Berita, Nasional

Ryaas Rasyid: 20 Orang Terpintar di Dunia Pun Tak Mampu Bantu Prabowo

Repelita.net

21 September 2026 16:42 WIB • 37 view

Ryaas Rasyid: 20 Orang Terpintar di Dunia Pun Tak Mampu Bantu Prabowo
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Kritik mendalam diarahkan kepada Presiden Prabowo Subianto terkait pernyataan mengenai para pakar yang dinilai terlalu pintar hingga berakhir menjadi bodoh. Pandangan kritis tersebut disampaikan oleh mantan Menteri Negara Otonomi Daerah, Profesor Ryaas Rasyid, yang menilai ucapan sang kepala negara mencerminkan adanya problem serius dalam karakter kepemimpinan saat ini.

Pernyataan yang cukup menyita perhatian publik ini disampaikan langsung oleh Profesor Ryaas Rasyid dalam sebuah tayangan diskusi di kanal YouTube Forum Keadilan TV bersama host Darmawan Sepriyossa pada 21 September 2026. Menurutnya, tindakan meluapkan emosi di depan khalayak ramai merupakan suatu hal yang semestinya dihindari oleh seorang pemimpin negara.

ADVERTISEMENT

Dalam kesempatan dialog tersebut, ia memberikan penegasan secara langsung, “Marah di depan umum sebenarnya haram bagi seorang pemimpin. Mengumpat adalah sesuatu yang tercela.” Sikap emosional yang ditunjukkan secara terbuka itu dipandang sebagai indikasi dari kualitas kepemimpinan yang belum matang dan tidak semestinya dipertontonkan di ruang publik.

Profesor Ryaas Rasyid juga mengingatkan bahwa sang petahana tampaknya tidak bercermin pada gaya kepemimpinan mertuanya sendiri, yaitu Presiden kedua Republik Indonesia Soeharto. Sepanjang masa kepemimpinannya di era Orde Baru, Soeharto dikenal memiliki kemampuan menahan diri yang sangat kuat dan tidak pernah mengumbar amarah di hadapan rakyat.

Melalui tayangan di media sosial tersebut, ia menjabarkan, “Selama memimpin pemerintahan, Pak Harto tidak pernah marah di depan umum, apalagi memaki orang di depan umum.” Kemampuan menahan diri dan tidak mencaci orang lain secara terbuka menjadi catatan tersendiri yang dinilai membedakan karakter kepemimpinan masa lalu dengan pola yang berjalan saat ini.

Sisi kelemahan dalam tata kelola pemerintahan sekarang diduga berakar dari rekam jejak karier sang presiden yang murni berasal dari lingkungan militer. Akibat sepanjang hidupnya lebih banyak berkecimpung dalam dunia komando tanpa pengalaman empiris di birokrasi sipil, kapasitas kepemimpinannya menjadi kurang adaptif.

Kondisi tersebut dinilai berpengaruh besar pada cara merespons perbedaan pandangan politik serta mengelola kemajemukan kepentingan masyarakat luas. Profesor Ryaas Rasyid menekankan bahwa kompleksitas persoalan yang kini tengah mendera bangsa Indonesia berada pada level yang sangat pelik dan membutuhkan penanganan serius.

Berbagai tantangan makro mulai dari gejolak inflasi, ketidakstabilan cadangan devisa negara, hingga situasi perekonomian domestik yang rapuh kini menjadi beban berat bagi pemerintah. Ditambah lagi, target swasembada pangan nasional dirasa masih sangat jauh dari jangkauan nyata sementara kondisi negara digambarkan sedang berada di tepi jurang.

Melihat tumpukan krisis yang terjadi, ia berkeyakinan kuat bahwa model kepemimpinan komando yang diterapkan saat ini tidak akan sanggup melahirkan formula solusi yang tepat. Pola pendekatan kekuasaan yang kaku dipandang tidak cocok untuk menyelesaikan dinamika kebangsaan yang membutuhkan ruang dialog serta kerendahan hati.

Secara lugas ia menyatakan, “Bahkan jika semua orang terpintar di dunia didatangkan ke Indonesia, orang-orang terpintar di dunia datang ke Indonesia untuk mengelola Indonesia saat ini, persoalan ini tidak akan selesai dengan pola yang sekarang. Masalahnya adalah ketidakmampuannya. Tidak ada solusi. Tidak ada solusi yang mungkin. Mustahil. Ini masalah kepribadian. Tidak mau belajar.”

Ketidakmauan untuk mengevaluasi diri serta belajar dari kekeliruan dianggap menjadi akar utama dari kebuntuan sistemik yang dihadapi oleh jajaran kabinet. Dampaknya, kehadiran puluhan pakar terbaik dari berbagai belahan dunia sekalipun diperkirakan akan berujung sia-sia selama paradigma kepemimpinan di tingkat pusat tidak diubah.

Selain itu, Profesor Ryaas Rasyid juga melihat tidak adanya sosok penasihat yang kuat dan berani memberikan masukan objektif di lingkaran terdekat istana. Ketika sang pembawa acara menanyakan figur yang memiliki kapasitas untuk menasihati presiden, ia menjawab pendek bahwa dirinya tidak melihat satu pun sosok tersebut.

Menghadapi situasi pelik ini, ia menilai satu-satunya momentum perubahan hanya dapat terjadi apabila sang pemimpin bersedia melunakkan ego politiknya. Kerendahan hati untuk membuka diri dipandang sebagai langkah awal yang paling krusial untuk menyelamatkan tata kelola pemerintahan dari ancaman kegagalan total.

Pesan spiritual pun turut diselipkan sebagai penekanan akhir terhadap urgensi perbaikan kepemimpinan nasional di tengah badai krisis multidimensi ini. Ia mengingatkan kembali, “Manusia harus terlebih dahulu membuka diri kepada Allah, kepada Tuhannya.”

Oleh sebab itu, seluruh elemen masyarakat diimbau untuk meningkatkan kesabaran sekaligus kewaspadaan karena tantangan yang membentang di masa depan akan semakin masif. Kualitas dan pola pendekatan dari kepemimpinan nasional mutlak menjadi faktor penentu tunggal dari jalan keluar atas segala problematika yang sedang berlangsung saat ini.

Jika cara mengelola negara yang bertumpu pada gaya komando ini terus dipelihara tanpa adanya reformasi cara berpikir yang radikal, risiko kejatuhan bangsa akan semakin nyata. Profesor Ryaas Rasyid mengajak publik untuk tidak mengabaikan tanda-tanda krisis yang ada dan tetap mengawal arah kebijakan eksekutif secara kritis.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok




TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung