X resminya msaid_didu yang dipublikasikan pada Minggu (2/8/2026), Said Didu membeberkan rekam jejak transformasi ekstrim sejumlah kawasan akibat kepemimpinan nasional.

Proses runtuhnya Uni Soviet pada 1991 di era Mikhail Gorbachev serta perpecahan Yugoslavia pada awal era 1990-an dijadikan contoh nyata dampak kebijakan pimpinan puncak.

Pengamat tersebut juga mengkaitkan konstelasi geopolitik internasional dengan arah kepemimpinan para kepala negara dunia saat ini.

"Amerika Serikat dan dan Israel “masuk” kuburan. 2026 karena sikap Trump dan Netanyahu yang sok jagoan akan “mengubur AS dan Israel serta keseimbangan baru dunia akan terjadi," tulis Said Didu.

Sisi lain kemajuan pesat China dan Rusia dinilai berhasil terwujud lantaran ketegasan pimpinan dalam menegakkan hukum serta menekan intervensi kelompok oligarki.

Komparasi perkembangan antarnegara tersebut mempertegas bahwa keberlangsungan suatu bangsa sangat bergantung pada keberanian dan ketepatan keputusan strategis sang presiden.

"Indonesia akan bernasib seperti apa?" tulis Said Didu.

Masa depan serta keselamatan Republik Indonesia ditegaskan berada sepenuhnya di tangan kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Arah perjalanan bangsa diyakini tidak cukup dibentuk melalui retorika pidato melainkan lewat eksekusi kebijakan yang responsif, presisi, serta berpihak pada kedaulatan negara.

Pernyataan kritikal ini mengemuka seiring berhembusnya rumor mengenai wacana gelombang demonstrasi massa pada Agustus 2026 yang ditengarai akibat akumulasi kekecewaan publik.

Menanggapi isu pergerakan massa tersebut, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto menyatakan pihaknya belum menerima pemberitahuan resmi terkait rencana aksi berskala besar.

Jajaran kepolisian tetap menyiagakan langkah deteksi dini melalui pemantauan ruang siber serta penguatan koordinasi lini intelijen demi memelihara kondusivitas keamanan.

“Kami juga akan berkoordinasi dari analisa perkiraan intelijen terkait tentang situasi terkini. Tetapi perlu kami sampaikan bahwa situasi sampai saat ini masih bisa dapat dikendalikan,” jelas Budi.

Hingga saat ini belum ada tanggapan resmi dari Presiden Prabowo Subianto maupun jajaran Istana Kepresidenan merespons sorotan yang disampaikan Said Didu.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (1)

T
Tedi 03/08/2026

Mencontoh kpd 2 Negara tsb, mengingatkan kembali strategis salah satu di Indonesia mencetak Batalion2 & Rekrutmen Tentara saat skrg ini yg begitu banyak, srt meningkatkan Gajiinya, ini akan berdampak kesenjangan & kecemburuan sosial serta meperberat APBN setiap tahunnya, Neg Yugos mencetak Tentara banyak unk mencegah perpecahan negaranya rupanya tetap hancur

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung