Repelita Jakarta - Profesor Ryaas Rasyid menilai Presiden Prabowo Subianto masih memiliki utang politik kepada Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Pernyataan itu disampaikan dalam podcast Madilog di kanal YouTube Forum Keadilan TV yang dipandu Darmawan Sepriyossa.
ADVERTISEMENT
Menurut Profesor Ryaas Rasyid, pengangkatan Listyo Sigit sebagai Kepala Staf Kepresidenan menjadi bukti adanya kewajiban tersebut.
Listyo Sigit sebelumnya menjabat sebagai Kapolri sebelum digantikan Komjen Suyudi Ario Seto pada 1 Oktober 2026.
Pada hari yang sama Presiden Prabowo melantik Listyo Sigit menduduki posisi Kepala Staf Kepresidenan menggantikan Dudung Abdurachman.
Profesor Ryaas Rasyid menilai langkah tersebut menunjukkan Prabowo masih terikat dengan Listyo Sigit dalam dinamika kekuasaan.
Ia menekankan bahwa utang politik semacam itu lazim terjadi dalam praktik pemerintahan di Indonesia.
Pengangkatan mantan Kapolri ke posisi strategis di istana dinilai sebagai bentuk balas jasa atas dukungan sebelumnya.
Dalam konteks pergantian pimpinan Polri, Profesor Ryaas Rasyid melihat adanya kesinambungan pengaruh Listyo Sigit di pemerintahan Prabowo.
Hal ini menurutnya memperlihatkan bahwa hubungan antara kedua tokoh belum sepenuhnya terputus meski jabatan Kapolri telah beralih.
Profesor Ryaas Rasyid mengingatkan bahwa instrumen negara sebaiknya tidak dijadikan alat politik semata.
Ia menilai situasi ini bisa memengaruhi kinerja lembaga dan kepercayaan publik terhadap pemerintahan.
Pembahasan tersebut berlangsung di tengah reshuffle kabinet dan penataan struktur pejabat tinggi negara.
Profesor Ryaas Rasyid menekankan pentingnya menjaga independensi lembaga penegak hukum agar tidak tercampur kepentingan politik jangka pendek.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok