Repelita Teluk Persia - Rusia secara resmi mengonfirmasi pengerahan enam kapal selam, termasuk dua kapal bertenaga nuklir, di perairan strategis Selat Hormuz untuk sebuah misi rahasia melindungi infrastruktur vital Iran, mengirimkan pesan tegas kepada Amerika Serikat dan Israel bahwa wilayah itu kini menjadi zona terlarang.
Pengerahan kapal selam nuklir ini terjadi di saat ketegangan antara Teheran dan Washington mencapai titik didih, dengan Presiden AS Donald Trump memberikan tenggat waktu 10 hingga 15 hari bagi Iran untuk mencapai kesepakatan baru terkait program nuklirnya serta mengerahkan kapal induk raksasa USS Gerald R. Ford dan USS Abraham Lincoln ke perairan Timur Tengah.
ADVERTISEMENT
Kehadiran kapal selam nuklir Rusia mengubah lanskap kekuatan secara drastis karena setiap kapal perang AS atau Israel yang mendekat berisiko memicu insiden internasional yang bisa melibatkan Moskow secara langsung.
Selat Hormuz bukanlah sembarang selat karena hampir seperlima minyak global melewati jalur sempit selebar hanya 33 kilometer ini, sehingga jika selat ini menjadi medan perang maka harga minyak dunia akan meledak dan ekonomi global akan langsung tersendat.
Pengamat hubungan internasional Teuku Rezsyah menilai bahwa latihan perang antara Iran dan Rusia sebelumnya kemungkinan besar merupakan sebuah kamuflase untuk menutupi kegiatan strategis lain yang lebih terperinci dan tersembunyi, dan pengerahan kapal selam nuklir ini tampaknya adalah kegiatan tersembunyi yang dimaksud.
Laporan yang menjadi dasar artikel ini menyebutkan bahwa peran utama kapal selam Rusia adalah untuk mencegah Amerika Serikat dan Israel memasuki selat atau mendekati pantai Iran secara bebas.
Bagi Israel, ini adalah mimpi buruk karena selama ini Tel Aviv mengandalkan kebebasan bergerak di udara dan laut untuk menekan Teheran, namun kini langkah mereka bisa dihadang oleh kapal selam Rusia yang bahkan sulit dideteksi.
Di sisi lain, Iran sendiri terus mempersiapkan diri dengan memiliki rudal presisi tinggi yang mampu mengancam keberadaan kapal induk AS, sebagaimana dibuktikan dalam serangan Iran ke Israel tahun lalu.
Bagi Teheran, mempertahankan program nuklir bukan sekadar soal teknologi melainkan strategi bertahan hidup karena Iran belajar dari sejarah bahwa negara yang tidak memiliki kemampuan nuklir seperti Afghanistan dan Irak lebih rentan untuk diserang.
Kini dengan tambahan payung nuklir dari kapal selam Rusia, posisi tawar Iran semakin kuat di tengah perundingan tidak langsung dengan AS di Jenewa yang disebut berlangsung lebih konstruktif.
Perdana Menteri Polandia Donald Tusk bahkan telah mengimbau warganya di Iran untuk segera meninggalkan negara tersebut mengingat potensi konflik bersenjata yang dinilainya masih tinggi.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
Confirmed presence of a Russian nuclear submarine near the Strait of Hormuz.
— GBX (@GBX_Press) April 1, 2026
Moscow has officially deployed six submarines, including two nuclear ones, near the Strait of Hormuz for a discreet mission to protect Iranian infrastructure, according to reports. Their primary role is… pic.twitter.com/Y3eVK0Y4BS