Repelita Moskow - Rusia kembali menunjukkan perannya dalam upaya meredakan ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dengan menawarkan solusi diplomatik berupa pengambilalihan uranium Iran yang telah diperkaya sebagai langkah mencegah eskalasi konflik.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengungkapkan bahwa tawaran tersebut sebenarnya telah diajukan beberapa waktu lalu, namun tidak mendapat respons positif dari pihak Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
Dalam keterangannya kepada India Today pada Rabu (15/4/2026), Peskov menyampaikan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin secara langsung mengajukan gagasan tersebut sebagai jalan keluar dari kebuntuan diplomatik.
Ia menyebut Putin menawarkan "solusi amat baik" yang diyakini dapat mengurangi ketegangan dan membangun kepercayaan antarnegara yang terlibat dalam konflik.
"Rusia siap menerima uranium yang diperkaya milik Iran di wilayahnya. Ini akan menjadi keputusan yang baik. Namun, sayangnya pihak Amerika menolak proposal ini," kata Peskov dilansir RIA Novosti.
Meski proposal itu ditolak oleh Washington, Rusia disebut masih membuka kemungkinan untuk kembali mengajukan opsi serupa apabila diminta oleh pihak-pihak terkait di kemudian hari.
Uranium yang telah diperkaya oleh Iran selama ini menjadi salah satu isu paling krusial dalam hubungan antara Washington dan Teheran.
Iran diketahui memiliki sekitar 450 kilogram uranium dengan tingkat pengayaan mencapai 60 persen yang tersimpan di fasilitas nuklir bawah tanah.
Amerika Serikat sejak lama mencurigai bahwa bahan tersebut berpotensi digunakan untuk pengembangan senjata nuklir, mengingat ambang batas pengayaan untuk tujuan militer mencapai 90 persen.
Kekhawatiran ini menjadi dasar tekanan Washington terhadap Teheran, yang kemudian dijadikan sebagai salah satu pembenaran utama serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
AS pun telah menuntut agar Iran menyerahkan uranium tersebut, baik secara sukarela maupun melalui langkah paksa.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth bahkan menyatakan dengan tegas bahwa Iran akan menyerahkan stok tersebut secara sukarela atau AS akan mengambilnya dengan cara-cara lainnya.
Namun, Iran menolak tuntutan tersebut dan hanya bersedia menurunkan tingkat pengayaan, sembari menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan untuk kepentingan sipil.
Menanggapi hal ini, Peskov juga menyinggung laporan dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Ia menyatakan bahwa lembaga tersebut tidak pernah menemukan bukti bahwa Iran tengah mengembangkan senjata nuklir seperti yang dituduhkan oleh AS.
Lebih lanjut, Peskov menilai tuduhan tersebut justru dijadikan alasan untuk membenarkan langkah agresif terhadap Iran.
"Tuduhan semacam itu digunakan sebagai dalih untuk agresi," tegas Peskov.
Dalam kesempatan yang sama, ia juga menepis isu keterlibatan Rusia dalam konflik militer yang melibatkan Iran dengan AS dan Israel.
"Rusia tidak ikut serta dalam hal ini. Ini bukanlah perang kami," ujar Peskov menegaskan.
Namun demikian, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Moskow memberikan bantuan militer kepada Iran dalam berbagai arah, tanpa merinci bentuk dukungan tersebut.
Utusan khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, sebelumnya mengatakan bahwa Presiden Putin secara pribadi telah meyakinkan Trump bahwa Rusia tidak berbagi informasi intelijen dengan Iran.
Rusia pertama kali mengajukan proposal serupa pada Juni 2025, namun tidak ada tindak lanjut, dan kembali diangkat pekan ini di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.
Seorang wakil menteri luar negeri Rusia tahun lalu menyatakan Moskow bersedia memindahkan pasokan uranium dari Iran dan mengubahnya menjadi bahan bakar reaktor sipil untuk membantu memfasilitasi negosiasi.
Situasi ini menunjukkan bahwa ketegangan antara negara-negara besar masih berlangsung, sementara upaya diplomasi terus menghadapi berbagai hambatan.
Rusia, dalam hal ini, mencoba memposisikan diri sebagai mediator, meskipun belum mendapatkan dukungan penuh dari pihak lain, terutama Amerika Serikat yang konsisten menolak keterlibatan Moskow dalam penyelesaian masalah nuklir Iran.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok